TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Di tengah riuh sorak penonton di Jhiranakorn Stadium, seorang bocah kecil asal Sleman, DIY berdiri tegap di podium.
Tangannya yang mungil mengibarkan Merah Putih dengan penuh percaya diri. Namanya Kevin Furqoni atau yang akrab dijuluki Kevin Sigma Boy.
Dia baru berusia empat tahun, namun langkahnya sudah melintasi batas negeri.
Pada ajang Hat Yai Runbike M8 International 2026 yang digelar 4–5 Apri 2026, Kevin tak sekadar ikut meramaikan. Ia pulang sebagai juara.
Bahkan bukan satu, melainkan dua gelar sekaligus di kelas U4 Boys dan U4 Mix.
Di lintasan kecil itu, Kevin menaklukkan puluhan rider cilik dari berbagai negara, Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, hingga tuan rumah Thailand.
Di balik helm dan sepeda tanpa pedalnya, tersimpan perjalanan yang tak sederhana.
Sekitar 60 peserta turun di kategori usia 4 tahun, dan hanya empat di antaranya berasal dari Indonesia. Kevin menjadi yang terbaik.
Bagi sang ayah, Rezza Furqoni, kemenangan ini bukan sekadar trofi. Ini adalah pembuktian.
“Ajang ini salah satu yang bergengsi di Asia Tenggara. Membawa Merah Putih di podium tertinggi jelas kebanggaan,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Namun, jalan menuju podium itu tak selalu mulus. Kevin telah menekuni pushbike selama satu setengah tahun.
Hampir setiap hari, ia mengasah kemampuan di kawasan latihan sekitar DPRD Sleman, jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi.
Baca juga: PSS Sleman Kalah dari Barito Putera, Ansyari Lubis Soroti Hilangnya Fokus Pemain
Bahkan saat bulan Ramadan, ketika banyak anak seusianya lebih banyak beristirahat, Kevin tetap berlatih.
Waktu menuju lomba yang berdekatan dengan Lebaran membuat persiapan harus lebih disiplin.
Ia juga dibawa lebih awal ke Thailand, bukan sekadar untuk bertanding, tapi untuk beradaptasi dengan cuaca, dengan makanan, dengan suasana baru yang asing.
Ini memang kali pertama Kevin mencicipi kompetisi di luar negeri. Namun ia bukan tanpa pengalaman.
Pada November 2025, ia sudah mencicipi atmosfer internasional di Jakarta dan membawa pulang podium ketiga.
Sejak saat itu, semangatnya tak pernah padam.
Di bawah arahan pelatih Dhesy Hayu dan Totok Widianto, Kevin terus ditempa, bukan hanya soal teknik, tapi juga mental bertanding.
Kini, di usia yang bahkan belum genap lima tahun, Kevin telah menunjukkan bahwa mimpi bisa dimulai dari langkah kecil, bahkan dari sepeda tanpa pedal.
Dan di podium itu, saat bendera Merah Putih berkibar di tangan mungilnya, dunia seakan tahu, Indonesia punya harapan, bahkan dari seorang anak berusia empat tahun. (*)