Trump Peringatkan China soal Dugaan Kirim Senjata ke Iran, Sebut Ada Risiko Besar
Tommy Kurniawan April 12, 2026 06:04 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Laporan intelijen dari Amerika Serikat menyebutkan bahwa China diduga tengah bersiap mengirimkan sistem pertahanan udara ke Iran dalam waktu dekat.

Langkah tersebut dinilai memicu kontroversi, mengingat Beijing sebelumnya mengklaim turut mendorong tercapainya kesepakatan gencatan senjata.

Dalam laporan intelijen itu disebutkan: "China mengirimkan bantuan persenjataan kepada Iran dalam beberapa pekan mendatang, seiring dengan diadakannya gencatan senjata antara AS dengan Iran".

Informasi tersebut juga menyoroti potensi Iran memanfaatkan momentum gencatan senjata untuk memperkuat kembali kemampuan militernya dengan dukungan dari negara mitra.

Dugaan lain yang mencuat menyebut pengiriman senjata kemungkinan dilakukan melalui negara ketiga guna menyamarkan asal usulnya.

Mengutip laporan CNN, Minggu (12/4/2026), sistem yang disebut-sebut akan dikirim merupakan rudal anti-pesawat portabel atau MANPAD.

Jenis senjata ini dinilai berpotensi menjadi ancaman asimetris bagi pesawat militer AS yang terbang di ketinggian rendah.

Baca juga: Justin Bieber Buat Nostalgia di Coachella 2026, Bawakan Lagu Baby dan Favorite Girl

Trump Peringatkan China

Menanggapi isu tersebut, Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras kepada China.

“Jika China melakukan itu, China akan menghadapi masalah besar, oke?” ungkapnya, dikutip dari Reuters, Minggu (12/4/2026).

Dalam konferensi pers sebelumnya pada Senin (6/4/2026), Trump juga menyinggung insiden jatuhnya jet tempur F-15 di wilayah Iran yang diduga terkena rudal bahu genggam.

Pihak Iran sendiri mengklaim telah menggunakan sistem pertahanan udara terbaru, meski belum dipastikan apakah berasal dari China.

Sumber intelijen juga mengungkap adanya dugaan perusahaan-perusahaan China menjual teknologi dwiguna kepada Iran, yang memungkinkan negara tersebut meningkatkan kemampuan persenjataan dan sistem navigasi.

Di tengah dinamika tersebut, Trump dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada bulan depan.

Pihak Gedung Putih menyebut komunikasi tingkat tinggi antara AS dan China telah berlangsung, terutama saat proses negosiasi gencatan senjata Iran berjalan.

Salah satu sumber menyebut bahwa China dinilai tidak memiliki kepentingan strategis untuk terlibat secara terbuka dalam konflik.

Sebaliknya, Beijing disebut berupaya menjaga posisi sebagai mitra Iran sekaligus mempertahankan sikap netral untuk menghindari tekanan internasional.

China juga disebut berargumen bahwa sistem pertahanan udara bersifat defensif, berbeda dengan dukungan militer Rusia yang dinilai lebih ofensif.

Dalam konflik tersebut, Rusia disebut telah memberikan dukungan berupa berbagi intelijen kepada Iran, termasuk dalam membantu penargetan aset militer AS di kawasan Timur Tengah.

Hubungan militer dan ekonomi antara Iran, China, dan Rusia memang telah terjalin lama.

Iran diketahui turut membantu Rusia dalam perang di Ukraina, termasuk melalui penyediaan drone Shahed serta penjualan minyak yang dikenai sanksi kepada China.

China Bantah Tuduhan

Menanggapi tudingan tersebut, pihak Kedutaan Besar China di Washington membantah telah memasok senjata kepada pihak mana pun dalam konflik.

“China tidak pernah menyediakan senjata kepada pihak mana pun yang terlibat dalam konflik, informasi yang dimaksud tidak benar," jelas mereka.

“Sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China secara konsisten memenuhi kewajiban internasionalnya. Kami mendesak pihak AS untuk menahan diri dari membuat tuduhan tanpa dasar, membuat hubungan yang tidak berdasar, dan terlibat dalam sensasionalisme," tambahnya.

Pemerintah China juga menegaskan komitmennya untuk mendorong upaya deeskalasi dan mengurangi ketegangan di kawasan.

Juru bicara tersebut menambahkan bahwa sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas, Beijing terus berupaya mendorong terciptanya gencatan senjata dan penyelesaian damai.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.