PepsiCo-National Geographic Danai Riset Global, Soroti Inovasi Pertanian Berbasis AI di Indonesia
Dwi Rizki April 12, 2026 07:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - PepsiCo bersama National Geographic Society mengumumkan lima pendanaan riset pertanian terbaru guna mempercepat penerapan praktik pertanian regeneratif di berbagai negara.

Program ini menyasar pengembangan inovasi mulai dari revitalisasi padang rumput hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menerjemahkan temuan organisme tanah menjadi panduan praktis bagi petani.

Riset tersebut akan difokuskan pada tanaman pangan penting di wilayah produksi yang terdampak tekanan perubahan iklim. Para peneliti yang terlibat merupakan bagian dari komunitas National Geographic Explorers yang terseleksi dari proposal di 140 negara.

Salah satu proyek unggulan datang dari Indonesia melalui inisiatif LIFE (Inovasi Tanah untuk Pangan dan Pemberdayaan) yang digagas peneliti Al Greeny S Dewayanti.

Proyek ini mengembangkan sistem tumpang sari jagung dan sacha inchi, tanaman yang dikenal sebagai 'superfood' karena kandungan Omega 3, 6, dan 9 yang tinggi.

Melalui pendekatan berbasis teknologi, riset ini mengombinasikan analisis DNA tanah dengan aplikasi berbasis AI untuk memulihkan kualitas lahan sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

Chief Science and Innovation Officer National Geographic Society, Ian Miller menyampaikan, pendekatan tersebut kini diuji di kawasan Labuan Bajo dan diperkirakan mampu memenuhi hingga 80 persen kebutuhan pangan keluarga di wilayah tersebut.

Baca juga: Kemensos Jemput dan Rawat Lansia WNI Terlantar yang Dipulangkan dari Taiwan

“Untuk pertama kalinya, petani bisa memahami kondisi tanah mereka secara sederhana, bahkan seperti membaca ramalan cuaca,” ungkap Ian dalam siaran tertulis pada Minggu (112/4/2026).

Sampel tanah dianalisis menggunakan metode metabarcoding DNA untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang berperan dalam kesehatan tanah.

Hasil analisis ini kemudian diolah menjadi panduan praktis melalui aplikasi AI, seperti anjuran penggunaan kompos atau kesiapan lahan untuk ditanami.

Menariknya, proyek ini juga mendorong pemberdayaan perempuan.

Sebanyak 50 pionir perempuan terlibat dalam pengelolaan koperasi serta pengolahan sacha inchi menjadi produk bernilai tambah seperti minyak.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif 'Food for Tomorrow' yang diluncurkan pada 2025 sebagai kolaborasi antara PepsiCo dan National Geographic Society untuk mendorong transformasi sistem pangan global berbasis pertanian regeneratif.

Ian mengatakan pertanian regeneratif menjadi fokus baru yang penting dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan.

“Pertanian regeneratif berkaitan erat dengan perlindungan ekosistem, pemulihan lanskap, hingga pengurangan jejak karbon,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Sustainability Officer PepsiCo, Jim Andrew menekankan pentingnya dukungan berbasis sains bagi petani dalam menghadapi perubahan iklim.

“Petani hanya punya satu kesempatan setiap musim. Karena itu praktik berbasis ilmu pengetahuan sangat penting untuk memastikan keberhasilan panen,” katanya.

PepsiCo sendiri menargetkan penerapan praktik pertanian regeneratif di lahan seluas 10 juta hektare secara global pada 2030.

Melalui program ini, para peneliti akan melakukan uji coba langsung di lapangan selama dua tahun ke depan, dengan fokus pada berbagai komoditas seperti gandum, jagung, kentang, kedelai, hingga kopi.

Selain penelitian, program ini juga akan menghadirkan kampanye edukasi, pameran multimedia, serta dokumentasi kisah petani dari berbagai negara yang tengah bertransformasi menuju sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.