Riset Internasional Soroti Indonesia sebagai Pusat Inovasi Pertanian Berbasis AI
Glery Lazuardi April 12, 2026 07:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah riset internasional yang melibatkan PepsiCo bersama National Geographic Society menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat perhatian dalam pengembangan pertanian regeneratif berbasis kecerdasan buatan (AI).

Studi tersebut menilai inovasi pertanian di Indonesia mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan melalui pendekatan teknologi dan pemulihan ekosistem tanah.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif global Food for Tomorrow, yang berfokus pada ketahanan tanah serta dukungan bagi petani melalui solusi berbasis sains.

Penelitian dilakukan di empat negara, termasuk Indonesia, dengan fokus pada komoditas pangan di wilayah yang terdampak perubahan iklim.

Salah satu proyek unggulan di Indonesia adalah LIFE (Land Innovation for Food & Empowerment) yang dipimpin oleh Al Greeny S. Dewayanti.

Proyek ini mengembangkan sistem pertanian regeneratif berbasis AI melalui pola tumpang sari jagung dan sacha inchi, tanaman bernilai gizi tinggi yang dikenal sebagai superfood.

Dengan memanfaatkan analisis DNA tanah dan aplikasi berbasis AI, sistem ini membantu petani memahami kondisi lahan serta memberikan rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat dan praktis.

“Bagi banyak petani, kesehatan tanah tidak terlihat. Tujuan kami adalah membuat sains lebih mudah diakses agar petani dapat mengambil keputusan yang tepat,” ujar Al Greeny.

Proyek ini juga telah diuji di Labuan Bajo dengan hasil yang menjanjikan, yakni mampu memenuhi hingga 80 persen kebutuhan pangan keluarga melalui sistem multi-crop.

Tak hanya itu, program ini juga mendorong pemberdayaan perempuan melalui 50 pionir yang mengelola koperasi dan produk turunan sacha inchi, sehingga memberikan dampak ekonomi sekaligus sosial di tingkat lokal.

Peneliti Ian Miller menyebut pertanian regeneratif sebagai strategi penting dalam menghadapi krisis iklim global.

Sementara Jim Andrew menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam membantu petani beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Program Food for Tomorrow sendiri diluncurkan pada 2025 sebagai kolaborasi global untuk mendorong transformasi sistem pangan. Selain Indonesia, riset ini juga dilakukan di Spanyol, Ethiopia, dan Amerika Serikat dengan berbagai komoditas seperti gandum, kopi, kentang, dan kedelai.

Dalam dua tahun ke depan, hasil penelitian ini akan terus dikembangkan dan dipublikasikan melalui pameran, kampanye sosial, serta publikasi ilmiah guna mendorong terciptanya sistem pangan global yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: Kumur Ruslin dan Hilirisasi Riset

Petani Klaim Era Prabowo Subianto Bawa Dampak Nyata

Pernyataan akademisi Feri Amsari yang meragukan capaian swasembada pangan di era Presiden Prabowo Subiantomenuai bantahan luas dari masyarakat, khususnya para petani dan warganet di media sosial.

Sejumlah komentar publik menilai tudingan tersebut tidak berdasar karena dinilai mengaburkan data resmi pemerintah serta tidak mencerminkan kondisi riil yang dirasakan petani di lapangan.

Feri sebelumnya mempertanyakan klaim swasembada pangan dan menilai penghentian impor beras sebagai hal yang tidak masuk akal. Namun, narasi itu langsung mendapat respons dari berbagai akun media sosial, salah satunya akun TikTok @izin_berpendapat.

“Bukan 2026 kita swasembada pangan itu mulai tahun 2025, jadi tolonglah kalau mau cari data atau kalau mau bohong yang lebih rapi sedikit,” ujar akun tersebut.

Akun itu juga membantah klaim terkait penyusutan lahan sawah. Berdasarkan data yang disampaikan, luas panen padi nasional justru mengalami peningkatan signifikan.

“Luas panen padi kita pada 2024 itu 10,05 juta hektare. Di 2025 ketika kita swasembada beras, angkanya naik 12,69 persen menjadi 11,32 juta hektare,” lanjutnya.

Keberhasilan swasembada, menurut warganet, tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau teknologi, tetapi juga kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Salah satu faktor utama adalah kebijakan pembelian gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram yang dinilai mampu mendorong produksi.

“Program utama itu membeli mahal gabah dari petani. Efeknya petani lebih termotivasi, produksinya naik, dan kesejahteraan meningkat,” jelas akun tersebut.

Bahkan, keberhasilan Indonesia menghentikan impor beras disebut berdampak pada pasar global dan mendapat pengakuan internasional, termasuk dari Food and Agriculture Organization.

“FAO mengakui swasembada beras Indonesia. Gara-gara Indonesia stop impor, harga beras dunia turun,” ungkapnya.

Di sisi lain, sejumlah petani dari berbagai daerah juga menyampaikan pengalaman langsung mereka melalui kolom komentar. Mereka mengaku merasakan peningkatan harga gabah serta kemudahan akses pupuk subsidi.

“Saya petani, sekarang lebih diperhatikan pemerintah. Harga gabah naik, pupuk lebih mudah didapat,” tulis salah satu warganet.

Polemik ini mencerminkan perbedaan pandangan antara kalangan akademisi dan masyarakat di lapangan, terutama terkait efektivitas kebijakan pangan pemerintah. Namun, suara petani yang merasakan langsung dampaknya menjadi sorotan penting dalam perdebatan tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.