Melting Pot Blok M dan Aura Vibes Positif
Rustam Aji April 12, 2026 08:07 PM

Khafid Sirotudin

Ketua LP UMKM PW Muhammadiyah Jateng 2022-2027

TRIBUNBANYUMAS.COM - Empat pelajar SMA berseragam Pramuka terlihat asik berdiskusi di salah satu sudut ruangan. Mereka terlihat sersan, serius tapi santai. 

Nampak dari gestur wajah mereka yang sesekali diselingi tertawa renyah. Satu diantaranya, seorang pelajar putri sedang memainkan keyboard notebook sambil menyahut obrolan ketiga rekannya.

Rupanya mereka sedang mengerjakan tugas kelompok dan merasa tidak terganggu dengan kehadiran saya yang melihat-lihat buku pada rak di dekatnya.

Pada ruang co working-space terdapat beberapa meja besar,  dilengkapi kursi dengan sandaran yang dapat berputar, colokan daya listrik serta Wifi high-speed.

Terlihat juga puluhan perempuan pekerja dan mahasiswi sedang fokus dengan laptop di depannya. Beberapa diantaranya sedang melakukan meeting OL (On-Line), memakai head-set atau blue-tooth receiver. Satu dua orang nampak sedang mengetik sambil video call dan melakukan DM (Direct Message).

Saya sempat masuk kedai Kopi Aloo yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Gramedia Jalma. Pengunjung tinggal memilih tempat duduk buat ngopi sesuai selera, sambil nongki dan diskusi.

20260412-pramuka-blok m
BERDISKUSI - Empat pelajar SMA berseragam Pramuka terlihat asik berdiskusi di salah satu sudut ruangan di Blok M.

Ruang dalam kedai ber-AC Non Smoking room, sementara di teras luar cocok bagi pengunjung yang “demen” merokok.

Seorang wanita berkerudung terlihat duduk santai ditemani secangkir kopi, notebook menyala, sambil nge-vape dan sesekali memandang ke atas. Menandakan dia sedang memikirkan sebuah ide yang belum ketemu.

Baca juga: Cuaca Ekstrem Terjang Semarang: Empat Rumah Rusak, Longsor di Ngaliyan Timpa Hunian Warga

Vibes Positif

Vibes –bahasa gaul– bermakna suasana, energi, aura atau kesan yang dirasakan dari suatu lokasi, tempat, situasi, seseorang atau komunitas.

Vibes, berasal dari bahasa Inggris vibration, menggambarkan perasaan instingtif dan intuitif atas respon inderawi terhadap lingkungan sekitar tanpa bisa dijelaskan melalui indikator statistik-kuantitatif atau dijelaskan secara detail kualitatif. Vibes bisa positif maupun negatif. 

Vibes positif bisa berupa energi positif dan suasana yang menyenangkan, menggembirakan dan membahagiakan bagi seseorang.

Vibes negatif membuat suasana seseorang yang hadir terasa tidak aman, tidak nyaman, terasa aneh atau memancarkan aura negatif. Boleh jadi bagi seseorang datang di suatu tempat dapat memancarkan vibes positif atau negatif.

Tergantung situasi dan kondisi, jangkauan dan pantauan, kebiasaan dan perilaku sosial lain yang lebih bersifat personal.

Bagi seorang pengutil atau pengidap kleptomania, sebuah lokasi terang benderang dengan puluhan CCTV akan memancarkan vibes negatif baginya.

Namun sebaliknya, memancarkan vibes positif bagi mereka yang membutuhkan keamanan, kenyamanan dan ketidak-kuatiran beraktivitas di suatu tempat.

Vibes hadir beriringan dengan budaya dan peradaban suatu komunitas, kelompok dan organisasi, hasil interaksi sosial manusia yang berada di dalamnya.

Kami pertama kali mendatangi Gramedia Jalma Blok M Jakarta, Rabu 1 April 2026. Lokasinya berada di pinggir “gang viral” di depan Blok M Square. Kami menangkap kesan kuat tempat ini sebagai melting pot.

Baca juga: Hujan Deras Picu Longsor di Cimanggu Cilacap: Jalan Desa Sempat Lumpuh, Tiga Rumah Terancam

Dimana toko buku Gramedia yang sempat redup, sengaja dikonsep ulang dan terpadu sebagai reading pod untuk berbagai kelompok umur (anak-anak, remaja, dewasa), co-working space, sarana prasarana yang estetik kekinian, dilengkapi kedai kopi, serta memiliki banyak sudut ruang yang bisa dijadikan tempat membuat berbagai konten kreatif.

Gramedia Jalma menjelma menjadi melting pot bagi para pecinta buku, pegiat literasi, pelajar dan mahasiswa, pengarang dan pencipta, anak-anak dan orang tua, ruang cipta ide dan gagasan, serta membangun jejaring komunitas kreatif di Jakarta. 

Sebuah “ruang asimetris” manakala dibandingkan puluhan toko dan lapak buku yang menempati salah satu lantai basement Blok M Square. Mengingatkan saya lagu “JJS Lintas Melawai” nya Harry Moekti, dan menjadi anggota komunitas Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) ketika kuliah di IESP FE Undip Semarang (1987-1996).

Saya sering datang ke toko buku Gramedia hanya untuk sekedar mengupdate judul buku yang baru terbit. Jika bermaksud membeli buku, kami memilih datang ke Pasar Johar Semarang atau Shopping Center Yogyakarta. Sebabnya, ada diskon 20-30 persen dari harga jual buku (tergantung penerbit), termasuk buku terbitan Gramedia Pustaka Utama.

Dahulu, Gedung Sarinah hadir sebagai “Pasar Modern” pertama di Indonesia yang digagas Presiden Soekarno dan diresmikan pada 15 Agustus 1966.

Menyusul kemudian Aldiron Plaza (1978) sebagai pengembangan bangunan “pasar tradisional” lama Pasar Melawai. Penataan resmi kawasan Blok M dilakukan pada masa Gubernur Ali Sadikin.

Menghasilkan bangunan Blok M Square tahun 2008 (perubahan nama Aldiron Plaza, 1978) dan Plaza Blok M (1990). 

Sebagai pengurus APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) Jawa Tengah, saya menilai moda transportasi umum terpadu (MRT, KRL, Trans Jakarta), beserta stasiun dan sub terminal di kawasan ini sangatlah menarik.

Membuat masyarakat menjadi mudah dan murah membayar ongkos transportasi. Sebuah kebijakan yang seringkali dilalaikan Pemerintah Daerah dalam mengembangkan pasar rakyat (dh. pasar tradisional). 

Berapa banyak pasar rakyat terbakar (atau “dibakar”), lalu dibongkar dan dibangun proyek baru berupa pasar modern. Setidaknya terlihat modern dari model dan bentuk luar bangunan fisiknya.

Namun, kurang atau abai memikirkan bagaimana membuat kebijakan yang positif dan produktif untuk mempertahankan dan merawat bangunan pasar lama.

Baca juga: Nasib 1.106 PPPK Paruh Waktu Aman, Pemkab Kendal Siapkan Solusi Aturan UU HKPD

Juga mengembangkan tata ruang kawasan pasar, melatih dan mengembangkan SDM pedagang, membangun sarana prasarana moda transportasi umum yang terintegrasi, serta akses permodalan yang mudah dan murah.  

Revitalisasi pasar di kawasan Blok M dapat dijadikan contoh, terutama bagi Kepala Daerah yang pada saat kampanye mendengungkan narasi dan janji kampanye pro ekonomi rakyat, pro pedagang pasar dan pelaku UMKM.

Terdapat sesanti yang jarang dipahami penguasa lokal dalam membangun pasar rakyat. Yaitu: “Pemerintah Daerah dapat membangun pasar bahkan bisa memaksa para pedagang berjualan di bangunan pasar yang dibangunnya.

Tetapi Pemda tidak akan pernah bisa mengatur masyarakat dan konsumen untuk datang berbelanja di pasar tradisional dan modern yang dibangunnya”. 

Ada beberapa faktor yang membentuk ekosistem pasar tradisional dan modern, yaitu historis dan peradaban, ekonomi dan sosial budaya yang melingkupi (local wisdom), keyakinan dan “pulung”, interaksi sosial dan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi.

Sepasang pedagang pasar mampu melahirkan banyak anak menjadi anggota legislatif dan eksekutif, direktur dan gubernur, polisi dan akademisi, birokrat dan teknokrat, pejabat dan ustad. Tetapi seorang atau sepasang kalangan profesional tersebut belum tentu mampu melahirkan seorang pedagang pasar.   

Pada era digital sekarang, konsep Gramedia Jalma –sebagai bagian dari ekosistem ekonomi pasar rakyat– patut ditiru dan dikembangkan para pedagang buku, kitab dan bahan bacaan.

Bisa dibangun melalui kolaborasi paguyuban atau koperasi pedagang sejenis, apabila merasa tidak mampu membangun sendirian. Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota dapat memfasilitasi sarana prasarana yang dibutuhkan disertai kebijakan yang memihak dan berdampak.

Baca juga: Miris! Curi Motor di Pos Ronda Pringapus, Pria Asal Demak Libatkan Anak Kandung yang Masih Pelajar

Konsep Melting-pot sebagaimana Gramedia Jalma terbukti sangat efektif menggaet konsumen dari kalangan wisatawan nusantara, pegiat literasi, generasi milenial, Gen-Z dan Alpha.

Sebuah generasi hasil bonus demografi yang harus dirawat dan dijaga sebagai entitas kunci kemajuan peradaban Indonesia pada masa mendatang.

Di tengah kekhawatiran banyak orang tua dalam menjaga anak-anak dan remaja agar tidak terjerat judi online, pinjol, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas tanpa batas serta berbuat kriminal.

Tidak terasa 2,5 jam saya singgah di melting pot ini. Tidak lupa saya membeli sebuah buku terjemahan “On The Jewish Question” karya Karl Marx, yang baru terbit Oktober 2025 lalu. Buat bahan bacaan di perjalanan darat sepulang dari Jakarta.

Meskipun teknologi AI (Akal Imitasi) telah dan sedang berkembang pesat tetapi kami meyakini secara pasti bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan AM (Akal Manusia) buatan Tuhan.

Menurut suwargi BJ. Habibie (1995), andaikan otak manusia bisa digantikan chip termutakhir maka dibutuhkan chip selebar 2 kali luas bumi. Itupun tidak akan pernah mampu menggantikan hidayah cipta, karsa dan rasa kemanusiaan kita.

Wallahu’alam

Pagersari, Weleri-Kendal, 2 April 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.