Platform Marketplace Terlalu Memanjakan Pembeli, Pedagang Online Rugi
Zainuddin April 12, 2026 08:35 PM

 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Suara riuh para pegawai berpadu dengan sapaan ramah terdengar bersahutan dari dalam toko di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (12/4).

Lampu ring light menyala terang, dan seorang pegawai berdiri di depan kamera ponsel, tersenyum lebar sambil mengangkat sehelai gamis berwarna pastel.

"Ini best seller, kak! Bahannya adem dan nyaman banget dipakai," ujar pegawai itu di depan kamera yang dipasang di toko Oliviamo.id milik Olivia Monica.

Di ruangan lain, beberapa pegawai tampak sibuk melipat pakaian dengan rapi, menyusun gamis berdasarkan warna dan ukuran.

Rak-rak penuh busana gamis berjejer. Tumpukan kardus di sudut ruangan itu menandakan betapa tingginya arus transaksi yang keluar-masuk di toko tersebut.

Olivia mengatakan tantangan jualan online semakin tidak mudah. Penyedia platform sering kali membuat aturan yang sangat memberatkan penjual.

"Kalau dilihat dari luar, jualan online itu memang kelihatan ramai dan hidup. Tapi sebenarnya sekarang jualan online itu semakin berat," ujar Olivia kepada SURYAMALANG.COM.

Olivia mencontohkan kebijakan baru terkait sistem pembayaran Cash on Delivery (COD) yang akan segera diberlakukan dalam waktu dekat. Selama ini banyak barang yang dikembalikan itu bukan karena kesalahan penjual.

"Sering sekali barang dikembalikan karena alasannya ditolak di aplikasi atau tidak ada respons dari customer. Padahal sebenarnya barangnya tidak pernah diantar," terangnya.

Penjual pun terbebani setiap barang yang gagal sampai ke tangan pembeli. "Kalau COD ditolak, kami kena biaya Rp 10.000 per barang. Padahal itu bukan kesalahan kami," urainya.

Dalam masa sebelum Lebaran kemarin, ada pengembalian barang yang mencapai 50 item. "Kalau barang yang ditolak itu sampai satu karung per hari, kerugiannya bisa sampai jutaan Rupiah sebulan," lanjutnya.

Masalah lainnya  datang dari sistem pengembalian barang atau return. Dulu barang yang akan dikembalikan harus ada verifikasi yang melibatkan penjual. Kini, semuanya berjalan otomatis, dan dikendalikan sepenuhnya oleh penyedia platform.

"Sekarang pembeli bisa langsung return tanpa konfirmasi ke kami. Barang langsung dikirim balik, dan penyedia platform langsung memotong dananya," jelasnya.

Tak jarang alasan pengembalian tidak logis. Tanpa dialog dengan pembeli, Olivia pun terpaksa menerima kembali barangnya, dan harus membayar biaya transportasi.

"Ada pembeli yang komplain warna 'yellow butter' tapi katanya yang dikirim kuning. Padahal itu memang kuning," imbuhnya.

Lebih parah lagi, ada barang yang dikembalikan tidak sesuai dengan barang yang dikirim. Ada juga barang dikembalikan setelah dipakai selama seminggu.

Menurut Olivia, aturan terbaru memungkinkan pembeli dapat mengembalikan barang maksimal tujuh hari setelah menerima barang.

"Isinya juga bisa diganti. Seharusnya baju, tapi yang kembali malah barang lain. Itu tetap disetujui sistem," ujarnya.

Kondisi ini menciptakan ketimpangan antara penjual dan platform. Menurut Olivia, hubungan antara penjual dan platform kini terasa seperti 'pekerja' daripada mitra.

"Kalau mitra itu seharusnya setara. Tapi ini tidak, semua aturan dibuat sepihak dan cenderung menekan penjual," imbuhnya.

Olivia menilai platform terlalu memanjakan pembeli. Bahkan untuk sekadar mendapatkan visibilitas, penjual harus mengeluarkan biaya tambahan.

"Kalau tidak iklan, toko kita seperti ditutup. Tidak ada yang lihat live, dan tidak ada yang lihat produk," tambahnya.

Di tengah tekanan tersebut, Olivia mulai mempertimbangkan membuka toko offline. Bukan karena ingin meninggalkan dunia digital sepenuhnya, tetapi sebagai upaya mencari keseimbangan.

"Offline itu lebih jelas. Pembeli datang, lihat barang, pegang langsung, dan tidak ada drama return yang aneh-aneh," ujarnya.

Sebaliknya, pengusaha tanaman hias asal Kota Batu, Ivan merasa beruntung bisa jualan di marketplace. Ivan tidak pernah mengalami kejadian tak mengenakan selama menjual tanaman hias di marketplace.

Pembeli tanaman hiasnya tidak hanya dari dalam negeri saja, namun juga sampai Eropa. Menurutnya, pembeli dari Malaysia lebih suka tanaman anthurium, pembeli dari Jepang biasanya membeli agave, kalau Tiongkok minta tanaman Platycerium.

Menurutnya, menggeluti usaha tanaman hias memiliki risiko besar ketika dikirim ke luar kota maupun luar negeri. Ivan selalu selalu memilih menggunakan jasa pengiriman barang yang terpercaya. "Kalau kirim ke luar negeri itu butuh waktu antara 7-10 hari," kata Ivan. (Benni Indo/Dya Ayu)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.