Netanyahu Didesak Dimakzulkan Usai Buat Israel Berantakan
Desy Selviany April 12, 2026 08:36 PM

TRIBUNDEPOK - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu didesak agar dimakzulkan usai perang Iran berakhir. 

Desakan itu disampaikan oposisi Netanyahu, Yair Golan pada Sabtu (11/4/2026). 

Yair Golan mendesak agar rakyat Israel memakzulkan Netanyahu karena membuat Israel berantakan usai digempur Iran. 

Belum lagi kasus korupsi yang menjerat Netanyahu masih terkatung-katung di Pengadilan Israel. 

Menurutnya, gencatan senjata pekan lalu membuktikan bahwa Netanyahu telah gagal membawa Israel mencapai tujuan. 

Klaim-klaim kemenangan yang disampaikan Netanyahu menurut Golan sebagai bukti bahwa pemimpin diktator itu telah kalah dalam perang 44 hari ini. 

"Netanyahu berada di bawah tekanan, karena ia tahu bahwa tujuan perang belum tercapai," 

"Ketika kita menang dan menentukan, kita tidak perlu setiap beberapa hari menyatakan bahwa kita telah menang dan memutuskan," kata Golan. 

Oleh karena itu Golan mendesak agar Netanyahu segera dimakzulkan dari kursi Perdana Menteri Israel. 

"Sudah saatnya untuk mengirim dia dan pemerintahannya pulang," pesannya. 

Menurutnya, warga Israel berhak kembali ke situasi stabil seperti semula dan jauh lebih waras ketimbang saat ini. 

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan politik di dalam negeri. 

Ia dijadwalkan kembali menjalani sidang kasus korupsi pada Minggu (12/4/2026).
 
Dikutip dari Jerusalem Post, para pemimpin oposisi Israel menilai Netanyahu gagal mencapai tujuan perang setelah gencatan senjata dengan Iran diberlakukan. 

Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menyatakan tujuan perang yang sebelumnya diumumkan belum tercapai. 

Menurut Bennett, Netanyahu telah menyesatkan publik mengenai hasil yang dapat dicapai dalam konflik tersebut. 

Pemimpin Partai Demokrat Israel Yair Golan juga menilai Netanyahu seharusnya mengakui kegagalan strategi perang dan segera mengundurkan diri setelah gencatan senjata diumumkan.

Baca juga: Wapres AS dan Iran Ungkap Perkembangan Terkini Negosiasi Gencatan Senjata

Media Al Jazeera melaporkan sidang korupsi Netanyahu kembali dilanjutkan setelah Israel mencabut status darurat nasional menyusul gencatan senjata dengan Iran. 

Kasus tersebut sebenarnya telah lama bergulir sejak 2019. 

Netanyahu dituduh melakukan penyuapan dan penipuan, namun ia terus membantah seluruh tuduhan tersebut. 

Salah satu tuduhan menyebut Netanyahu memberikan kebijakan regulasi senilai 1,8 miliar shekel atau sekitar Rp8,3 triliun kepada perusahaan Bezeq Telecom Israel.

Selain itu, ia dan istrinya diduga menerima hadiah tidak sah senilai hampir 700.000 shekel atau sekitar Rp3,5 miliar dari produser Hollywood Arnon Milchan serta miliarder Australia James Packer. 

Sidang kasus ini sempat beberapa kali ditunda karena Israel terlibat konflik bersenjata melawan Hamas dan Iran. 

Jika terbukti bersalah, Netanyahu berpotensi menghadapi hukuman penjara. 

Sebelumnya, pada 2014, mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert juga pernah dipenjara setelah terbukti menerima suap terkait proyek real estate di Yerusalem saat menjabat wali kota sebelum menjadi perdana menteri pada 2006. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.