Kolom Teropong, Bandel
Abdul Azis Alimuddin April 13, 2026 01:22 AM

Abdul Gafar
Pendidik di Departemem Ilmu Komunikasi Unhas Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Salah satu bentuk penyimpangan dari sifat atau perilaku adalah sebutan bandel.

Hal ini terjadi karena yang bersangkutan termasuk manusia yang keras kepala atau kepala batu.

Orang yang memiliki sifat atau sikap bandel susah diatur.

Hanya maunya saja yang jadi.

Orang lain tidak dianggap, diacuhkan, atau diabaikan.

Orang bandel terkadang berbuat di luar kebiasaan orang banyak.

Ketika banyak orang masih berpikir keras, si bandel malah langsung bertindak.

Risiko urusan belakang.

Baca juga: Panik

Nanti dihitung ulang akibatnya.

Perilaku ini membuat negara dan rakyat dapat menderita.

Kenyataan ini dapat kita saksikan di negeri kita yang tercinta.

Mereka yang banyak bergentayangan di semua level posisi dan jabatan.

Seragamnyapun berbeda-beda antara satu dengan lainnya.

Diperkaya dengan emblem atau lencana yang terpasang di dada dan lengannya.

Di negeri ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak henti-hentinya melakukan penangkapan terhadap para pelaku korupsi.

Jejeran pejabat menjadi target operasi KPK.

Mereka -para koruptor- tidak pernah jera alias bandel dengan segala aturan yang ada.

Dengan segala kecermatan, aturan itu dilanggar dengan sengaja.

Negeri ini dikuasai para bandel sekaligus bandit.

Bandit yang mulai dari kelas kere hingga kelas kakap menghancurkan negeri ini.

Kerakusan mereka terstruktur secara terencana.

Permainan mereka terlihat ‘halus’ hingga agak sukar terdeteksi.

Kebandelan para bandit ini karena sanksi hukum yang mudah diterobos.

Orang yang jelas-jelas sudah divonis bersalah oleh hakim namun belum dapat ditahan.

Pelecehan terhadap kewenangan hakim.

Keputusan hakim tampaknya tidak bertaring.

Menekan kebandelan harus diikuti adanya sanksi yang tegas sekaligus keras.

Jangan sekali-kali hukum mudah ‘dimainkan’ oleh keuangan dan kekuasaan yang mahakuasa.

Seharusnya Integritas dan Kredibilitas Aparat Penegak Hukum tidak mudah goyah oleh terkaman ‘penguasa + pengusaha’.

Jangan sampai hanya memikirkan ‘isi tas’ untuk kebutuhan anak-istri di rumah.

Isu yang tetap menarik hingga hari ini adalah ‘kebandelan ijazah’ yang diperdebatkan.

Mencari keaslian atau kepalsuan sama sulitnya.

Ratusan saksi dan ahli telah ditampilkan di depan pengadilan.

Pemanfaatan laboratorium forensik Polri pun meneliti ‘keaslian’ sang ijazah masih menuai polemik dan kontroversi.

Para pengkritik pun mulai ‘goyah’ memberikan kesaksiannya.

Rismon Sianipar yang konon mengaku ahli forensik digital mengaku ‘salah’ dengan hasil penelitiannya menyangkut ijazah Jokowi.

Sebelumnya juga ‘mundur teratur ’ Eggi Sudjana serta Damai Hari Lubis dalam kasus ijazah Jokowi.

Mereka telah sowan ke Solo meminta maaf.

Restorative Justice pun diajukan agar persoalan selesai.

Dahulu dikenal 3 serangkai Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan dr Tyfa.

Kini tinggal 2 yakni Roy Suryo dan dr. Tyfa masih kokoh bertahan.

Siapakah yang termasuk bandel?

Apakah Roy Suryo dan dr. Tyfa ataukah pemegang ijazah yang dipersoalkan keasliannya?

Sikap bandel ini tidak saja di Indonesia terjadi.

Di sana, Amerika Serikat bersama Israel menunjukkan sikap bandel.

Mereka memerangi Iran dengan semena-mena.

Gencatan senjata dengan mudah dilanggar. Perjanjian ternyata diingkari.

Dasar Bandel.

Bandit kelas 1 di Dunia.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.