Akses Gereja Oikumene USU Ditutup Sepihak, Jemaat Bongkar Paksa Pintu Masuk Agar Bisa Beribadah
Randy P.F Hutagaol April 13, 2026 01:27 AM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ratusan jemaat Gereja Oikoumene (Chapel USU) yang berlokasi di Jalan Dr. Sumarsono, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, membongkar paksa penutupan gereja yang dilakukan oleh sejumlah oknum, termasuk seorang anggota DPRD Sumatera Utara berinisial TS, Minggu (12/4/2026). 

Penutupan sepihak tersebut memicu reaksi kemarahan dari jemaat yang telah puluhan tahun beribadah di gereja tersebut. 

Lusiana Br Simbolon, salah satu Penatua Gereja Oikoumene, menjelaskan bahwa tindakan pembongkaran dilakukan karena jemaat merasa hak mereka untuk beribadah telah dirampas.

Menurutnya, penutupan gereja dilakukan secara tiba-tiba tanpa musyawarah. Para oknum yang disebutnya antara lain TB, TS (anggota DPRD Sumut dari Partai Nasdem), dan RM, secara beramai-ramai menutup akses gereja dengan alasan renovasi atau revitalisasi.

"Penutupan sepihak, benar-benar. Mereka bilang mau renovasi. Tapi sepanjang saya melakukan pekerjaan renovasi di sini, tidak pernah yang namanya kita menutup ibadah. Kita lakukan renovasi Senin sampai Sabtu. Hari Minggu ibadah, karena kita harus memuji Tuhan," tegas Lusiana ditemui di lokasi.

Lusiana menyesalkan tindakan tersebut, terlebih karena salah satu oknum diketahui sebagai anggota dewan yang seharusnya memberi contoh baik dan memediasi persoalan secara dewasa. 

"Yang seharusnya sebagai rakyat melakukan yang benar, bukan menutup gereja. Mereka orang-orang dengan tingkat pendidikan tinggi dan duduk di pemerintahan, seharusnya memediasi dengan baik," ujarnya.

Lusiana mengungkapkan bahwa konflik ini bermula dari masalah periode kepengurusan jemaat. 

Seharusnya, proses pemilihan majelis jemaat yang baru dilakukan secara terbuka melalui mediasi PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia). Namun, oknum tersebut justru melakukan pemilihan secara tertutup tanpa melibatkan jemaat.

"Mereka sudah melakukannya secara tertutup, tidak melibatkan jemaat. Diduga pada hari Rabu (8/4/2026), terjadi pemilihan majelis jemaat yang baru secara sepihak," ungkap Lusiana.

Ia juga menyoroti sikap kontradiktif para oknum tersebut. Di satu sisi mereka menerima persembahan perpuluhan dari jemaat, tetapi di sisi lain mereka tidak mengakui Oikoumene sebagai gereja, melainkan hanya sebagai persekutuan. 

"Kalau persekutuan, tidak ada ibadah, tidak ada kutipan kolekte, tidak menjalankan baptisan. Ini gereja," tegasnya.

Lusiana menegaskan bahwa selama 20 tahun keberadaan chapel ini, tidak pernah ada riak masalah berarti. 

Gereja dalam kondisi layak, dan setiap ada kerusakan kecil, pihaknya selalu memperbaiki tanpa pernah menutup ibadah Minggu.

"Gereja ini bagus. Kalau pun ada kebocoran sedikit, ada yang goyang, kami selalu siap sedia," katanya.

Dengan pembongkaran yang dilakukan jemaat, Lusiana memastikan bahwa ibadah akan tetap berlangsung di Gereja Oikoumene pada Minggu-minggu berikutnya. 

"Puji Tuhan, dengan kebaikan Tuhan, gereja ini bisa dibuka kembali. Minggu depan dan seterusnya akan tetap beribadah di sini. Gereja harus tetap berjaya, harus tetap melakukan pelayanan di tempat ini." tuturnya. 

Lusiana berharap persoalan ini tidak berlanjut ke ranah hukum. Menurutnya, duduk bersama secara kekeluargaan adalah jalan terbaik.

"Sebenarnya kalau kita duduk bersama-sama, saya rasa tidak perlu lapor polisi. Tapi kalau ada tindakan lagi yang berusaha menutup gereja ini atau membuat wacana lain, kita tidak tahu. Biarlah Tuhan yang mengatur," katanya.

Ia juga mengimbau semua pihak, khususnya umat Kristen, untuk tidak saling menutup ruang ibadah. 

"Masa orang Kristen sendiri melakukan penutupan ibadah dengan alasan renovasi? Di gereja manapun, renovasi dilakukan Senin sampai Sabtu, dan ibadah tetap dibuka di hari Minggu." ungkapnya. 


(cr9/Tribun-medan.com) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.