Israel Terus Menyerang Lebanon, Legislator PAN Desak PBB Ambil Tindakan Tegas
Acos Abdul Qodir April 13, 2026 01:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas memicu reaksi keras dari parlemen Indonesia. Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Slamet Ariyadi, mengecam keras serangan udara militer Israel yang terus menghantam wilayah Lebanon, termasuk ibu kota Beirut.

Slamet mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengambil langkah konkret guna menghentikan agresi yang mengancam stabilitas keamanan global tersebut.

Menurut Slamet, perlindungan terhadap warga sipil dan infrastruktur vital harus menjadi prioritas utama sesuai dengan hukum humaniter internasional.

Ia menilai, serangan masif yang terjadi sejak Sabtu (11/4/2026) tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan di kawasan tersebut.

"Atas nama masyarakat Indonesia, kami mengutuk keras serangan Israel ke Lebanon dan meminta PBB bertindak tegas untuk menghentikan serangan ini," ujar Slamet kepada wartawan, Minggu (12/4/2026).

Politisi PAN ini memperingatkan bahwa jika agresi ini terus berlanjut tanpa intervensi diplomatik yang kuat, dampaknya akan meluas dan menghambat seluruh proses perdamaian di Timur Tengah.

"Apabila serangan ini terus berlanjut, maka dampaknya meluas ke ranah diplomatik dan menghambat proses perdamaian di Timur Tengah," tambahnya.

Baca juga: Sikap Hati-hati Presiden Prabowo Terkait Konflik Iran vs AS-Israel

Tragedi Pasukan Penjaga Perdamaian

Situasi di lapangan semakin kritis menyusul laporan mengenai keselamatan pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL).

Indonesia telah mengambil langkah diplomatik proaktif dengan menginisiasi Joint Statement on the Safety and Security of Peacekeepers di Markas Besar PBB, New York.

Utusan Tetap Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, mengungkapkan duka mendalam sekaligus kecaman atas serangan yang menyasar personel keamanan internasional.

"Kami mengutuk keras serangan terus-menerus terhadap UNIFIL, termasuk serangan serius terbaru yang merenggut nyawa tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia dan melukai beberapa pasukan penjaga perdamaian lain dari Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia," tegas Umar Hadi.

Pernyataan bersama ini didukung oleh 72 negara serta Uni Eropa, sebagai bentuk solidaritas internasional menolak kekerasan terhadap misi kemanusiaan global.

Tekanan Komunitas Internasional

Slamet Ariyadi menekankan bahwa komunitas internasional memiliki tanggung jawab kolektif untuk menekan Israel agar segera menghentikan operasi militernya di Lebanon.

Tanpa tekanan global yang bersatu, eskalasi ini dikhawatirkan akan memicu konflik yang lebih luas di kawasan.

"Komunitas internasional juga bertanggung jawab untuk mendesak Israel menghentikan serangan kepada Lebanon karena sangat berpotensi mengancam stabilitas kawasan," tutupnya.

Baca juga: 5 Penyebab Perundingan Iran dan AS Berakhir Gagal di Pakistan

Hingga saat ini, ketegangan di Beirut dan wilayah selatan Lebanon dilaporkan masih tinggi.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus memantau kondisi warga negara Indonesia (WNI) dan personel TNI yang bertugas dalam misi UNIFIL guna memastikan keamanan mereka di tengah gempuran udara yang masih berlangsung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.