SURYA.co.id – Surabaya diperkirakan mengalami cuaca cerah sepanjang hari pada Senin, 13 April 2026.
Data prakiraan yang dirilis oleh BMKG Juanda menunjukkan kondisi atmosfer yang relatif stabil tanpa potensi hujan.
Sejak dini hari hingga malam, langit Kota Pahlawan didominasi kondisi cerah. Suhu udara diprediksi berada pada rentang 24 hingga 33 derajat Celsius.
Kelembapan udara berkisar antara 66 persen hingga 96 persen, yang masih tergolong cukup lembap.
Angin bertiup dari arah timur dengan kecepatan sekitar 18,5 kilometer per jam.
Kondisi ini mendukung aktivitas masyarakat di luar ruangan sepanjang hari.
Meski demikian, suhu panas pada siang hari perlu diwaspadai. Warga diimbau tetap menjaga kesehatan dan kecukupan cairan selama beraktivitas.
Memasuki pagi hari, cuaca di Surabaya diprediksi cerah sejak pukul 06.00 hingga 10.00 WIB.
Sinar matahari mulai terasa hangat dengan suhu yang berangsur naik dari kisaran 24 derajat Celsius.
Kondisi ini cukup ideal untuk aktivitas seperti berolahraga atau bepergian.
Tidak ada tanda-tanda awan tebal maupun hujan ringan di periode ini.
Pada siang hari, tepatnya sekitar pukul 13.00 hingga 16.00 WIB, cuaca tetap cerah dengan intensitas sinar matahari yang cukup terik.
Suhu udara mencapai puncaknya hingga 33 derajat Celsius.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan untuk menggunakan pelindung seperti topi atau tabir surya.
Paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan.
Memasuki malam hari, kondisi cuaca tetap stabil dan cerah hingga pukul 22.00 WIB.
Suhu udara mulai menurun secara bertahap, menciptakan suasana yang lebih sejuk dibanding siang hari.
Aktivitas malam diperkirakan tidak akan terganggu oleh cuaca.
Angin dari timur masih bertiup dengan kecepatan yang relatif konstan.
Agar tetap nyaman beraktivitas sepanjang hari, masyarakat disarankan untuk memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi.
Gunakan pakaian berbahan ringan dan menyerap keringat saat beraktivitas di luar ruangan.
Selain itu, hindari paparan sinar matahari langsung pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB jika tidak mendesak.
Penggunaan tabir surya juga penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV.
Dengan persiapan yang tepat, aktivitas harian tetap dapat berjalan optimal meski cuaca cukup panas.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menggelar Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Kemarau Panjang 2026 di Dyandra Convention Center, Surabaya, Selasa (7/4/2026).
Acara ini dihadiri oleh Bupati, Wali Kota, jajaran Forkopimda, Perhutani serta berbagai pihak terkait lainnya dalam upaya penguatan koordinasi daerah.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, menekankan pentingnya langkah mitigasi dan antisipasi sejak dini, sebagai bagian dari upaya yang terukur.
Fokus utama dalam koordinasi ini, adalah menghadapi musim kemarau serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi ancaman serius.
"Sebentar lagi musim kemarau, potensi-potensi bencana yang bisa terjadi mari kita antisipasi bersama mulai saat ini," ajak Gubernur Khofifah.
Rakor ini menghadirkan narasumber dari Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB RI, serta Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan RI.
Hadir pula Direktur Konservasi dan Pengembangan Sumber Air Pertanian Kementerian Pertanian RI, BMKG Kelas I Juanda, serta Kapolda Jatim.
"Rakor ini tidak hanya membahas potensi bencana, tetapi juga memastikan kesiapsiagaan, mitigasi, serta langkah konkret dalam melindungi masyarakat Jawa Timur," tegasnya.
Khofifah meminta seluruh kepala daerah untuk bergerak proaktif, sebelum puncak kemarau terjadi di wilayah masing-masing.
"Oleh karena itu, seluruh kepala daerah diminta untuk bergerak proaktif sebelum puncak kemarau terjadi," imbuhnya.
Gubernur Khofifah juga menginstruksikan jajarannya untuk memastikan distribusi air bersih tepat sasaran kepada masyarakat yang terdampak.
Selain itu, pemantauan titik api di wilayah rawan karhutla harus diperkuat guna mencegah kebakaran yang meluas.
"Materi-materi dari para narasumber, saya rasa detail sekali ya, Bupati dan Wali Kota bisa segera melakukan plan of action, proaktif memetakan wilayahnya tanpa menunggu bencana terjadi," ucapnya.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan sampah, serta menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
"Saya imbau masyarakat tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu terjadinya karhutla," imbau Khofifah.
Jawa Timur memiliki keragaman potensi bencana yang tinggi, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi hingga kekeringan.
Penanggulangan bencana tersebut, harus dilakukan secara terpadu melalui analisis tingkat bahaya sesuai Peraturan Gubernur Nomor 53 Tahun 2023.
"Mari kita kuatkan sinergi, percepat langkah, dan pastikan Jawa Timur tetap aman, tangguh dan produktif menghadapi musim kemarau tahun 2026," ajak Khofifah.
Data menunjukkan, bahwa selama periode 2022 hingga 2025, sekitar 92 hingga 97 persen bencana di Jawa Timur adalah bencana hidrometeorologi.
Khofifah menegaskan, bahwa perubahan iklim dan dinamika cuaca bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan realitas saat ini.
"Respons kita tidak boleh biasa-biasa saja hanya reaktif tetapi harus terukur, cepat dan berbasis data," tegasnya.
Berdasarkan data triwulan pertama tahun 2026, tercatat telah terjadi 121 kejadian bencana alam di Jawa Timur hingga 31 Maret.
Berikut rincian kejadian bencana yang mendominasi pada awal tahun 2026:
"Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi kita semua dan bersama kita lakukan antisipasi," sebut Khofifah.
Berdasarkan rilis BMKG, musim kemarau 2026 di Jawa Timur diperkirakan mulai terjadi pada bulan Mei di 56,9 persen wilayah.
Puncak kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus, yang mencakup sekitar 70,9 persen wilayah Jawa Timur.
Periode kritis diperkirakan akan terus meluas hingga mencapai 72,5 persen wilayah pada puncaknya nanti.
"Durasi kemarau pada tahun ini juga diprediksi cukup panjang, mencapai 220 hingga 240 hari di sejumlah zona musim. Kita akan menghadapi tekanan kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya," terangnya.
Kondisi tahun 2026 diprediksi akan mengalami peningkatan dampak kekeringan, jika dibandingkan dengan data pada tahun 2025.
"Menurut BMKG kan terjadi peningkatan dampak kekeringan pada tahun 2026, dibanding tahun 2025," pungkas Khofifah.