Jangan Diabaikan Saat ke Kota Tua, Meriam si Jagur
GH News April 13, 2026 09:15 AM
Jakarta -

Saat berjalan-jalan di Kawasan Kota Tua Jakarta, kita pasti akan melihat meriam jempol kejepit berwana gelap yang megah yang berdiri mencolok di kawasan Taman Fatahillah. Ya, itulah Meriam Si Jagur.

Tahukah detikers bahwa meriam seberat 3,5 ton ini menyimpan kisah perjalanan yang melintasi berbagai negara, kelahiran kembali beberapa meriam, dan mitos kesuburan yang pernah menimbulkan kesalahpahaman di kalangan penduduk setempat?

Meriam si Jaguar di Kota Tua JakartaMeriam si Jagur di Kota Tua Jakarta (Hans Wilhem/detikcom)

Narasi menarik ini dibahas secara mendalam dalam rute tur "Oud Batavia en Omstreken: Then & Now" yang dipandu oleh Gilang Ramadhan. Tur itu rangkaian Free Guided Tour UPK Old Town yang diikuti detikTravel pada Selasa (7/4/2026).

Berikut beberapa detail menarik tentang Meriam Si Jagur yang mengesankan.

Fakta Meriam Portugis si Jaguar

1. Meriam Portugis yang Berubah Menjadi "Trofi" Belanda

Meskipun berdiri sebagai simbol sejarah di Batavia (Jakarta), Meriam Si Jagur sebenarnya tidak diproduksi di Belanda.

"Meriam ini dibuat oleh orang Portugis di Macau pada tahun 1627," jelas Gilang.

Pada masa itu, Makau merupakan teritori China yang dikoloni Portugis. Meriam operasional ini awalnya ditempatkan di sebuah benteng pertahanan Portugis sebelum dipindahkan ke Malaka (Malaysia), sebuah wilayah yang juga berada di bawah kekuasaan kolonial Portugis.

Nasib meriam tersebut berubah drastis ketika Belanda berhasil merebut Malaka dari Portugis pada tahun 1640. Belanda mengangkut meriam ini ke Batavia, memamerkannya sebagai "Trofi" kemenangan mereka, disertai dengan tawanan perang dan berbagai aset Portugis.

2. Dari Mana Asal Nama 'Si Jagur'?

Ada dua cerita menarik mengenai asal-usul nama 'Jagur.' Cerita pertama menunjukkan bahwa nama tersebut berasal dari bengkel pengecoran di Makau tempat meriam ini dicetak, yaitu Saint Jago de Barra.

"Kata 'Jago' ditulis dalam bahasa Latin. Nah, orang lokal zaman dulu mengejanya jadi 'Jago', yang lama-kelamaan pelafalannya berubah menjadi 'Jagur'," kata Gilang.

Versi kedua jauh lebih sederhana dan mudah dipahami. Masyarakat setempat menamainya sebagai respons terhadap dentuman meriam yang menggelegar: "Jegerrr... jlegurrr!"

3. Mengungkap Misteri Simbol Jari dan Mitos Kesuburan

Mengutip arsip detikTravel, Meriam Si Jagur terkenal karena ciri khasnya yang mencolok, tetapi sering disalahartikan, yakni sebuah ornamen yang menggambarkan kepalan tangan, dengan ibu jari berselip di antara jari telunjuk dan jari tengah di pangkal meriam.

Meriam si Jaguar di Kota Tua JakartaMeriam si Jagur di Kota Tua Jakarta (Hans Wilhem/detikcom)

Di Indonesia masa kini, simbol itu sering dianggap vulgar atau cabul. Namun, secara historis, maknanya berkembang menjadi sesuatu yang dihormati. Ada kepercayaan yang tersebar luas bahwa meriam ini memiliki kemampuan luar biasa untuk memberikan karunia anak.

"Banyak ibu-ibu yang berupaya memeluk dan menyentuh meriamnya karena dianggap bisa bikin mudah hamil," kata Gilang.

Ia mencatat bahwa secara historis, masyarakat biasa melakukan persembahan ritual, menaburkan bunga, dan merawat meriam ini sebagai bagian dari praktik upacara.

Bagaimana kenyataannya? Para pembuat meriam Portugis memasukkan simbol tangan (Mano Fico) sebagai tolak bala dari kejahatan dan kemalangan, dengan keyakinan bahwa hal itu akan membantu mempertahankan kekuasaan mereka.

Akibat mitos yang semakin meluas yang memicu tindakan vandalisme selama pameran meriam di dalam ruangan, pihak pengelola museum memutuskan untuk memindahkan Si Jagur ke area luar ruangan museum pada 2014.

Tujuannya adalah untuk menghilangkan persepsi misterius tersebut dan memberi tahu masyarakat bahwa ini hanyalah artefak sejarah dari masa perang.

4. Ex Me Ipsa Renata Sum: Reinkarnasi dari 16 Meriam

Jika traveler mengamati badan meriam, terdapat sebuah ukiran tulisan berbahasa Latin: Ex Me Ipsa Renata Sum. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, artinya sangat puitis: "Aku Terlahir dari Diriku Sendiri".

Tulisan ini bukan sekadar pajangan, melainkan petunjuk sejarah tentang bagaimana meriam ini dibuat. Meriam Si Jagur tidak dibuat dari bongkahan besi baru.

"Sang pandai besi melelehkan besi-besi tua dan 16 meriam kecil. Setelah dicairkan, barulah dituang ke dalam cetakan untuk membentuk satu meriam besar seberat 3,5 ton ini," kata Gilang.

Meriam Si Jagur telah secara resmi diakui sebagai artefak asli dan sebagai benda cagar budaya melalui keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 351 Tahun 2022, yang menonjol sebagai satu-satunya contoh sejenisnya di dunia yang ada di Indonesia.

Meriam yang berusia hampir 400 tahun ini telah kehilangan mekanisme penembakannya yang utuh seiring berjalannya waktu. Pada masa kejayaannya, pengoperasiannya melibatkan pemuatan peluru meriam beserta bubuk mesiu melalui moncong, yang kemudian ditembakkan.

Bagaimana pendapat kalian, detikers? Apakah kalian penasaran untuk menyaksikan langsung bukti nyata sejarah lintas budaya ini dan saksi bisu legenda penduduk Batavia? Pastikan untuk mengunjungi Kota Tua dan ikuti tur sejarah!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.