BOLASPORT.COM - Situasi yang sedang dihadapi AC Milan tampaknya lebih gawat dari apa yang terlihat di mata publik.
Milan ngempos justru di fase genting kompetisi saat Liga Italia memasuki pekan-pekan penghabisan.
Sempat hanya kalah sekali dalam 25 pekan pertama, sekarang I Rossoneri kalah 4 kali dalam 7 pertandingan terakhir.
Sempat bertarung di jalur scudetto dan mapan di peringkat 2 klasemen, sekarang Milan turun ke posisi ke-3.
Bukan hanya kans menjadi juara sudah tertutup, peluang Il Diavolo Rosso untuk finis di 4 besar bahkan sekarang terancam.
Saat ini Milan hanya unggul 3 poin atas Juventus di peringkat 4, 5 angka atas Como yang duduk di posisi ke-5, dan 6 poin atas Roma yang menempati tangga ke-6.
Hasil terbaru yakni kekalahan 0-3 dari Udinese di San Siro, Sabtu (11/4/2026), jelas memperlihatkan ada yang tidak beres di Milan.
Bukan hanya lini depan yang terus tampil mandul, semua sektor permainan Setan Merah tampak tidak sesolid sebelumnya.
Bahkan Luka Modric dan Adrien Rabiot, 2 gelandang yang selama ini selalu menjaga standar penampilan yang tinggi, ikut-ikutan tampil buruk.
Usai pertandingan, Rabiot mengungkapkan masalah yang dihadapi timnya.
"Kenapa kami begitu buruk di paruh kedua kompetisi?," katanya seperti dikutip dari Milannews.
"Saya pikir ada kemunduran fisik, kemerosotan mental, dan sedikit kelelahan, ini benar."
"Dalam pertandingan ini, kami melihat kesolidan tim berkurang."
"Hari ini kami tidak terorganisasi, kebobolan 2 gol di babak pertama, dan kebingungan di seluruh lapangan."
"Kami tidak tenang. Kami semua membuat kesalahan, termasuk saya," lanjut pemain yang dianggap sebagai penggendong Milan musim ini.
Direkrut pada saat-saat terakhir bursa transfer musim panas, gelandang asal Prancis itu malah menjadi pemain terkuat AC Milan.
Kekuatan, visi permainan, kontrol bola, ledakan kecepatan, dan kemampuan muncul dari lini kedua membuat Rabiot menjadi sosok dominan di lini tengah.
"Kami kehilangan pikiran jernih karena ingin buru-buru mengejar ketertinggalan, kami terlalu berkomitmen dengan banyak pemain di area lawan," ucap Rabiot lagi.
"Saya sendiri juga kehilangan pikiran jernih untuk melihat dan memberi tahu pemain lain supaya tetap fokus."
"Pelatih tetap tenang, dia bilang kepada kami supaya tetap tenang."
"Target masih ada di tangan. Kami masih di peringkat 3 dan harus langsung fokus ke laga melawan Hellas Verona."
Tetapi dalam wawancara berbeda dengan Sportmediaset, Adrien Rabiot mengakui ada masalah lain yang lebih menyeramkan dari sekadar kelelahan dan kehilangan fokus.
Masalah itu adalah keengganan para pemain termasuk Rabiot sendiri untuk membantu rekan setim.
Indikasi problem ini sudah terlihat beberapa waktu lalu saat Rafael Leao secara terbuka menyatakan Christian Pulisic tidak mau membagi bola kepadanya.
"Saya marah karena saya pribadi bisa melakukan lebih baik lagi," tukas Rabiot.
"Saya tahu tim berada di belakang saya dan jika saya memberikan lebih banyak, itu akan lebih baik buat tim."
"Buat saya, karena saya sangat jujur dan selalu mencoba berpikir jernih, saya bisa bilang bahwa saya seharusnya bisa melakukan yang lebih baik."
"Sebagai sebuah tim, kami semua bisa melakukannya dengan lebih baik."
"Seperti kami dulu, lebih bersatu. Kami kehilangan hal itu di atas lapangan: keinginan untuk bekerja bagi rekan setim, untuk kembali bertarung bersama-sama."
"Kami perlu menemukan hal itu lagi, yang telah membuahkan hasil bagus bagi tim selama ini," pungkas Rabiot.