TRIBUNGORONTALO.COM — Lonjakan harga bahan kemasan plastik mulai memberi tekanan serius bagi pelaku usaha kecil di Gorontalo.
Pedagang kopi, penjual minuman kekinian kini harus memutar strategi agar usaha tetap berjalan di tengah naiknya harga cup plastik, sedotan, dan kantong kresek.
Kenaikan ini bukan lagi sekadar angka di toko plastik. Bagi pelaku usaha kecil, plastik adalah kebutuhan harian yang menentukan jalannya usaha.
Ketika harga kemasan naik, biaya produksi otomatis ikut melonjak.
Baca juga: Data Diperbarui, 11 Ribu Penerima Bansos Dicoret karena Dianggap Sudah Mampu
Muh Ardiansah (23), pemilik UMKM Kopi Piece.id di Kota Gorontalo, mengatakan dirinya masih berusaha bertahan dengan harga lama sambil memantau perkembangan harga kemasan.
Ia menyebut gelas cup yang paling sering dipakai untuk usahanya saat ini masih berada di kisaran Rp29 ribu untuk dua pack, sedangkan tas kresek kecil dijual sekitar Rp5 ribu per pack.
“Kalau yang biasa saya beli, gelas cup masih Rp29 ribu dua pack, tas kresek kecil masih Rp5 ribu per pack,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (13/4/2026).
Menurut Ardiansah, harga itu masih bertahan karena sebagian stok berasal dari distributor lama. Namun ia mengaku sudah menyiapkan langkah jika harga kembali naik.
“Kalau nanti naik, pilihannya cuma dua: harga jual dinaikkan atau takaran dikurangi,” katanya.
Strategi berbeda diambil Tiara Jenisya, pemilik Lapak Kopi Kita di Bone Bolango.
Ia mengaku kenaikan paling terasa terjadi pada gelas plastik ukuran 400 ml, yang menjadi kemasan utama minuman dingin di lapaknya.
Sebelumnya harga cup ukuran itu masih sekitar Rp27 ribu per pack. Kini naik menjadi Rp31.500.
“Sekarang sudah Rp31.500. Dulu masih Rp27 ribuan,” kata Tiara.
Meski harga kantong kresek kecil masih normal di kisaran Rp5 ribuan, kenaikan harga cup plastik tetap membuat biaya produksi meningkat.
Namun Tiara belum berani menaikkan harga jual minuman karena khawatir pelanggan keberatan.
Sebagai jalan tengah, ia memilih mengurangi sedikit takaran isi.
“Untuk sekarang belum naik harga. Paling takaran dikurangi sedikit, sekitar 10 mil dari ukuran biasa,” ujarnya.
Menurut Tiara, langkah itu lebih aman agar pelanggan tetap membeli tanpa merasa terbebani kenaikan harga.
Berbeda dengan Tiara, pedagang kopi street Niken memilih menaikkan harga jual minuman.
Jika sebelumnya satu cup kopi dijual Rp15 ribu, kini naik menjadi Rp17 ribu.
“Kalau tidak dinaikkan, tidak tertutup biaya. Semua bahan naik, terutama kemasan,” kata Niken.
Ia menjelaskan, kenaikan harga dilakukan setelah menghitung ulang biaya produksi yang terus bertambah.
Menurutnya, kenaikan harga cup, sedotan, dan plastik pembungkus sangat memengaruhi total pengeluaran harian.
Meski ada risiko pelanggan berkurang, Niken menilai keputusan itu terpaksa diambil agar usahanya tetap bertahan.
Sementara itu, pedagang minuman lainnya, Indah Puspita, justru memilih bertahan dengan harga lama.
Ia mengaku belum menaikkan harga karena khawatir pelanggan akan berpindah ke tempat lain.
“Saya masih tahan harga. Takut pelanggan pergi,” ujarnya.
Menurut Indah, persaingan usaha minuman di Gorontalo cukup ketat.
Kenaikan harga sekecil apa pun bisa memengaruhi minat beli pelanggan.
Karena itu, ia lebih memilih menahan margin keuntungan sementara waktu demi menjaga pelanggan tetap datang.
Kenaikan harga plastik tak hanya dirasakan pedagang kopi dan minuman.
Pedagang pasar tradisional pun ikut terbebani.
Salah satu pedagang rempah-rempah di Pasar Andalas Kota Gorontalo, Andri Aneta, mengaku biaya operasionalnya meningkat karena harga kantong plastik ikut naik.
“Sekarang tas plastik mahal, padahal tiap hari pasti dipakai. Mau tidak mau harus dikurangi atau dihitung lagi,” katanya.
Menurut Andri, sebelumnya plastik tidak terlalu membebani pengeluaran usaha.
Namun sekarang, biaya pembelian plastik menjadi salah satu pengeluaran tambahan yang cukup terasa.
Ia mengatakan, meski terlihat sepele, kenaikan harga plastik berdampak langsung pada keuntungan harian pedagang kecil.
Sejumlah laporan menunjukkan harga plastik di beberapa kota besar mengalami kenaikan antara 20 hingga 80 persen, tergantung jenisnya.
Pelaku UMKM di berbagai daerah juga mulai mengeluhkan kondisi ini karena berdampak langsung pada biaya produksi, terutama di sektor kuliner dan minuman.
Secara umum, kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku plastik yang berasal dari minyak bumi.
Selain itu, gangguan rantai pasok global serta ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik turut memperparah kondisi.
Nilai impor plastik dan produk turunannya bahkan mencapai belasan triliun rupiah dalam satu bulan terakhir, yang menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Kondisi geopolitik global juga ikut mempengaruhi, terutama terhadap harga minyak dunia yang menjadi bahan dasar produksi plastik.
Di tengah kenaikan ini, pedagang kecil dihadapkan pada pilihan sulit. Menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan, sementara bertahan berarti harus menerima keuntungan yang semakin menipis.
Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin harga berbagai produk makanan dan minuman di tingkat pedagang kecil akan ikut mengalami penyesuaian.
Kenaikan harga plastik yang selama ini jarang diperhatikan, kini menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberlangsungan usaha mikro di daerah.(*/Jefri)