BIOGRAFI: KH Abdul Hamid Zuhri, Pengasuh Ponpes An Najah Dawar Boyolali
Ryantono Puji Santoso April 13, 2026 06:29 PM

‎Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

‎TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Perjalanan hidup KH Abdul Hamid menjadi bukti bahwa ketekunan dan keberkahan ilmu dapat mengubah kehidupan seseorang.

Lahir di Boyolali pada tahun 1954, Hamid tumbuh dari keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Sejak kecil, ia sudah akrab dengan aktivitas di ladang.

“Memang orang tua saya dalam pendidikan agama ketat,” ujarnya dalam wawancara.

Meski berasal dari keluarga petani, pendidikan agama tetap menjadi prioritas.

Selain bersekolah di Sekolah Rakyat (SD), Hamid kecil juga belajar di madrasah diniyah di lingkungan Dukuh Dawar.

Ia mengaku masa kecilnya tidak menonjol.

“Waktu kecil saya biasa-biasa. Tidak punya hal spesial. Di sekolah juga sedang-sedang saja,” katanya.

Mengembara Menuntut Ilmu

Setelah lulus SD, Hamid mulai mengembara menuntut ilmu agama.

Pada tahun 1968, ia meninggalkan kampung halamannya di Dawar menuju Pacitan.

Di sana, ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Tremas selama lima tahun hingga 1972.

Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Kediri untuk mondok di Pondok Pesantren Salafiyah Bandar Kidul.

“Sampe tahun 1972. Di sana 5 tahun. Terus pindah ke Kediri,” ungkapnya.

Tak hanya mondok, Hamid juga sempat menempuh pendidikan tinggi di IAIN Kediri.

Namun, kecintaannya kepada sang kiai membuatnya mengambil keputusan besar dalam hidup.

Ia rela meninggalkan gelar sarjana demi tetap dekat dan khidmat kepada gurunya.

“Saya khidmat sama kyai. Dan yang saya rasakan berkahnya dari kyai,” ujarnya.
“Hidup saya seperti ini karena kyai.”

Perjalanannya dalam menuntut ilmu berlanjut ke sejumlah pesantren lain di wilayah Pare dan Bangil, Jawa Timur.

Merintis dari Nol Hingga Berdirinya Pesantren

Hamid baru kembali ke kampung halaman setelah menikah.

Namun, kehidupan rumah tangganya tidak langsung mapan.

Ia harus berpindah-pindah dan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Di tengah keterbatasan, ia mulai mengajar mengaji anak-anak di sekitar Dawar.

“Pagi ngaji Qur’an sama pelajar. Lama-lama tambah, ngaji sore diniyah,” tuturnya.

Seiring waktu, jumlah santri terus bertambah.

Bahkan, seorang santri dari Salatiga datang dan ingin tinggal di rumahnya.

Dengan kondisi seadanya, Hamid menyekat rumahnya untuk tempat tinggal santri.

Dari satu santri, jumlahnya terus berkembang.

Ia pun mulai membangun kamar sederhana untuk para santri di sekitar rumahnya.

“Saya ga tau ya… saya buatkan kamar hanya 1 meter. Tapi kok krasan,” ucapnya haru.
“Masya Allah.”

Baca juga: Dalami Keterangan Masuk Angin Kasus Santri Tewas di Wonogiri, Pemilik Yayasan - Driver Diperiksa

Santri-santri itu tidak hanya belajar agama, tetapi juga ikut membantu aktivitas sehari-hari.

“Anak-anak itu ya ngaji. Ya bantu-bantu saya di ladang, di dapur juga.”

Dari proses yang mengalir itulah, cikal bakal pondok pesantren yang diasuhnya mulai berdiri.

“Jadi pondok ini mengalir saja… akhirnya ada orang yang membantu saya membuat pondok,” katanya.

Hidup Penuh Perjuangan

Di balik kesuksesan mendidik santri, kehidupan ekonomi Hamid justru penuh perjuangan.

Ia sempat mencoba berbagai usaha, namun tidak selalu berhasil.

Mulai dari bertani, berjualan pakan sapi, hingga usaha konveksi yang dijalankan istrinya.
“Jadi ya kerjaan ganti-ganti,” ujarnya.

Bahkan, ia pernah menjalani pekerjaan sederhana di malam hari.

“Pernah juga saya itu kalau malam marut (menyisir) singkong. Paginya istri saya bawa ke pasar, saya momong di rumah,” kenangnya.

Namun, dari semua keterbatasan itu, Hamid tetap istiqamah mengajar dan mengabdi.

Hingga akhirnya, pesantren yang dirintis dari nol berkembang dan menjadi tempat menimba ilmu bagi banyak santri. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.