Asa Nurlaila, Janda 3 Anak di Abdya Bertahan Hidup di Rumah Tak Layak Huni
Nurul Hayati April 13, 2026 08:20 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrian Mizani I Aceh Barat Daya 

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Raut wajah Nurlaila (30) tampak sedih.

Bulir-bulir bening mengalir di dua pipinya.

Sesekali, ia menatap kearah Syifa—bayi kecilnya yang kini masih berusia tiga bulan.

Laila, begitu ia akrab di panggil, janda tiga anak itu tinggal di Dusun Alue Badeuk, Gampong Cot Mane, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

Sejak suaminya Yusman (45) meninggal dunia saat melaut, hidup Laila berubah seketika.

Ia kini menjadi satu-satunya penopang bagi tiga anaknya. 

Pedihnya, Laila tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap.

“Suami saya meninggal tiba-tiba di laut, tanpa sakit sebelumnya,” kata Nurlaila, Senin (13/4/2026) di rumahnya.

Laila menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Kamis, 9 April 2026, sekitar pukul 17.00 WIB. 

Seperti hari-hari sebelumnya, Yusman pergi melaut untuk mencari nafkah.

Namun, ia tak pernah kembali. 

Baca juga: Usai Imami Shalat Subuh di Alue Seulaseh, Bupati Abdya Safaruddin Tinjau Rumah Tak Layak Huni 

Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan justru menjadi tempat perpisahan terakhir bagi keluarganya.

Kepergiaan Yusman bukan hanya meninggalkan Laila, tapi juga ketiga anaknya.

Bahkan, si bungsu belum terlalu mengenal sosok sang ayah.

Anak sulung mereka masih duduk di kelas II sekolah dasar (SD), sedangkan anak kedua masih menempuh pendidikan di taman kanak-kanak (TK).

Selain meninggalkan istri dan tiga anak, almarhum Yusman juga meninggalkan sebuah rumah sederhana yang tergolong tidak layak huni.

Rumah beratapkan seng itu, hanya berlantaikan semen kasar dan berdinding papan yang mulai rapuh.

Rumah itu berdiri di atas tanah milik orang tua Nurlaila—bukan milik sendiri.

Dalam kondisi itu, kebutuhan sehari-hari menjadi beban yang terus menghimpit.

Untuk sekadar makan, Laila harus membeli beras, sebab tak memiliki sawah atau sumber penghasilan lain.

“Saya berharap ada pekerjaan tetap ke depan, supaya bisa menafkahi anak-anak saya,” ujarnya.

Namun, harapan itu belum bisa segera terwujud.

Bayi yang masih kecil membuatnya belum memungkinkan bekerja di luar rumah. 

"Hari-hari saya hanya diisi dengan mengurus anak dan bergantung pada bantuan keluarga dan tetangga," ucapnya.

Ikramah, kerabat dekat Laila, mengatakan kondisi ekonomi keluarga ini memang sudah terbatas bahkan sebelum Yusman meninggal. Kini, beban itu berlipat.

“Harapan kami, anak-anak ini tetap bisa sekolah dengan layak,” harap Ikramah.

Ia berharap pemerintah daerah memberi perhatian, terutama untuk menjamin pendidikan ketiga anak tersebut. 

Menurutnya, bantuan pekerjaan bagi Laila juga mendesak, setidaknya ketika kondisi anak bungsunya sudah memungkinkan untuk ditinggal.

“Mungkin salah satu pekerjaan yang memungkinkan sebagai tenaga pencuci omprengan di dapur program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.

Pentingnya Solidaritas Nelayan

Panglima Laot Abdya T Indra Kusuma menilai peristiwa ini harus menjadi pengingat bagi komunitas nelayan. 

Ia menekankan pentingnya solidaritas untuk membantu keluarga yang ditinggalkan.

“Ke depan, nelayan harus lebih kompak. Perlu ada iuran bersama untuk membantu keluarga korban,” kata Indra.

Ia juga mengimbau para nelayan untuk terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan, agar memiliki perlindungan ketika risiko kerja terjadi di laut. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.