Petani Sawit Belitung Timur Nikmati Harga TBS Rp3.700 per Kg, Ketua Apkasindo Beri Tahu Caranya
Ardhina Trisila Sakti April 13, 2026 08:03 PM

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Di tengah keluhan petani sawit di Pulau Bangka terkait rendahnya harga Tandan Buah Segar (TBS), kondisi berbeda justru terjadi di Kabupaten Belitung Timur. Harga TBS di Belitung Timur menunjukkan tren positif dan dinilai menguntungkan bagi petani.

Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Belitung Timur, Lim Surya Wiguna mengatakan harga TBS di wilayahnya sangat memuaskan bagi para petani. 

Lim mengungkapkan harga beli sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Belitung Timur sudah melampaui angka Rp3.500 per kilogram. Angka ini dinilai sangat kompetitif jika dibandingkan harga rata-rata di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

"Untuk di Belitung Timur saya rasa harga TBS sudah sangat bagus. Sebagai gambaran harga riilnya, di PT BAT (Bina Agro Tani) harga buah masyarakat diterima di Rp3.740 per kilogram," ujar Lim.

Perusahaan lain seperti PT SMM juga memberikan penawaran harga yang stabil tinggi bagi petani lokal. Buah sawit masyarakat diterima dengan harga Rp3.550 per kilogram.

Lim mengatakan kondisi ini membuktikan bahwa harga di Belitung Timur tidak berbeda jauh dengan harga yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Bangka Belitung.

Lim mengaku dirinya turut memantau polemik yang sedang terjadi di Pulau Bangka. Ia mendengar banyaknya keluhan dari rekan-rekan sesama pengurus DPD Apkasindo di sana mengenai rendahnya penerimaan harga sawit yang jauh dari harga penetapan.

"Kami di sini turut prihatin dengan kondisi kawan-kawan petani di Pulau Bangka. Penerimaan harga di sana dikabarkan sangat rendah dan jauh dari angka yang seharusnya dinikmati petani," ucapnya.

Lim menilai kunci utama dari stabilnya harga di Belitung Timur adalah peran aktif pemerintah daerah dalam melakukan pengawasan. Ia mengatakan regulasi harga yang dibuat di tingkat Provinsi tidak akan berarti banyak tanpa adanya penekanan.

Pemerintah daerah dianggap memiliki kewajiban untuk memastikan perusahaan-perusahaan sawit di wilayahnya patuh pada aturan. Tanpa pengawasan ketat, celah untuk menekan harga petani akan selalu ada.

"Seharusnya pemerintah daerah yang memberikan penekanan kepada perusahaan-perusahaan sawit yang ada di wilayah mereka masing-masing agar harga beli tetap layak," ungkap Lim.

Lim mengatakan potongan harga atau rafaksi di Belitung Timur dinilai masih dalam batas kewajaran.

Sebagai contoh, di PT SMM potongan harga berada di kisaran antara 1 hingga 2,5 persen saja. Besaran potongan tersebut tentunya sangat bergantung pada situasi dan kualitas buah yang diantarkan.

Kekompakan para petani dalam mengawal harga menjadi poin penting yang disoroti Lim. Ia mengatakan suara petani akan lebih didengar jika mereka bergerak bersama di bawah wadah organisasi yang solid seperti Apkasindo.

Lim mengaharapkan terciptanya pemerataan kesejahteraan bagi seluruh petani sawit di Bangka Belitung. Melalui harga yang stabil, roda ekonomi di perdesaan pun bisa berputar sebagaimana mestinya.

"Kami ingin hak-hak petani untuk mendapat harga yang layak segera terpenuhi secara merata. Pemerintah pasti bisa mencari jalan keluar agar penetapan harga itu benar-benar dirasakan oleh petani," tutupnya. 

Petani Harus Solid dan Rangkul Legislatif

Hubungan harmonis antara petani kelapa sawit dan pihak perusahaan di Belitung Timur (Beltim) memiliki sejarah panjang. Kondisi tenang saat ini adalah buah dari komunikasi yang sehat dan kekompakan para pemangku kepentingan.

Ketua DPD Apkasindo Belitung Timur, Lim Surya Wiguna, Senin (13/4/2026) menceritakan kestabilan harga TBS di wilayahnya tidak datang secara instan. Belitung Timur pernah melewati fase sulit terjadi gesekan antara petani dan kebijakan pabrik.

Namun, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga. Melalui wadah Apkasindo, para petani di Belitung Timur mencoba membangun pola komunikasi yang lebih terarah kepada pihak perusahaan dan juga pemerintah.

"Beberapa tahun lalu mungkin sempat ada situasi yang kurang kondusif akibat komunikasi yang tersumbat. Namun, kami belajar bahwa kekompakan adalah kunci utama," ujar Lim.

Lim menekankan bahwa dasar utama dari kuatnya posisi tawar petani di Belitung Timur adalah persatuan. Ketika petani satu suara dalam menyampaikan aspirasi, maka pihak perusahaan maupun pemerintah tidak akan bisa mengabaikan tuntutan mereka.

Lim mengatakan strategi yang dilakukan para petani di Beltim saat itu adalah merangkul pemerintah daerah, terutama DPRD Belitung Timur. Peran Ketua DPRD dinilai sangat krusial dalam menjembatani kepentingan masyarakat dan perusahaan.

"Kami sangat mengapresiasi pemerintah daerah, khususnya Ketua DPRD, yang selalu memberikan respons positif. Beliau-beliau di legislatif inilah yang memberikan penekanan-penekanan kepada perusahaan," ucap Lim.

Lim mengatakan Apkasindo saat itu menghimpun keluhan dan data dari lapangan. Data-data tersebut kemudian dibawa ke meja legislatif untuk dijadikan bahan mediasi bersama pihak Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Dukungan dari DPRD memberikan kekuatan hukum dan moral bagi petani. Hal inilah yang menurut Lim menjadi alasan PKS di Belitung Timur lebih patuh terhadap regulasi harga TBS yang telah ditetapkan provinsi.

Lim mengatakan koordinasi antara petani dan PKS di Belitung Timur sekarang sudah berjalan sangat baik. Tidak ada lagi gesekan di lapangan yang dapat merugikan kedua belah pihak dalam proses transaksi.

"Puji syukur saat ini antara petani dengan PKS terjalin komunikasi dan kerja sama yang sangat baik. Kita sudah tidak melihat lagi adanya gesekan yang berarti di lapangan," ungkapnya.

Melihat polemik di Pulau Bangka, Lim menyarankan agar pola komunikasi serupa bisa diterapkan. Kekompakan petani di tiap DPD dinilainya bisa menjadi modal untuk mengetuk pintu pemerintah daerah.

Lim yakin pemerintah Provinsi maupun Kabupaten di Bangka memiliki keinginan yang sama untuk menyejahterakan rakyatnya. Namun, tekanan dari bawah melalui organisasi petani juga diperlukan untuk mempercepat proses kebijakan.

"Kekompakan petani itu dasar utama. Saya pikir di Bangka pun bisa menggunakan cara yang sama, asalkan semua petani solid dalam menyuarakan hak-hak mereka ke pemerintah," ujar Lim.

Lim memuji transparansi yang dilakukan oleh sejumlah PKS di Beltim, seperti PT BAT dan PT SMM yang tetap berkomitmen membeli buah masyarakat sesuai mekanisme pasar yang sehat.

Sebagai informasi, harga beli sekarang menyentuh angka Rp3.740 per kilogram dan potongan atau rafaksi tetap berada di angka wajar, yakni 1 persen hingga 2,5 persen.

Lim berharap pola kemitraan yang sehat antara petani dan PKS ini terus dipertahankan. Ia ingin agar Belitung Timur tetap menjadi contoh bagaimana tata niaga sawit seharusnya dikelola secara adil dan transparan.

"Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa komunikasi adalah jalan keluar terbaik. Kami berharap hak petani mendapatkan harga layak tidak hanya terjadi di Beltim, tapi di seluruh Bangka Belitung," tutupnya.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.