1 Suku Anak Dalam di Sarolangun Hilang, 2 Luka Bacok, Konflik dengan PT SAL
asto s April 13, 2026 08:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kekerasan terhadap komunitas Orang Rimba kembali terjadi di areal PT SAL, Sabtu (12/4/2026). 

Insiden tersebut menyebabkan dua orang mengalami luka bacok serius, sementara satu orang bernama Nyatang (50) hingga kini masih hilang.

“Dua Orang Rimba mengalami luka bacok serius, sementara satu orang lainnya, Nyatang (50), hingga kini masih hilang,” kata Robert Aritonang, Antropolog KKI Warsi lembaga yang concern isu masyarakat adat, dalam keterangan tertulis.

Peristiwa itu terjadi tak lama setelah digelarnya pertemuan penyelesaian konflik antara Orang Rimba Air Hitam dengan pihak perusahaan. 
Pertemuan tersebut difasilitasi pemerintah daerah, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga kepala desa dan aparat keamanan.

Dalam pertemuan itu, dibahas sejumlah konflik sebelumnya, termasuk dugaan perlakuan tidak menyenangkan terhadap perempuan dan anak-anak oleh pihak keamanan perusahaan yang disebut merupakan tenaga outsourcing dari luar Provinsi Jambi.

Orang Rimba dalam forum tersebut secara tegas meminta agar tidak lagi mendapatkan perlakuan kasar. 

Bahkan, dijanjikan akan ada pertemuan lanjutan dengan pimpinan perusahaan guna menyelesaikan konflik.

Namun, kondisi di lapangan justru berbanding terbalik. 

Dalam perjalanan pulang menuju lokasi melangun di Mentawak Baru, Air Hitam, sekelompok Orang Rimba diduga menjadi korban kekerasan oleh pihak keamanan perusahaan.

Kelompok tersebut diketahui tengah menjalani tradisi melangun, yakni ritual berpindah tempat untuk menghilangkan kesedihan setelah kehilangan anggota kelompok.

Dalam insiden itu, dua orang mengalami luka bacok di bagian kepala dan punggung. 

Satu orang lainnya berhasil menyelamatkan diri, sementara Nyatang dilaporkan hilang dan hingga kini belum ditemukan.

KKI Warsi menilai kejadian ini merupakan bagian dari konflik berkepanjangan yang belum terselesaikan.

“Ini bukan peristiwa tunggal, tetapi bagian dari konflik kronis yang terus berulang karena akar masalahnya tidak pernah diselesaikan,” ujar antropolog KKI Warsi, Robert Aritonang.

Menurutnya, konflik dipicu oleh hilangnya ruang hidup Orang Rimba akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit yang tidak diikuti dengan perlindungan hak maupun skema transisi kehidupan yang layak.

Situasi diperburuk dengan penggunaan tenaga keamanan dari luar daerah yang dinilai tidak memahami budaya Orang Rimba.

Air Hitam sendiri merupakan wilayah jelajah Orang Rimba. Aktivitas melintas di kawasan tersebut merupakan bagian dari tradisi mereka. 
Namun, minimnya pemahaman budaya dinilai memicu pendekatan represif di lapangan.

Atas kejadian ini, KKI Warsi mendesak adanya pengusutan tuntas terhadap dugaan kekerasan oleh pihak keamanan perusahaan, serta meminta upaya pencarian terhadap Nyatang segera dilakukan.

Selain itu, Warsi juga meminta negara hadir untuk menjamin perlindungan masyarakat adat di wilayah konflik.

“Tanpa langkah serius dan menyeluruh, konflik ini akan terus berulang dan menempatkan Orang Rimba sebagai korban,” pungkas Robert. (Tribun Jambi/Rifani Halim)

Baca juga: Awal Mula Bentrok SAD vs Sekuriti PL SAL di Sarolangun, Diduga Terkait Pengamanan

Baca juga: Warga Kebon IX Temukan Mayat Membusuk di Dalam Kanal

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.