TRIBUNSTYLE.COM - Kabar mengejutkan datang dari dunia bisnis kuliner tanah air. Kreator konten edukasi sekaligus anggota Waseda Boys, Jerome Polin, mengumumkan keputusan berat untuk menghentikan operasional seluruh gerai bisnis minumannya, Menantea, mulai 25 April 2026 mendatang.
Keputusan ini diambil setelah Jerome mengungkap fakta pahit di balik layar, ia menjadi korban penipuan internal yang mengakibatkan kerugian fantastis mencapai Rp38 miliar. Angka ini menjadi pukulan telak bagi bisnis yang telah dirintisnya bersama sang kakak, Jehian Panangian Sijabat, selama lima tahun terakhir.
Menantea pertama kali menyapa publik pada 10 April 2021 dan sempat menjadi tren di industri Food and Beverage (F&B). Namun, perjalanan manis teh buah ini harus berakhir di meja audit investigasi.
"Setelah lima tahun, Menantea akan melakukan pemberhentian kegiatan operasional seluruh toko pada tanggal 25 April 2026," tulis Jehian dalam unggahan bersama Jerome di media sosial. Ia menambahkan sebuah pesan mendalam, "Pelajaran yang sangat berharga. Terima kasih untuk lima tahun ini."
Jerome mengakui bahwa kejatuhan bisnisnya dipicu oleh manajemen lapangan yang carut-marut, masalah dengan supplier, hingga tagihan yang tak terbayar. Namun, akar masalah yang paling fatal adalah adanya indikasi kecurangan atau fraud.
Baca juga: Nasib Jerome Polin, Lulusan Matematika tapi Ditipu Bisnis Rp34 M, Menantea Tutup: Jago Banget Nilep
Dalam pengakuannya, Jerome mengungkapkan bahwa kesibukannya yang padat membuatnya terlalu percaya pada satu orang untuk mengelola keuangan. Ia tertipu oleh laporan keuangan yang disajikan secara rapi melalui format Excel.
"Dari Excel kita ngecekin laporan keuangannya," kata Jerome. Ia tak menyangka bahwa angka-angka tersebut telah dimanipulasi sedemikian rupa hingga tidak sesuai dengan saldo di rekening perusahaan. Kebohongan ini baru terkuak pada tahun 2023 saat saldo perusahaan mendadak ludes.
"Ketahuan, Excel itu bohong. Bisa di edit Excel kan," ujarnya getir. Jerome mengakui kecerobohan terbesarnya adalah tidak melakukan pengecekan mutasi rekening secara berkala. "Kesalahan gua adalah, gua enggak ngecek mutasi," ungkapnya.
Dari total perputaran uang yang diselewengkan sebesar Rp38 miliar, sekitar Rp5-6 miliar dibawa kabur untuk kepentingan pribadi pelaku. "Ternyata duitnya itu dipakai buat nutupin lubangnya dia yang lain," tambah Jerome.
Meski merugi besar, Jerome dan Jehian menunjukkan integritasnya. Mereka memilih menggunakan dana pribadi untuk memastikan operasional tetap berjalan dan kewajiban kepada mitra tetap terpenuhi hingga kontrak berakhir pada April ini.
Ia juga memberikan peringatan keras kepada para pengusaha muda agar tidak mengulangi kesalahannya. "Biggest lesson: Jangan gampang percaya sama orang, meskipun keliatannya udah berpengalaman, bisa aja nilep/menipu," tulis Jerome. Ia menekankan pentingnya memahami detail bisnis dan memiliki kontrak hukum yang sangat kuat sejak awal.
Baca juga: Ditipu di Bisnis Menantea, Jerome Polin Ungkap Kerugian Fantastis hingga Rp38 Miliar
Rupanya, skandal penipuan ini tidak hanya menimpa Menantea. Jerome membeberkan bahwa pola serupa juga dialami oleh deretan bisnis milik publik figur lainnya, seperti Ngikan milik Okin, Nyapii milik Edho Zell, hingga Sempatin milik mendiang Babe Cabita.
"Lebih parah lagi mereka, bang Okin tuh," kata Jerome. Ia menjelaskan bahwa posisi kepemilikan minoritas membuat para artis ini lebih rentan menjadi sasaran empuk oknum pengelola yang tidak bertanggung jawab.
Kini, Menantea bersiap untuk pamit. Sebuah akhir yang pahit dari sebuah perjalanan bisnis, namun menjadi pengingat keras bagi industri kreatif bahwa integritas dan transparansi keuangan adalah fondasi yang tak bisa ditawar.