TRIBUNMADURA.COM, PACITAN - Sejarah berdirinya Perguruan Islam Pondok Tremas di Pacitan, Jawa Timur, tidak dapat dipisahkan dari sosok pendirinya, KH Abdul Manan, ulama yang dikenal memiliki kecerdasan dan ketekunan sejak usia dini, Senin (13/4/2026).
KH Abdul Manan merupakan putra dari R Ngabehi Dipomenggolo, seorang demang di wilayah Semanten, pinggiran Kota Pacitan.
Pada masa kecil, ia dikenal dengan nama Bagus Darso.
Sejak kecil, Bagus telah menunjukkan minat besar terhadap persoalan keagamaan serta dikenal sebagai pribadi yang cerdas.
Memasuki usia remaja, Bagus Darso dikirim oleh ayahnya untuk menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo. Di pesantren tersebut, Bagus belajar di bawah bimbingan Kiai Hasan Besari.
Selama masa pendidikannya, Bagus Darso dikenal sebagai santri yang rajin dan tekun.
Berkat kecerdasan dan ketekunannya, kemampuan dalam memahami ilmu agama dinilai melampaui rekan-rekan sebayanya.
Baca juga: Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan, Dari Tradisional hingga Adaptif Modernisasi
Setelah dinilai cukup dalam menuntut ilmu, Bagus Darso kembali ke Semanten. Di kampung halamannya, ia mulai menggelar pengajian secara sederhana.
Seiring waktu, reputasinya sebagai santri berilmu tinggi menarik minat masyarakat Pacitan untuk belajar agama kepadanya.
Aktivitas pengajian tersebut kemudian berkembang, hingga didirikan pondok sederhana di sekitar masjid untuk menampung para santri dari luar daerah.
Perkembangan tersebut tidak berlangsung lama di Semanten.
Setelah menikah dengan putri R Ngabehi Honggowijoyo yang juga kakak kandung R Ngabehi Dipomenggolo, KH Abdul Manan memutuskan pindah ke Desa Tremas.
Keputusan tersebut dilatarbelakangi pertimbangan kekeluargaan, serta dukungan dari pihak mertua yang menyediakan lokasi jauh dari pusat keramaian.
Kondisi ini dinilai lebih kondusif bagi kegiatan belajar para santri.
Di wilayah Tremas inilah, KH Abdul Manan kemudian mendirikan pondok pesantren yang kelak dikenal sebagai Pondok Tremas pada tahun 1820 M.
Baca juga: Mengenal Pondok Pesantren Lirboyo, Ponpes Legendaris di Kediri dengan Ribuan Santri
Dikutip dari laman pondoktremas.com nama “Tremas” memiliki makna historis yang erat dengan asal-usul wilayah tersebut.
Kata “Tremas” berasal dari dua suku kata, yakni "Patrem" yang berarti "senjata" atau "keris kecil," dan "Mas" yang berarti "emas."
Penamaan ini berkaitan dengan kisah pembukaan hutan di wilayah tersebut oleh seorang penggawa Keraton Surakarta bernama Ketok Jenggot.
Ia mendapat perintah dari raja sebagai bentuk penghargaan atas jasanya dalam menjaga keamanan keraton.
Sebelum pembukaan hutan dilakukan, wilayah tersebut sebenarnya telah dihuni oleh R Ngabehi Honggowijoyo.
Setelah mendapat izin darinya, Ketok Jenggot mulai membuka hutan.
Setelah tugasnya selesai, senjata berupa patrem emas yang dibawanya ditanam di lokasi awal pembukaan hutan.
Dari peristiwa itulah, wilayah tersebut kemudian dikenal dengan nama Tremas.
Baca juga: Jejak Sejarah Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo: Dari Desa Mati hingga Pusat Peradaban Islam