TRIBUNNEWS.COM - Perjalanan untuk ibadah haji dan umrah merupakan perjalanan mulia menuju Baitullah, Kabah.
Sebelum berangkat, jemaah haji dan umrah sebaiknya membaca doa terlebih dahulu.
Kementerian Agama membagikan doa ketika hendak bepergian yang disebutkan dalam hadis.
Dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa ketika keluar rumah membaca: بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ, maka dikatakan kepadanya: ‘Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Orang yang melakukan perjalanan haji dan umrah dapat dikategorikan sebagai musafir atau orang yang melakukan perjalanan jauh dengan tujuan baik.
Doa para musafir merupakan salah satu doa yang mustajab.
Rasulullah SAW. bersabda: “Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi: doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. Tirmidzi)
Selain membaca doa keluar rumah, jemaah haji dan umrah sebaiknya membaca doa ketika naik pesawat.
Mengutip buku Doa dan Zikir Haji dan Umrah 1447 H/2026 M oleh Kementerian Haji dan Umrah RI, berikut doa ketika naik pesawat untuk ibadah haji dan umrah.
Baca juga: Doa Haji Mabrur dan Kunci Ibadah Haji Agar Diterima Allah
Allāhumma bika asta‘īnu, wa ‘alaika atawakkalu. Allāhumma dzallil lī ṣu‘ūbata amrī, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safarī, warzuqnī minal khairi mim mā aṭlubu, waṣrif ‘annī kulla ṣyarr, rabbiṣ-raḥlī ṣadrī wa yassir lī amrī.
Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku memohon pertolongan dan kepada-Mu aku berpasrah. Ya Allah, ringankan kesulitan pada urusanku, mudahkanlah kendala perjalananku, karuniakanlah kebaikan bagiku melebihi apa yang kuminta, palingkanlah segala keburukan dariku. Tuhanku, lapangkanlah hatiku dan mudahkanlah urusanku.”
Bismillāhil‑maliku r-raḥmānir‑raḥīm lā ukhabbiruka ḥaqqa takbīrika faqad aḥṭta bil‑arḍi walā buḥūṭis‑samā’i tasjīduka, wal‑arḍu fī kaffika yawmal‑qiyāmah, wassamā’u uṭwiyat bi qudratika subḥānaka wataʿālayta ʿammā yush'rikūn bismillāhi taḥarraktu wabismillāhi aʿlawtu, wabismillāhi walajtu inna rabbī laghafūrun raḥīm
Artinya: "Dengan Nama Allah Yang Maha Penguasa lagi Maha Pengasih. Tiada mengagungkan Allah sebagaimana semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan kekuasaan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. Dengan Nama Allah di waktu berangkat dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (HR. At-Tabrani)
Bismillāhir‑raḥmānir‑raḥīm
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar
Subḥānalladhī sakhkhara lanā hādhā wa mā kunnā lahu muqrinīna, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn
Allāhumma innā nas’aluka fī safarinā hādhā al‑birra wat‑taqwā, wa mina l‑‘amali mā tardā
Allāhumma hawwin ‘alaynā safaranā hādhā wa athwi ‘annā bu‘dah
Allāhumma anta aṣ‑ṣāḥibu fis‑safari wal‑khalīfatu fil‑ahl
Allāhumma innī a‘ūdhu bika min wa‘tsā’is‑safari wa kā’batil‑manẓar wa sū’il‑munqalabi fil‑māli wal‑ahl
Artinya: "Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha Suci Allah Yang telah menggerakkan untuk kami kendaraan ini padahal kami tiada kuasa menggerakkannya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan, kami pasti akan kembali. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan takwa serta amal perbuatan yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan ini dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah teman dalam bepergian dan pelindung terhadap keluarga yang ditinggalkan. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang menyusahkan dalam harta benda, keluarga, dan anak." (HR. Muslim)
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menjelaskan hikmah beribadah haji dan umrah, sebagai berikut.
Salah satu makna terdalam dari ibadah haji dan umrah adalah sebagai bentuk ketaatan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Setiap rangkaian ibadah yang dilakukan, seperti ihram, thawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah, tidak didasarkan pada logika duniawi, melainkan murni karena menjalankan perintah-Nya.
Ketika seorang muslim rela meninggalkan kenyamanan rumah, pekerjaan, serta keluarga demi memenuhi panggilan Allah, hal tersebut menunjukkan penyerahan diri yang utuh.
Ibadah ini mengajarkan bahwa ketaatan tidak hanya dilakukan saat keadaan mudah, tetapi juga ketika dibutuhkan pengorbanan besar.
Selain itu, jamaah juga dilatih untuk menjaga sikap selama ihram, seperti menahan amarah, menjaga lisan, dan menjauhi larangan.
Proses ini menjadi latihan pengendalian diri yang nyata, sekaligus memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah diketahui. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Haji dan umrah juga memiliki keutamaan sebagai sarana untuk membersihkan diri dari dosa.
Ibadah ini memberikan kesempatan besar bagi seorang muslim untuk kembali dalam keadaan suci, seperti saat dilahirkan, jika dilaksanakan dengan niat yang ikhlas dan sesuai tuntunan.
“Barang siapa menunaikan haji karena Allah, lalu tidak rafats dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Selama menjalankan ibadah ini, jamaah akan menghadapi berbagai tantangan, seperti kelelahan, antrean panjang, dan kondisi lingkungan yang padat.
Semua itu menjadi bagian dari ujian kesabaran yang menguatkan keikhlasan hati. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa ampunan Allah diraih melalui kesungguhan dan kesabaran.
Selain itu, umrah juga memiliki keutamaan dalam menghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan di antara dua waktu pelaksanaannya.
“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibadah ini menjadi momentum penting untuk memperbaiki diri dan memulai kehidupan yang lebih baik dengan hati yang bersih.
Haji dan umrah juga mengajarkan nilai persaudaraan yang sangat kuat di antara umat Islam.
Ketika berada di Tanah Suci, seluruh jamaah mengenakan pakaian ihram yang sama, tanpa membedakan status sosial, kekayaan, maupun jabatan. Semua berdiri setara di hadapan Allah, sehingga yang membedakan hanyalah ketakwaan.
Dalam suasana tersebut, terlihat jelas bagaimana Islam menghapus sekat-sekat sosial. Orang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, semuanya menyatu dalam satu tujuan ibadah.
Hal ini memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian antar sesama muslim.
Lebih jauh lagi, interaksi jutaan jamaah dari berbagai negara mengajarkan pentingnya toleransi, saling menghormati, dan bekerja sama.
Nilai-nilai ini menjadi pelajaran berharga yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta masyarakat yang rukun dan saling membantu.
Pelaksanaan haji dan umrah tidak lepas dari berbagai tantangan yang menguji kesabaran dan keikhlasan.
Perjalanan jauh, kondisi fisik yang melelahkan, serta padatnya jamaah menjadi bagian dari ujian yang harus dihadapi dengan lapang dada.
Dalam setiap tahapan ibadah, seorang muslim dituntut untuk tetap tenang, tidak mudah marah, dan mampu mengendalikan emosi. Kesabaran ini menjadi inti dari pelaksanaan ibadah yang berkualitas.
Salah satu contoh nyata adalah ketika menjalankan sa’i antara Safa dan Marwah.
Ibadah ini mengingatkan pada perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk Nabi Ismail AS, yang penuh dengan kesabaran dan keyakinan kepada pertolongan Allah.
Melalui proses ini, seorang muslim dilatih untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, tabah, dan ikhlas dalam menerima setiap ujian kehidupan.
Hikmah lain dari haji dan umrah adalah tumbuhnya rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT.
Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk menunaikan ibadah ini, sehingga mereka yang diberi kesempatan patut menyadari besarnya nikmat tersebut.
Ketika melihat Ka’bah secara langsung, banyak jamaah merasakan getaran hati yang luar biasa.
Perasaan ini melahirkan kerendahan diri di hadapan Allah, sekaligus kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya.
Selain itu, menyaksikan jutaan umat Islam berkumpul dengan tujuan yang sama juga menumbuhkan rasa syukur atas nikmat iman dan persatuan.
Dari sinilah muncul keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah kembali ke tanah air.
Rasa syukur tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk perilaku sehari-hari, seperti meningkatkan ibadah, berbuat baik kepada sesama, dan menjaga hubungan dengan Allah.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)