Diserang Presiden Amerika Donald Trump, Paus Leo XIV Tegas Tolak Perang Iran
Wawan Akuba April 13, 2026 10:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Pope Leo XIV, pemimpin tertinggi Gereja Katolik, menegaskan akan terus “bersuara lantang” menentang perang.

Hal itu sebagai respons atas serangan pribadi yang tidak biasa dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terkait sikapnya soal kebijakan imigrasi AS dan konflik Iran.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut Paus “lemah terhadap kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri.”

Kritik itu kemudian diperkuat saat ia berbicara kepada wartawan dengan mengatakan dirinya “bukan penggemar” Paus.

Baca juga: Ini Hal yang Membuat Perundingan 21 Jam Amerika dan Iran di Pakistan Gagal Total

Pernyataan tersebut memperlihatkan meningkatnya tensi antara dua figur berpengaruh dengan basis moral dan politik yang sangat berbeda.

Menanggapi hal itu, Paus memilih tidak terlibat dalam debat terbuka. Saat berbicara kepada jurnalis dalam perjalanan menuju Algeria, ia kembali menegaskan komitmennya terhadap perdamaian.

“Saya akan terus bersuara keras menentang perang,” ujarnya, menandakan bahwa kritik politik tidak akan mengubah posisi moralnya.

Sejak awal, Paus dikenal sebagai pengkritik keras perang terhadap Iran. Ia sebelumnya menyebut ancaman untuk menghancurkan peradaban Iran sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima,”.

Ia sekaligus mendesak agar pemerintah Amerika Serikat segera mencari jalan keluar damai atau “off-ramp” guna menghentikan konflik.

Menariknya, respons langsung Paus terhadap kepala negara tergolong jarang terjadi, sehingga pertukaran pernyataan ini menjadi sorotan global.

Paus Leo XIV sendiri mencatat sejarah sebagai Paus pertama asal Amerika Utara, lahir di Chicago, wilayah yang secara politik dikenal condong ke Partai Demokrat.

Dalam dinamika konflik Iran, pola komunikasi kedua pihak juga menjadi perhatian.

Setiap kali pihak Amerika Serikat menggunakan narasi religius untuk membenarkan langkah militernya, Paus kerap merespons secara implisit dengan menegaskan bahwa nama Tuhan tidak boleh dijadikan legitimasi perang, tanpa menyebut pihak tertentu.

Pesan anti-perang Paus juga menguat pada momen Paskah, yang datang setelah sejumlah pernyataan bernuansa religius dari pejabat Amerika, termasuk Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Presiden Trump.

Dalam salah satu unggahannya, Trump bahkan menulis ultimatum keras kepada Iran, menyebut tenggat waktu kesepakatan dan menutupnya dengan kalimat “Kemuliaan bagi Tuhan,” yang memicu reaksi tidak langsung dari Vatikan.

Di tengah eskalasi retorika dan konflik, sikap Paus menegaskan peran Vatikan sebagai suara moral global yang konsisten mendorong dialog dan perdamaian, bahkan ketika harus berhadapan dengan tekanan dari kekuatan politik terbesar dunia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.