Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Pertumbuhan investor pasar modal di Provinsi NTT menunjukkan tren positif yaitu melonjak 72 persen sepanjang tahun 2025. Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan NTT, Adevi Sabath Sofani mendorong agar edukasi dan ekspansi galeri investasi semakin masif.
Kepada POS-KUPANG.COM, Senin (13/4/2026), Adevi mengungkapkan jumlah investor meningkat signifikan hingga 72 persen dibandingkan tahun 2024.
“Pertumbuhan positif investor pasar modal di Provinsi NTT pada tahun 2025 naik signifikan 72 persen dibanding tahun sebelumnya. Tercatat sebanyak 143.368 investor di NTT yang berinvestasi pada berbagai produk pasar modal seperti saham, obligasi, reksadana, ETF, dan derivatif lainnya,” jelas Adevi.
Adevi menyebut, investor pasar modal di NTT saat ini didominasi oleh kalangan karyawan swasta serta mahasiswa dan pelajar.
Baca juga: Bursa Efek Indonesia Target 500 Perempuan Berdaya Tingkatkan Literasi dan Inklusi Pasar Modal di NTT
“Jadi produk investasi yang paling diminati itu masih berada pada instrumen saham dan obligasi,” kata Adevi.
Dalam mendukung pertumbuhan tersebut, kata Adevi, BEI berkomitmen memperkuat agenda reformasi pasar modal nasional melalui penguatan regulasi serta infrastruktur perdagangan. Selain itu, kegiatan edukasi terus digencarkan di seluruh kantor perwakilan, termasuk di NTT.
“Pada tahun 2026, Kantor Perwakilan BEI NTT akan melakukan penambahan distribusi channel berupa Galeri Investasi BEI di Pulau Flores, melaksanakan kegiatan edukasi rutin, serta bekerja sama dengan stakeholder dalam mendorong edukasi dan inklusi secara masif,” jelas Adevi.
Adevi menjelaskan, berbagai program edukasi pun telah dijalankan secara berkelanjutan oleh BEI NTT. Di antaranya pelaksanaan kegiatan edukasi rutin seperti Sekolah Pasar Modal (SPM) dan program BSB setiap bulan, kuliah umum di Galeri Investasi, hingga kelas investor baik secara daring maupun luring yang bekerja sama dengan perusahaan sekuritas.
“Kami juga di BEI NTT membuka ruang edukasi gratis bagi lembaga jasa keuangan (LJK) maupun instansi yang membutuhkan, serta menggelar kegiatan seperti Galeri Investasi Gathering dan Seminar Go Public,” bebernya.
Menurut Adevi, program-program tersebut terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pasar modal.
“Program yang dilakukan sangat efektif, terlihat dari hasil survei kepuasan peserta kegiatan yang menunjukkan respons positif,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Adevi mengatakan, BEI NTT masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mendorong literasi pasar modal di daerah. Di antaranya birokrasi yang dinilai kaku di beberapa lembaga saat proses koordinasi edukasi.
Kemudian, masih adanya stigma negatif akibat maraknya investasi bodong, serta kurangnya konsistensi masyarakat dalam mengikuti edukasi dan mempelajari dasar-dasar analisis investasi.
“Kami berharap ke depan sinergi dengan berbagai pihak dapat terus diperkuat agar literasi dan inklusi pasar modal di NTT semakin meningkat,” pungkas Adevi (mey)