Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrian Mizani | Abdya
SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Harga emas di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kembali mengalami penurunan signifikan pada Senin, 13 April 2026.
Setelah sempat bertahan stabil selama dua hari terakhir, harga emas murni turun tajam hingga Rp100 ribu per mayam (3,3 gram).
Jika sebelumnya emas murni dijual Rp8.400.000 per mayam, kini harganya berada di kisaran Rp8.300.000 per mayam.
Penurunan ini cukup terasa bagi pedagang maupun pembeli, meski daya beli masyarakat disebut masih relatif stabil.
Miswar, salah seorang pedagang emas di Blangpidie menjelaskan, bahwa harga emas murni yang berlaku sudah termasuk ongkos buat.
Ia menambahkan, emas london juga mengalami penurunan tajam dari Rp8.200.000 per mayam, menjadi Rp8.100.000 per mayam.
Sementara itu, emas Antam turun dari Rp2.900.000 per gram, menjadi Rp2.850.000 per gram.
Baca juga: Update Harga Emas Murni di Aceh Hari Ini: Abdya & Langsa Turun Rp100.000 Per Mayam, Cek Daerah Lain
Menurut Miswar, fluktuasi harga emas tidak bisa diprediksi secara pasti karena dipengaruhi oleh kondisi pasar global dan permintaan lokal.
Penurunan harga emas ini tentu menjadi perhatian masyarakat Abdya.
Terutama bagi mereka yang menjadikan emas sebagai instrumen investasi maupun tabungan jangka panjang.
Meski harga turun, sebagian pembeli justru melihatnya sebagai peluang untuk menambah simpanan emas.
Di sisi lain, pedagang tetap berhati-hati dalam menentukan harga jual agar tidak merugikan usaha mereka.
Miswar menegaskan, bahwa perubahan harga emas bisa terjadi sewaktu-waktu, sehingga masyarakat perlu terus memantau perkembangan pasar.
Ia juga menyebutkan bahwa meski harga turun, transaksi di toko emas masih berjalan normal.
“Untuk hari ini, daya belinya masih relatif stabil,” ujarnya.
Dengan kondisi ini, masyarakat Abdya dihadapkan pada dinamika pasar emas yang terus berubah.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini Merosot Tajam di Langsa, Segini Harga Emas Per Mayam 13 April 2026
Penurunan harga emas murni, emas london, dan emas Antam menunjukkan bahwa logam mulia tetap menjadi komoditas yang sensitif terhadap gejolak ekonomi.
Bagi sebagian orang, ini menjadi kesempatan untuk membeli, sementara bagi pedagang, tantangan menjaga keseimbangan harga dan permintaan tetap ada.
Situasi ini sekaligus menegaskan bahwa emas masih menjadi pilihan utama masyarakat sebagai aset berharga yang bernilai jangka panjang.(*)