BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, membuka peluang penambahan bantuan drone pertanian dari pemerintah pusat guna meningkatkan produksi pangan dan efisiensi kerja di sektor pertanian.
Saat ini, bantuan drone yang telah diterima baru berjumlah tiga unit, sementara kebutuhan di lapangan dinilai masih jauh dari mencukupi. Dengan total 25 brigade pangan yang tersebar di wilayah tersebut, keberadaan teknologi modern ini menjadi kebutuhan penting.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Bangka Selatan, Risvandika mengatakan, daerahnya masih berpeluang mendapatkan tambahan bantuan signifikan tahun ini. Kebutuhan drone masih belum terpenuhi secara menyeluruh untuk mendukung operasional brigade pangan. Kondisi ini membuat pemerintah daerah terus mengupayakan tambahan bantuan dari pusat.
“Insya Allah masih ada tambahan bantuan lagi karena sementara ini bantuan diberikan hanya tiga unit,” kata Risvandika kepada Bangkapos.com, Selasa (14/4/2026).
Risvandika berujar, peluang tersebut muncul seiring komitmen pemerintah pusat dalam mendukung modernisasi sektor pertanian melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Terdaoat potensi tambahan hingga 22 unit drone yang dapat dialokasikan untuk Kabupaten Bangka Selatan. Hal ini sejalan dengan janji Menteri Pertanian untuk membantu brigade pangan di daerah tersebut.
Pemerintah daerah pun berupaya aktif agar tambahan bantuan tersebut bisa direalisasikan dalam tahun berjalan. Selain memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, dinas terkait juga menyiapkan berbagai kebutuhan pendukung agar bantuan dapat segera dimanfaatkan. Upaya ini dinilai penting mengingat masih akan ada pembagian alsintan yang dilakukan secara bertahap.
Baca juga: Pemkab Basel Kaji Skema Penggunaan Drone Pertanian, Satu Unit Mampu Jangkau 50 Hektare
“Insya Allah kita berusaha untuk mendapatkan bantuan tersebut pada tahun ini karena masih akan ada pembagian alsintan,” ujar Risvandika.
Penggunaan drone pertanian dinilai mampu memberikan efisiensi tinggi dalam pengelolaan lahan. Satu unit drone bahkan disebut dapat menjangkau hingga 50 hektare lahan dalam sekali penggunaan. Teknologi ini tidak hanya mempercepat proses pemupukan dan penyemprotan, tetapi juga menekan biaya operasional petani.
Selain efisiensi waktu dan tenaga, penggunaan drone juga membantu mengurangi potensi kerugian material. Dengan sistem yang lebih presisi, distribusi pupuk dan pestisida menjadi lebih merata dan terukur. Hal ini berdampak pada penggunaan bahan yang lebih hemat serta meminimalkan kerusakan alat.
“Sehingga tidak merugikan secara materi maupun alat-alat yang digunakan untuk pemupukan ataupun penyemprotan,” sebutnya.
Kendati demikian kata Risvandika, keberadaan drone pertanian ini juga menjadi langkah awal transformasi teknologi di sektor pertanian Bangka Selatan. Saat ini, daerah tersebut menjadi satu-satunya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang telah memiliki fasilitas tersebut. Kondisi ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengadopsi teknologi modern.
“Apalagi alat ini baru dan hanya Kabupaten Bangka Selatan yang memiliki di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ucapnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)