TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Aktivitas berbeda terlihat di kawasan BTN Makkio Baji, C4 No.2, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala.
Warga tampak mengantre sambil membawa berbagai jenis sampah nonorganik di depan Bank Sampah Unit (BSU) Makkio Baji.
Mereka menunggu giliran penimbangan untuk menyetorkan sampah yang telah dipilah dari rumah. Sampah tersebut tidak dibuang, melainkan dijual kepada BSU dan memiliki nilai ekonomi bagi warga.
Kehadiran BSU Makkio Baji di RW 005 menjadi percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Bangkala. Kegiatan penimbangan dimulai sekitar pukul 08.30 Wita setelah Ketua BSU Makkio Baji, Desi Saraswati, tiba di lokasi.
Beragam jenis sampah nonorganik dibawa warga, seperti rak telur, botol plastik, gelas cup, kardus, kantong plastik, besi, dan kertas. Sampah kemudian ditimbang dan dicatat oleh petugas.
Bagi nasabah tetap, hasil penjualan dicatat sebagai tabungan. Sementara itu, warga non-nasabah dapat langsung menerima uang setelah sampah diangkut ke Bank Sampah Pusat (BSP).
Salah satu warga, Damis, mengatakan dirinya rutin menyetorkan sampah setiap ada informasi jadwal penimbangan. “Kami ikut menimbang setiap ada informasi dari grup,” ujarnya.
Ia menyebut sampah yang disetorkan berasal dari rumah tangga dan telah dipilah sebelumnya. Untuk sampah organik, warga mengolahnya menjadi kompos untuk kebutuhan sendiri.
“Kalau sampah dapur tidak dijual, kami olah jadi kompos,” katanya, Selasa (14/4/2026)
Menurut Damis, keberadaan BSU membantu mengurangi volume sampah sekaligus memberikan tambahan pendapatan bagi warga. Dalam sekali penimbangan, warga dapat memperoleh sekitar Rp9 ribu hingga Rp20 ribu.
Sementara itu, Ketua BSU Makkio Baji, Desi Saraswati, mengatakan kegiatan penimbangan dilakukan rutin setiap pekan, biasanya pada akhir pekan. Dalam satu kali penimbangan, jumlah nasabah yang hadir berkisar 40 hingga 50 orang.
Nasabah tidak hanya berasal dari Makkio Baji, tetapi juga dari wilayah lain seperti Baruga, Royal Spring, hingga Emmy Saelan. “Informasi menyebar dari mulut ke mulut,” ujar Desi.
BSU Makkio Baji telah beroperasi sejak Juli 2025 dan memiliki sekitar 230 nasabah terdaftar. Dalam setiap kegiatan, volume sampah yang dikumpulkan mencapai 200 hingga 300 kilogram.
Seluruh sampah dipilah kembali sebelum dijual ke Bank Sampah Pusat. “Biasanya satu atau dua hari setelah penimbangan, sampah sudah diangkut oleh BSP,” kata Desi.
Ia menambahkan, edukasi kepada warga terus dilakukan dengan melibatkan RT/RW serta memanfaatkan media komunikasi kelompok guna meningkatkan partisipasi masyarakat.(*)