TRIBUNJATIM.COM – Kabupaten Nganjuk tak hanya kaya akan sejarah perjuangan, tetapi juga menjadi lumbung pelestarian seni tradisi yang tak lekang oleh waktu.
Salah satu yang paling ikonik adalah Tari Tayub, sebuah seni pertunjukan yang kerap disebut sebagai tari pergaulan.
Kesenian ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang, bahkan jika menilik catatan dari berbagai wilayah, pengaruhnya membentang luas di tanah Jawa. Tayub telah menyatu dengan nafas kehidupan masyarakat agraris.
Tayub merupakan jenis tari pergaulan di mana pengunjung atau penonton dapat terlibat aktif menjadi Penayub untuk menari bersama sang primadona, yakni Waranggana.
Interaksi ini menciptakan kehangatan sosial yang unik dan jarang ditemui pada jenis tarian panggung lainnya.
Tari ini sering kali dianggap mirip dengan Tari Jaipong dari Jawa Barat atau Tari Gambyong dari Jawa Tengah karena unsur keindahan geraknya.
Berdasarkan cerita rakyat yang dikutip dari catatan sejarah masyarakat adat, kesenian ini bahkan pernah dijadikan alat oleh para pejuang kemerdekaan pada abad ke-18.
Tokoh-tokoh seperti Eyang Tubagus Rangin menggunakan keramaian Tayuban untuk mencari informasi mengenai kebijakan pemerintah Hindia Belanda tanpa kecurigaan.
Kini, Tayub Nganjuk terus bertransformasi menjadi identitas budaya yang dibanggakan.
Keberadaannya bukan sekadar hiburan saat hajatan pernikahan atau khitanan, melainkan juga bagian dari ritual besar seperti bersih desa dan perayaan kemerdekaan.
Melalui pengawasan pemerintah dan organisasi seni, wajah Tayub kini semakin bersih dan profesional, menjadikannya magnet wisata budaya yang menarik bagi para pelancong dari luar daerah.
Harmoni Gerak dan Dinamika Kendang
Perbedaan Tayub Nganjuk dengan daerah lainnya, menurut Winarto, mantan Staf Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nganjuk, terletak pada teknik ukelan kendangnya.
Penjelasan ini dikutip dari disperpusip.jatimprov.go.id yang menekankan, bahwa ritme kendang di Nganjuk memiliki karakter yang khas dan dinamis.
Hal inilah yang membuat adrenalin para Penayub terpacu untuk terus menari mengikuti hentakan irama yang dimainkan oleh pengrawit.
Sisi fleksibilitas juga menjadi kekuatan utama Tayub Nganjuk dibandingkan daerah lain.
Penyajian gending dalam pementasannya tidak melulu terpaku pada gending-gending baku yang kaku.
Penayub diberikan kebebasan untuk memesan gending yang disukai, bahkan lagu-lagu dangdut yang telah digubah ke dalam irama Campursarian yang lebih modern dan populer.
Interaksi antara Waranggana dan penonton adalah inti dari keseruan pementasan ini. Penonton yang ingin ikut menari biasanya menunggu giliran atau diajak langsung oleh sang penari wanita.
Prosesi ini ditandai dengan pengalungan selendang atau sampur kepada pria yang diajak menari.
Momen inilah yang sering kali memicu persaingan sehat atau kadang perselisihan antar pria untuk menunjukkan eksistensi mereka.
Meskipun fleksibel, tetap ada etika yang harus dijaga dalam pemesanan lagu. Aturan main di Nganjuk menyebutkan bahwa permintaan gending baru boleh dilakukan setelah gending sebelumnya selesai dibawakan.
Hal ini menunjukkan bahwa meski bersifat hiburan rakyat, Tayub tetap memiliki tatanan seni yang tertib. Keseimbangan antara pakem tradisional dan selera modern inilah yang membuat Tayub Nganjuk tetap digemari oleh lintas generasi.
Terlepas dari teknis musiknya, jumlah penari yang terlibat bisa sangat variatif. Kesenian Bojonegoro yang juga memiliki kemiripan budaya, penari bisa terdiri dari dua orang hingga belasan penari dalam satu panggung.
Di Nganjuk, keberadaan Waranggana senior menjadi pilar utama yang membimbing para juniornya melalui tradisi nyantrik, memastikan kualitas vokal dan gerakan tari tetap terjaga sesuai standar estetika lokal.
Baca juga: Tari Klanthung Ngawi, Kesenian Magis Selama Bulan Suro yang Lahir dari Tradisi Ronda Desa
Rebranding Citra Seni Tayub
Dahulu, Tayub sering kali mendapatkan stigma negatif dari beberapa tokoh agama karena identik dengan minuman keras dan perilaku mesum.
Menyitir jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id, praktik pemberian saweran dengan cara memasukkan uang ke sela-sela pakaian Waranggana sempat merusak citra kesenian ini.
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Nganjuk kini berupaya keras mengembalikan marwah Tayub sebagai kesenian rakyat yang bermartabat.
Langkah konkret yang diambil adalah dengan membentuk organisasi bernama Hiprawarpala (Himpunan Pramugari, Waranggana, dan Pengrawit Langen Tayub).
Organisasi ini bertujuan untuk membina para seniman agar profesional dan tidak terjerumus dalam perilaku negatif.
Melalui Hiprawarpala, setiap pementasan dipantau agar tetap mengedepankan nilai estetika dan etika sosial yang berlaku di masyarakat.
Selain organisasi, muncul pula konsep "Tayub Padang Bulan" sebagai inovasi untuk menjernihkan citra Tayub.
Dalam format ini, aturan ditegakkan dengan sangat keras, yakni dilarang menyediakan minuman keras selama acara berlangsung.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Winarto bahwa dalam Tayub Padang Bulan, giliran menari diatur dengan tertib oleh Pramugari atau pemimpin acara, sehingga kerusuhan akibat mabuk-mabukan dapat diminimalisir.
Pihak kepolisian juga dilibatkan dalam setiap pementasan "Gebyak Tayub" untuk mengawasi ketertiban. Kerja sama antara penggiat seni, pemerintah, dan aparat ini terbukti efektif dalam mengubah persepsi masyarakat.
Jika dulu Tayub dianggap tempat maksiat, kini sebagaimana dikutip dari sumber otoritas budaya Nganjuk, pementasannya telah bertransformasi menjadi atraksi budaya yang bisa dinikmati oleh keluarga dan anak-anak sekolah.
Namun, tantangan masih tetap ada, salah satunya adalah fenomena Waranggana "liar" yang datang tanpa undangan demi mengejar saweran.
Fenomena ini menurut Winarto dapat merusak tatanan manajemen pementasan yang sudah disusun rapi.
Meskipun demikian, dengan adanya komitmen dari para pemilik hajat dan organisasi seni, Tayub Nganjuk perlahan namun pasti mulai meninggalkan bayang-bayang kelam masa lalu dan tampil sebagai seni pertunjukan yang elegan.
Baca juga: Tari Jaranan Buto Banyuwangi yang Unik Magis, Usung Penari Seram dengan Kuda Kepang Berwajah Raksasa
Regenerasi Alami Melalui Tradisi Ngunthulan
Kelestarian Tayub di Nganjuk didukung oleh proses regenerasi yang berjalan sangat alami dan masif.
Di setiap kecamatan dari total 20 kecamatan di Nganjuk, dipastikan memiliki grup Tayub masing-masing.
Dalam setahun terakhir saja tercatat ada sekitar 6 Waranggana yang menjalani proses nyantrik atau belajar kepada guru senior untuk mendalami seni olah vokal dan tari.
Tradisi yang membanggakan dari Nganjuk adalah regenerasi melalui sistem ngunthulan. Dikutip dari penjelasan Winarto, setiap tahunnya terdapat 10 hingga 15 Waranggana muda yang diwisuda.
Wisuda ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan melalui ritual khusus seperti siraman di lokasi Air Terjun Sedudo yang kini telah menjadi atraksi wisata budaya yang sangat populer dan dinantikan oleh masyarakat luas.
Proses pendidikan Waranggana ini dilakukan secara intensif, meskipun kursus formal di padepokan Desa Ngrajek sudah tidak ada lagi.
Calon penari harus memiliki dedikasi tinggi untuk mempelajari ratusan gending dan gerakan tari yang anggun.
Keberhasilan regenerasi ini membuktikan bahwa anak muda Nganjuk masih memiliki minat yang besar untuk meneruskan warisan nenek moyang mereka di tengah arus modernisasi.
Pemerintah juga rutin menggelar lomba Tayub antar kecamatan guna memotivasi para seniman muda.
Menurut catatan Winarto yang sudah purna tugas dari PNS, gairah masyarakat Nganjuk terhadap Tayub masih sangat tinggi.
Hal ini terlihat dari frekuensi pementasan yang tidak pernah sepi, baik di balai desa maupun di tempat-tempat punden yang dianggap keramat sebagai bagian dari ritual bersih desa atau Nyadran.
Dukungan masyarakat pedesaan yang mayoritas berprofesi sebagai petani menjadi tulang punggung bagi eksistensi Tayub. Bagi mereka, Tayub bukan sekadar tontonan, melainkan wujud syukur dan pergaulan sosial yang setara.
Melalui tradisi ngunthulan dan wisuda Waranggana yang sakral, Nganjuk memastikan bahwa suara gamelan dan ayunan sampur tidak akan pernah hilang dari bumi Anjuk Ladang.
Baca juga: Mengenal Tari Remo Lebih Dekat, Kesenian Tradisional Jawa Timur Ciptaan Cak Mo yang Sarat Makna
Tayub Sebagai Alat Diplomasi Budaya
Melihat rekam jejaknya, Tayub tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat diplomasi sosial dan politik sejak zaman dahulu.
Dalam catatan manuskrip kuno tahun 1841, tradisi hiburan Tayuban sudah tercatat resmi dalam undangan para pemimpin daerah atau Kuwu saat mengadakan hajatan khitanan.
Hal ini menandakan, Tayub memiliki posisi penting dalam struktur sosial masyarakat Jawa.
Di era modern, Tayub sering digunakan oleh pemerintah daerah untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan.
Pertunjukan ini sering digelar pada acara kebesaran seperti HUT Kabupaten atau peringatan Hari Kemerdekaan RI.
Dalam pementasan tersebut, Ki Dalang atau Pramugari sering menyelipkan pesan moral dan petuah tentang kehidupan, menjadikan Tayub sebagai media edukasi publik yang sangat efektif di tingkat akar rumput.
Kekuatan hidup seni tradisional ini, terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitas.
Tayub Nganjuk berhasil membuktikan bahwa seni ndeso bisa tetap keren dan relevan.
Dengan tarif yang variatif tergantung jarak dan durasi pementasan, seni ini juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi para seniman, pengrawit, hingga pedagang kecil di sekitar lokasi pementasan.
Melalui sinergi antara sejarah yang kuat dan inovasi yang berkelanjutan, Tari Tayub Nganjuk kini berdiri tegak sebagai salah satu warisan budaya tak benda yang paling berharga.
Dari penuturan para ahli budaya, selama masyarakat masih menghargai ritual dan kebersamaan, maka selendang Waranggana akan terus terayun mesra, menyatukan seluruh elemen masyarakat Nganjuk dalam satu harmoni gerak yang mempesona.
Dengan segala keunikannya, mulai dari ukelan kendang hingga ritual wisuda di Sedudo, Tayub Nganjuk adalah bukti bahwa tradisi bisa tetap bersinar jika dirawat dengan hati.
Kesenian ini mengajak kita untuk melihat bahwa budaya bukan sekadar masa lalu, melainkan energi yang terus mengalir untuk masa depan yang lebih beradab dan berwarna.