Karhutla di Riau Capai 8.555,4 Ha Periode Januari-Maret 2026, Melonjak 10 Kali Lipat Dibanding 2025
Sesri April 15, 2026 01:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau dalam periode Januari hingga Maret 2026, menjadi perhatian serius. 

Total luas lahan terbakar tercatat mencapai 8.555,4 hektare, melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data yang diterima Tribun, sebaran kebakaran pada 2026 menunjukkan beberapa daerah menjadi titik dominan.

Kabupaten Bengkalis mencatat luasan terbesar dengan 3.298,4 hektare, disusul Pelalawan 3.338,6 hektare. 

Kemudian Indragiri Hilir tercatat 744,0 hektare, Kota Dumai 438,4 hektare, serta Siak 248,3 hektare.

Wilayah lainnya juga terdampak, meski dengan luasan lebih kecil, seperti Rokan Hilir 181,6 hektare, Kepulauan Meranti 197,9 hektare, Kampar 52,7 hektare, Kuantan Singingi 27,6 hektare, Indragiri Hulu 14,2 hektare, Rokan Hulu 5,9 hektare, dan Kota Pekanbaru 7,9 hektare.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto menjelaskan, angka tersebut merupakan hasil analisis lintas lembaga.

“Perhitungan ini berdasarkan analisa citra satelit, kerja sama Kementerian Kehutanan, BRIN, dan Kementerian Lingkungan Hidup,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Ia menyebut, sejak awal tahun 2026, Manggala Agni telah meningkatkan kesiapsiagaan melalui patroli terpadu, pemadaman dini, hingga edukasi masyarakat. 

Baca juga: Curah Hujan Mereda, Riau Karhutla Watch Deteksi 2 Hotspot di Kampar

Namun kondisi lahan gambut yang kering di sejumlah wilayah membuat api cepat meluas. Sehingga, personel Manggala Agni menjadi garda terdepan, berjibaku melakukan pemadaman.

Sering kali, para personel harus menginap di hutan berhari-hari demi bisa menangani kebakaran hingga tuntas.

Personel pun harus menghadapi sejumlah tantangan dan hambatan. Seperti minim atau jauhnya sumber air, cuaca panas, angin kencang, dan sebagainya.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, lonjakan pada 2026 tergolong sangat signifikan. 

Pada periode Januari–Maret 2025, total luas karhutla di Riau hanya 679,8 hektare. Sementara pada 2024 tercatat 2.947,4 hektare dan 2023 sebesar 507,7 hektare.

Artinya, luas kebakaran pada awal 2026 meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan 2025, dan hampir tiga kali lipat dibandingkan 2024.

Ferdian juga mengingatkan, kondisi saat ini belum memasuki puncak musim rawan kebakaran.

“Kalau dari prediksi BMKG, puncak potensi Karhutla justru nanti di Juni sampai September. Ini perlu kita waspadai sekali,” katanya.

Ia menambahkan, terdapat dua kemungkinan yang bisa terjadi pada periode berikutnya.

Pertama, luas kebakaran bisa menurun karena sebagian lahan sudah terbakar di awal tahun. Namun di sisi lain, potensi justru bisa meningkat.

“Ada dua kemungkinan, bisa jadi periode selanjutnya tidak seluas saat ini karena kondisi sudah banyak terbakar. Atau prediksi kedua, malah akan lebih meningkat,” jelasnya.

Menurutnya, situasi ini harus menjadi bahan evaluasi bersama seluruh pihak.

“Terlepas dari itu, semuanya harus menjadi kewaspadaan. Kita harus mengevaluasi periode pertama kemarin, artinya masih banyak yang perlu dibenahi ke depan,” tegasnya.

Dengan tren peningkatan ini, Manggala Agni bersama seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat langkah pencegahan dan penanganan, terutama menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi akan meningkatkan risiko Karhutla di Riau.

(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.