Deretan Kisah Jemaah Haji Muda DIY: Ada yang Menanti 15 Tahun, hingga Gantikan Ayah yang Wafat
Joko Widiyarso April 15, 2026 03:14 PM

 

 
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Usia muda tidak menyurutkan kekhusyukan dan kesiapan sejumlah warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menunaikan ibadah haji pada tahun ini. 

Dalam momen pelepasan dan Pamitan Jemaah Haji DIY yang digelar di Kompleks Kepatihan, Pemerintah Daerah DIY, Rabu (15/4), keberangkatan para jemaah haji muda ini diwarnai berbagai kisah penuh haru.

Cerita menjalankan rukun Islam kelima ke Tanah Suci dimulai dari penantian belasan tahun sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, hingga bakti menggantikan sosok ayah yang telah berpulang.

Salah satu kisah datang dari Ashila Metta, jemaah haji berusia 23 tahun asal Kota Yogyakarta. 

Keberangkatannya ke Tanah Suci pada tahun ini merupakan buah dari perencanaan matang kedua orang tuanya sejak belasan tahun silam.

Ia kini berangkat mendampingi sang ibu yang berusia 53 tahun, sementara ayah dan adiknya masih menunggu antrean jadwal keberangkatan.

"Kalau daftar, alhamdulillah didaftarin orang tua di waktu SD sekitar umur 12 tahun. Waktu kelas 6. Dari awal daftarnya sama ibu. Kalau ayah rencananya insyaallah masih nunggu jadwal sama adik," tutur Metta saat ditemui di Kompleks Kepatihan.

Menjalankan ibadah haji di usia muda yang diiringi dengan persiapan fisik, mental, serta perlengkapan memadai, membawa kebahagiaan tersendiri bagi Metta.

Meski demikian, ia tidak menampik adanya tanggung jawab lebih yang harus diemban selama berada di Tanah Suci.

"Sedikit pressure karena mendampingi orang tua juga. Jadi penginnya bisa fokus ibadah buat diri sendiri, tetapi juga bisa membersamai senior-senior yang lebih tua dari kami, semoga bisa saling membantu dan bekerjasama dengan baik," tambahnya.

Menggantikan almarhum Ayah

Kisah pengabdian dan panggilan spiritual yang tak kalah menggugah juga dialami oleh Septia Qoiriah (23), jemaah haji muda asal Kabupaten Sleman. 

Berbeda dengan Metta, keberangkatan Septia tahun ini untuk mendampingi ibunya sekaligus membawa amanah besar, yakni menggantikan porsi haji sang ayah yang telah meninggal dunia lima tahun lalu.

Septia mengaku sempat tidak menduga bahwa dirinya akan menginjakkan kaki di Tanah Suci pada usia yang terbilang muda.

"Pertama kaget, nggak nyangka di umur segini kita bisa menjalankan ibadah haji. Alhamdulillah itu semua panggilan dari Allah. Jadi sebisa mungkin memaksimalkan. Kalau saya bapak sudah meninggal, terus menggantikan bapak," ungkap Septia.

Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang saat ini tengah memanas juga sempat membuatnya terkejut. Namun, keyakinannya tidak goyah. Septia memfokuskan dirinya pada kesiapan fisik sebagai langkah antisipasi utama selama menjalankan rangkaian ibadah.

"Persiapan jaga kesehatan yang pasti. Namun karena ini panggilan, ya dijalani saja," pungkasnya mantap.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.