Korban Keracunan MBG di SMPN 3 Jetis Belum Masuk, Kepsek : Fokus Pemulihan Stamina dan Psikis
Hari Susmayanti April 15, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Puluhan siswa yang mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 3 Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, belum masuk sekolah.

Mereka diperkenankan istirahat selama tiga hari.

Kepala SMP Negeri 3 Jetis, Widodo, mengatakan, jumlah korban yang mengalami gejala keracunan MBG sebanyak 75 siswa serta 30 guru dan karyawan.

Puluhan siswa tersebut belum masuk sekolah agar fokus pada pemulihan stamina dan psikis.

"Yang kemarin ke Puskesmas itu masih kami izinkan di rumah untuk memulihkan stamina dan psikisnya. Untuk yang tidak ke Puskesmas (tidak terkena diduga keracunan), kami imbau untuk masuk mengikuti kegiatan belajar mengajar," katanya kepada wartawan saat dijumpai di SMP Negeri 3 Jetis, Rabu (15/4/2026).

Sampai saat ini, pihaknya belum bisa memastikan sumber penyebab keracunan yang menimpa ratusan korban tersebut.

Namun, pada hari sebelumnya yakni Senin (13/4/2026), mereka mengonsumsi makanan yang sama.

Kala itu, siswa mendapatkan menu makan berupa nasi dengan ayam bakar, sayur sawi, tahu goreng, dan buah semangka. Dugaan sementara penyebab keracunan itu dari daging ayam. 

"Dari teman-teman yang kemarin mendistribusikan ke anak-anak secara langsung itu sepertinya diduga ayamnya. Pada waktu pendistribusian belum begitu terasa (belum terasa tidak enak)," bebernya.

Sementara itu, NIK, koordinator penerima MBG sekaligus wakil kepala SMP Negeri 3 Jetis, menyebut, berdasarkan pernyataan para siswa dan guru yang mengonsumsi MBG tersebut tidak memiliki rasa aneh.

"Katanya, rasa makanan itu enak-enak aja, enggak masalah. Cuma baunya agak sreng (menyengat). Kalau basi sih enggak. Kalau basi kan kita hentikan. Itu cuma agak bau," ucap dia.

Baca juga: Komentar Warga Yogyakarta soal Arah Baru MBG: Lebih Tepat Sasaran untuk Anak Kurang Gizi

Disampaikannya, gejala keracunan ini awalnya dirasakan oleh tujuh siswa.

Mereka melapor ke pihak sekolah kalau mengalami diare pada Selasa (14/4/2026).

Pihak sekolah langsung bergerak cepat dengan membawa tujuh siswa tersebut ke Puskesmas Jetis 2 untuk mendapatkan perawatan medis.

Beberapa waktu kemudian, korban lain turut merasakan gejala keracunan dan akhirnya dilarikan ke Puskesmas. 

Akhirnya, sejumlah guru mendatangi masing-masing kelas untuk bertanya siapa saja yang mengalami gejala diduga keracunan agar segera mendapat penanganan.

"Karena ada kejadian luar biasa, pagi itu juga siswa kami informasi untuk libur sekolah dan beberapa siswa yang mengalami gejala diduga keracunan langsung kami antar ke Puskesmas. Yang sempat pulang juga diantar orang tuanya untuk berobat ke Puskesmas," jelas dia.

Untuk guru dan karyawan SMP Negeri 3 Jetis yang mengalami diduga keracunan, kata NIK sudah mendapatkan pengobatan mandiri.

Namun, beberapa guru lainnya yang juga mendapatkan MBG, mengaku tidak sempat mengonsumsi MBG dikarenakan sedang puasa Senin-Kamis.

"Saya, pak kepala, sama beberapa guru lain saat itu sedang puasa. Terus ada juga guru yang sedang terkena musibah. Jadi enggak makan MBG. Tapi, rata-rata yang makan MBG itu mengalami diare," ucap NIK.

Adapun proses distribusi MBG pada hari Senin, kata NIK dilakukan sebanyak dua kali yakni pukul 10.00 WIB sejumlah 510 pack MBG.

Lalu disusul pada pukul 11.00 WIB sejumlah 203 pack MBG. Distribusi dua kali itu terjadi dikarenakan untuk meminimalisasi crowded.

"Jumlah penerima MBG di tempat kami ada 658 siswa dan 55 guru. Total ada sekitar 713 penerima manfaat MBG," ucap NIK.

Sehari kemudian, proses distribusi MBG kembali dilakukan. Hanya saja, dikarenakan terjadi kejadian luar biasa maka proses distribusi MBG dihentikan.

Apalagi pembelajaran di SMP Negeri 3 Jetis kala itu sudah tidak kondusif dan anak-anak sudah banyak yang bolak balik antre ke toilet. 

"Nah, hari Selasa itu masih ada guru yang menyimpan sampel MBG, sehingga dibawa untuk uji laboratorium. Kami belum tahu hasil lab itu akan keluar kapan," ujarnya.

Korban tersebut telah mendapatkan penanganan Kesehatan di Puskesmas Jetis 2. Sejauh ini tidak ada korban yang menjalani rawat inap. 

Keadaan para korban mulai membaik, sehingga diperbolehkan pulang dan hanya mendapatkan rawat jalan.(nei)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.