Krisis Energi, Konsumen Asia Tenggara Lirik Mobil Listrik
Tribunnews April 15, 2026 03:35 PM

Kenaikan harga energi global akibat perang Iran mendorong negara-negara Asia Tenggara mempercepat pengembangan kendaraan listrik. Lonjakan harga minyak membuat konsumen dan pemerintah di kawasan ini mulai mencari alternatif terhadap kendaraan berbahan bakar fosil.

Harga minyak mentah dunia telah melonjak sekitar 50 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari dan kembali menembus 100 dolar AS per barel. Kondisi ini membuat biaya bahan bakar meningkat tajam.

Gangguan pasokan energi juga terkait dengan situasi di Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya mengalirkan sebagian besar minyak dan gas menuju Asia. Banyak negara di kawasan kini berusaha menghemat energi sekaligus memperkuat cadangan mereka.

Di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto pada Maret mengumumkan dorongan baru bagi kendaraan listrik, termasuk rencana memproduksi mobil listrik serta memperluas infrastruktur pengisian daya.

“Impian transportasi listrik kembali mendapat perhatian,” kata Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute, sebuah lembaga pemikir di Jakarta.

Perusahaan-perusahaan dari Cina memainkan peran penting dalam rantai pasok energi bersih Indonesia. Mereka menandatangani proyek senilai lebih dari 54 miliar dolar AS (sekitar Rp864 triliun) dengan Perusahaan Listrik Negara pada 2023 serta menambah komitmen investasi sebesar 10 miliar dolar AS (sekitar Rp160 triliun) ketika Prabowo berkunjung ke Beijing pada 2024.

Konsumen beralih dari mobil bensin

Lonjakan harga bahan bakar juga mulai mengubah perilaku konsumen di Asia. Banyak pembeli kini mempertimbangkan kendaraan listrik untuk menekan pengeluaran rumah tangga.

Di Hanoi, Vietnam, pekerja kantor Do Thi Lan mengatakan keluarganya sedang mempertimbangkan membeli kendaraan listrik karena biaya bensin terus meningkat.

“Kami harus menghitung pengeluaran bulanan karena uang yang kami keluarkan untuk bensin terus naik,” katanya saat mengunjungi ruang pamer atau showroom kendaraan listrik VinFast.

Lan mengatakan keluarganya saat ini masih menggunakan mobil berbahan bakar bensin, tetapi mulai mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai pilihan yang lebih hemat.

Dao Thi Hue, yang bekerja sebagai guru, juga mengunjungi showroom tersebut menyampaikan pandangan serupa.

“Mengendarai kendaraan listrik jauh lebih baik dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak, baik dari sisi biaya maupun karena tidak perlu antre untuk mengisi bahan bakar,” ujarnya.

Penjualan kendaraan listrik melonjak

Perubahan preferensi konsumen segera terlihat pada angka penjualan kendaraan listrik di kawasan.

Di Vietnam, produsen kendaraan listrik VinFast melaporkan penjualan mobil mencapai 27.600 unit pada Maret, meningkat 127 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sekitar 40 persen mobil yang terjual di Vietnam pada 2025 sudah merupakan kendaraan listrik, dan tren tersebut kini semakin cepat.

Pham Minh Hai, wakil kepala penjualan di showroom VinFast, mengatakan biaya bahan bakar kini menjadi faktor penting dalam keputusan konsumen.

“Saat ini pelanggan sangat mempertimbangkan biaya bahan bakar ketika memilih mobil yang akan dibeli,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa showroom biasanya menjual sekitar 200 hingga 250 mobil per bulan, tetapi pada Maret angka tersebut meningkat menjadi sekitar 300 hingga 400 unit.

Menurut Pham Minh Hai, lebih dari 50 persen pelanggan bulan lalu beralih dari mobil berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik. Jumlah pengunjung showroom juga meningkat sekitar 30 persen sehingga jam operasional harus diperpanjang.

Produsen kendaraan listrik Cina raih momentum

Lonjakan permintaan kendaraan listrik di Asia Tenggara juga memberikan peluang bagi produsen dari Cina.

Pada ajang Bangkok Auto Show awal bulan ini di Thailand, produsen kendaraan listrik BYD memperoleh pesanan terbanyak dibandingkan produsen lain, bahkan melampaui Toyota untuk pertama kalinya.

Seorang apoteker, Pleng Nawintham, mengatakan kenaikan harga bahan bakar menjadi alasan utama ia mempertimbangkan kendaraan listrik.

“Saya berkendara hampir 100 kilometer setiap hari. Dengan situasi bahan bakar sekarang dan tidak tahu berapa lama akan berlangsung, itu menjadi faktor besar yang mendorong saya beralih,” katanya

Di Filipina, manajer showroom BYD Mae Anne Clarisse Bacquiano mengatakan jumlah pengunjung dealer meningkat tajam. “Semua ini terjadi karena kenaikan harga bahan bakar,” katanya.

Menurut Bacquiano, seluruh stok kendaraan untuk bulan tersebut sudah dipesan oleh pembeli.

Produsen Cina kini semakin agresif memperluas pasar internasional. BYD mengatakan kepada analis bahwa ekspor kendaraan pada 2026 diperkirakan dapat melampaui 1,5 juta unit, lebih tinggi dari target sebelumnya sebesar 1,3 juta unit.

Data asosiasi industri China Passenger Car Association (CPCA) juga menunjukkan bahwa ekspor kendaraan listrik Cina meningkat dua kali lipat pada Maret dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pergeseran energi global berpotensi menguntungkan Cina

Gangguan pasokan energi global akibat perang Iran juga diperkirakan akan mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi bersih. Para analis menilai perubahan ini berpotensi menguntungkan industri energi bersih Cina.

Cina saat ini mendominasi rantai pasok teknologi energi bersih dunia. Menurut International Energy Agency, negara tersebut memproduksi lebih dari 70 persen kendaraan listrik global serta sekitar 85 persen sel baterai dunia.

Ekspor teknologi energi bersih Cina, termasuk panel surya, baterai, dan kendaraan listrik, juga meningkat tajam. Nilainya mencapai hampir 22,3 miliar dolar AS (sekitar Rp356,8 triliun) pada Desember, naik sekitar 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pendekatan Cina terhadap pengembangan sektor energi dan geopolitik sepenuhnya terbukti oleh konflik Iran,” kata Sam Reynolds dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis.

Investor juga mulai bereaksi terhadap perubahan ini. Pada Maret, saham perusahaan baterai CATL yang diperdagangkan di Hong Kong naik sekitar 24 persen, sementara saham produsen kendaraan listrik BYD meningkat sekitar 11 persen.

“Guncangan energi ini akan membantu industri Cina secara global dan merugikan industri mobil Amerika secara global,” kata Amy Myers Jaffe dari Center for Global Affairs di New York University.

Para analis menilai krisis energi yang dipicu konflik geopolitik dapat mempercepat permintaan global terhadap kendaraan listrik dan teknologi energi bersih, sektor yang saat ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan dari Cina.

Editor: Arti Ekawati

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.