Di Tengah Skandal FH UI, Mahasiswa ITB Dituding Lecehkan Wanita Gegara Lagu 'Erika', Kini Minta Maaf
jonisetiawan April 15, 2026 03:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Riuh tepuk tangan dan irama musik yang mengalun di sebuah panggung kampus mendadak berubah menjadi perdebatan panas di ruang publik.

Sebuah video yang menampilkan penampilan Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) Institut Teknologi Bandung viral di media sosial, memicu gelombang kritik akibat lirik lagu yang dinilai melecehkan perempuan.

Lagu berjudul “Erika” yang dinyanyikan dalam suasana penuh semangat itu kini justru menjadi pusat kontroversi, terutama setelah rekaman berdurasi hampir empat menit tersebut menyebar luas dan menuai reaksi keras dari warganet.

Baca juga: Bela Anak, Lupa Korban: Heboh Grup Chat Ortu Mahasiswa FH UI, Minta Pelaku Pelecehan Tak di-DO

Lirik Jadi Sorotan, Publik Bereaksi

Dalam video yang beredar, tampak mahasiswa laki-laki dan perempuan memenuhi area panggung, berjoget mengikuti alunan musik. Namun, suasana yang semula dianggap hiburan berubah menjadi polemik ketika publik menyoroti isi lirik lagu.

Salah satu bagian yang paling disorot adalah kalimat:

“Erika buka celana... sambil bawa botol Fanta... siapa mau boleh coba”

Lirik tersebut dinilai mengandung unsur objektifikasi dan merendahkan perempuan, sehingga memicu kecaman luas di media sosial.

Bukan Lagu Baru, Tapi Dinilai Tak Lagi Relevan

Di tengah kritik yang menguat, sebagian pihak menyebut bahwa lagu “Erika” bukanlah karya baru.

Lagu tersebut diklaim telah ada sejak puluhan tahun lalu dan menjadi bagian dari tradisi lama di lingkungan organisasi mahasiswa.

Namun, justru di sinilah letak persoalannya. Banyak yang menilai bahwa meskipun lagu itu berasal dari era lama, penggunaan kembali tanpa mempertimbangkan perkembangan norma sosial saat ini merupakan bentuk kelalaian.

LAGU MAHASISWA ITB - Viral video yang menampilkan lagu yang dinyanyikan OSD Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB yang memuat lirik dianggap melecehkan perempuan. (Twitter atau X)

Sensitivitas Meningkat di Tengah Kasus Lain

Kontroversi ini semakin membesar karena muncul di waktu yang sensitif.

Publik sebelumnya juga tengah dihebohkan dengan dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Unggahan dari media sosial yang menampilkan percakapan grup mahasiswa FH UI memperlihatkan dugaan komentar bernuansa seksual terhadap perempuan.

Hal ini membuat isu terkait penghormatan terhadap perempuan di lingkungan kampus semakin menjadi perhatian serius.

Baca juga: Mendiktisaintek Ngamuk! Pastikan 16 Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Tak Bisa Lari dari Jerat Hukum

Pernyataan Resmi dan Permintaan Maaf

Menanggapi polemik yang berkembang, Himpunan Mahasiswa Tambang ITB akhirnya menyampaikan pernyataan resmi.

Dalam sikapnya, mereka mengakui adanya kelalaian dan menyampaikan permohonan maaf kepada publik.

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas beredarnya lagu yang menimbulkan keresahan publik.

Kami sangat memahami dan menyadari sensitivitas isu ini dan menyampaikan keprihatinan serta empati kepada masyarakat, khususnya perempuan.” dikutip TribunTrends dari Instagram Himpunan Mahasiswa Tambang ITB, Rabu, 15 April 2026.

Mereka juga menjelaskan latar belakang lagu tersebut:

“Perlu kami sampaikan bahwa Orkes Semi Dangdut HMT-ITB (OSD) merupakan salah satu unit kegiatan yang berada dalam lingkup HMT-ITB yang telah berdiri sejak tahun 1970-an dan untuk lagu berjudul “Erika” dibuat pada tahun 1980-an.

Kami menyadari bahwa merupakan sebuah kelalaian untuk tetap menampilkan lagu tersebut dengan perkembangan norma sosial dan kesusilaan di masyarakat dewasa ini.”

Lebih lanjut, HMT-ITB menegaskan sikap organisasi:

“Kami dengan tegas mengakui bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung oleh lingkungan akademik dan organisasi kemahasiswaan.

HMT-ITB dengan tegas menyatakan bahwa kami tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu atau kelompok manapun.”

Langkah Konkret: Evaluasi dan Penarikan Konten

Sebagai bentuk tanggung jawab, HMT-ITB mengambil sejumlah langkah tegas, termasuk menarik konten dari berbagai platform.

“Kami telah berkoordinasi dengan para pihak terkait untuk segera menurunkan (take down) konten video dan audio dari kanal resmi HMT-ITB serta penghapusan dari akun-akun individu yang terafiliasi, termasuk video tahun 2020 yang beredar di masyarakat.”

Baca juga: BEM UI Desak Rektor Segera DO 16 Mahasiswa FH Pelaku Pelecehan, Minta Kemendikti Turun Tangan

Tak berhenti di situ, evaluasi internal juga dilakukan:

“Kami melakukan evaluasi internal secara komprehensif terhadap konten, pelaksanaan, serta pengawasan kegiatan atas lagu terkait dan lagu yang mengandung unsur serupa, serta meninjau kembali standar dan pedoman kegiatan organisasi agar selaras dengan nilai-nilai etika yang berkembang di lingkungan Kampus ITB dan dalam masyarakat.”

Kasus ini menjadi pengingat bahwa tradisi dan kebiasaan lama tidak selalu relevan dengan nilai-nilai masa kini.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan isu kesetaraan dan penghormatan terhadap individu, lingkungan akademik dituntut untuk lebih peka dan adaptif.

Apa yang terjadi bukan sekadar soal sebuah lagu, melainkan tentang bagaimana ruang pendidikan seharusnya menjadi tempat yang aman, inklusif, dan menjunjung tinggi martabat semua pihak.

***

(TribunTrends/Jonisetiawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.