Kekurangan Zat Besi pada Anak Bisa Turunkan Tingkat Kecerdasan
Willem Jonata April 15, 2026 06:34 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang tua masih mengira masalah gizi pada anak hanya soal berat badan atau tinggi badan. 

Padahal, dampaknya bisa jauh lebih dalam, termasuk memengaruhi kecerdasan hingga daya tahan tubuh anak.

President of Indonesian Nutrition Association sekaligus dokter klinik gizi senior Dr. dr. Luciana Budiati Sutanto, MS, Sp.GK, Subsp.PK mengungkap bahwa kekurangan zat besi pada anak memiliki dampak serius yang sering tidak disadari.

Ia menegaskan bahwa masalah ini sudah terbukti dalam berbagai penelitian, termasuk dari Indonesia Health Development Center.

Baca juga: Dokter Ingatkan Bahaya Kekurangan Zat Besi pada Anak, Bisa Berdampak Seumur Hidup

“Pada anak-anak, ini tadi sudah terbukti dari penelitian di IHDC, bahwa dampak defisiensi besi pada anak menyebabkan penurunan kognisi,” ujarnya pada konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026). 

Kekurangan zat besi tidak hanya berdampak pada satu aspek, tetapi menyerang banyak sisi tumbuh kembang anak sekaligus.

Mulai dari kemampuan belajar, perkembangan motorik, hingga kemampuan bicara bisa ikut terganggu. Bahkan, anak juga menjadi lebih rentan sakit karena daya tahan tubuhnya menurun.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini sering terlihat dari anak yang mudah lelah, sulit fokus, atau tampak lebih lambat dibandingkan teman sebayanya.

Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari bahwa hal tersebut bisa berkaitan dengan kekurangan zat besi.

Masalah gizi pada anak bersifat kompleks dan saling berhubungan. Kekurangan zat besi bisa memicu penurunan nafsu makan, yang akhirnya berdampak pada kurangnya asupan kalori dan protein.

Jika kondisi ini terus berlanjut, anak bisa masuk dalam lingkaran masalah gizi yang sulit diputus.

“Anak yang kurang besi menjadi kognitifnya terganggu. Selera makan jadi turun, makannya jadi rendah. Total kalorinya jadi rendah dan asupan proteinnya juga jadi rendah,” jelasnya.

Dampak berlapis ini membuat anak semakin rentan terhadap penyakit. Ketika anak sering sakit, pertumbuhan pun semakin terganggu, dan perkembangan otak ikut terdampak.

Bukan Soal Makanan Mahal, Tapi Variasi

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah pola makan anak yang monoton. Padahal, kunci utama pemenuhan zat besi adalah variasi makanan.

Zat besi bisa didapat dari dua sumber utama, yaitu hewani (hem) seperti daging, ayam, ikan, dan telur, serta nabati (non-hem) seperti sayur dan kacang-kacangan.

Namun, anak tidak boleh hanya mengandalkan satu jenis makanan saja.

“Jadi kalau makannya itu-itu terus, kita justru tidak mendapatkan zat besi yang lengkap. Harusnya gimana? Harusnya bervariasi,” tegasnya.

Idealnya, anak mengonsumsi berbagai jenis makanan setiap hari. Bahkan, dianjurkan ada hingga 20 variasi makanan dalam seminggu untuk memenuhi kebutuhan gizi secara optimal.

Masih banyak orang tua yang bertanya, makanan apa yang bisa membuat anak pintar. Padahal, menurut dr. Luciana, kecerdasan anak tidak bisa dipisahkan dari kondisi tubuh secara keseluruhan.

Otak adalah bagian dari tubuh. Jika tubuh kekurangan nutrisi, maka otak juga tidak bisa berkembang dengan optimal.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya fokus pada satu jenis makanan atau suplemen, tetapi memastikan anak mendapatkan gizi seimbang setiap hari.

 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.