Bukan Hanya Bittuang, Proyek Geothermal Juga Akan Dibangun di Sangalla Tana Toraja
Imam Wahyudi April 15, 2026 07:47 PM

TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Rencana pengembangan proyek geothermal di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan.

Setelah Kecamatan Bittuang, kini Kecamatan Sangalla disebut masuk dalam tahapan pengembangan proyek yang tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Dalam dokumen tersebut, proyek geothermal tersebar di 23 titik di Sulawesi Selatan, termasuk wilayah Tana Toraja.

Di Kecamatan Bittuang, proyek bahkan telah memasuki tahap pelelangan Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE).

Sementara itu, di Kecamatan Sangalla, proyek dilaporkan telah berada pada tahap survei rinci atau detail.

Informasi titik-titik lokasi proyek tersebut juga tercantum dalam peta yang bersumber dari portal Kementerian ESDM.

Seiring perkembangan tersebut, perhatian masyarakat menyoroti potensi dampak terhadap lingkungan dan sumber daya alam.

Berdasarkan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), wilayah Bittuang dan Sangalla termasuk kawasan rawan bencana longsor.

Catatan sebelumnya, longsor pernah terjadi di Bittuang pada Januari 2020 yang menimbulkan korban jiwa, serta di Sangalla pada November 2010 yang menyebabkan warga mengungsi.

Selain itu, keberadaan sumber mata air di kedua wilayah juga menjadi perhatian.

Sumber air tersebut selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk pertanian.

Aktivis pemuda Sangalla, Garsia Bandaso, menyebut wilayah Sangalla memiliki sumber air penting seperti Makula yang dinilai berpotensi terdampak proyek geothermal.

“Kalau di Bittuang ada Buntu Karua sebagai sumber pengairan, di Sangalla ada Makula yang juga menjadi titik vital,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Ia menilai aktivitas pengeboran dalam proyek geothermal berpotensi memengaruhi kondisi bawah tanah, termasuk akuifer dan ketersediaan air.

Menurutnya, perubahan struktur geologi akibat eksplorasi dapat berdampak pada kestabilan tanah serta keberlanjutan sumber air, mengingat karakteristik wilayah Tana Toraja yang didominasi pegunungan dan batuan sedimen yang menyerap air.

Karena itu, ia berharap setiap tahapan proyek dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan aspek lingkungan serta keselamatan masyarakat di sekitar lokasi.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.