Mahasiswa Unika Ruteng Soroti Tes Kompetensi Akademik: Solusi Evaluasi atau Beban Baru Siswa?
Nofri Fuka April 15, 2026 09:47 PM

Oleh: Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Ardianus kowot, Maria Yasinta Gunur, Alfriani Renata Daiman

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Penerapan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai kebijakan evaluasi pendidikan nasional mulai menuai beragam respons dari sekolah. 

Di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pelaksanaan TKA di sejumlah sekolah menunjukkan dinamika kesiapan yang belum merata, baik dari sisi akademik, mental siswa, maupun sarana pendukung.

Di SMAN 1 Langke Rembong, Wakil Kepala Sekolah sekaligus Ketua Panitia TKA, WJ, mengakui bahwa kesiapan siswa masih belum optimal. 

Menurutnya, siswa masih beradaptasi dengan model soal TKA yang menuntut kemampuan analisis lebih tinggi dibandingkan dengan soal konvensional.

 

Baca juga: Aksi Pencurian Meningkat, Mahasiswa Unika Ruteng Ingatkan Warga Tenda Lebih Waspada

 

 

“Banyak siswa yang sebenarnya berprestasi tetap terkejut karena bentuk soal berbeda dari yang biasa mereka hadapi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pada awalnya siswa sempat merasa cemas karena mengira TKA berkaitan dengan kelulusan. 

Namun, setelah diberikan pemahaman bahwa TKA hanya bertujuan untuk evaluasi, kondisi psikologis siswa mulai membaik.

Senada dengan itu, guru SMAN 1 Langke Rembong, WS, menekankan pentingnya kesiapan mental dalam menghadapi TKA. 

“Rasa cemas bisa mengganggu konsentrasi siswa. Karena itu, pembiasaan melalui latihan dan simulasi sangat penting agar siswa lebih siap menghadapi situasi ujian,” katanya.

Sementara itu, di SMP Widya Bhakti Ruteng, pihak sekolah mengaku telah melakukan berbagai upaya, seperti bimbingan tambahan dan pelatihan khusus literasi serta numerasi. 

Ada Kendala Teknis

Kepala sekolah, TA, menyebutkan bahwa persiapan akademik sudah berjalan maksimal, meski masih terdapat kendala teknis saat pelaksanaan ujian.

“Guru tidak dapat mendampingi langsung di ruang ujian, sementara soal yang dihadapi setiap siswa berbeda karena sistem komputerisasi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan kesesuaian materi,” jelasnya.

Keterbatasan sarana juga menjadi hambatan. Guru SMP Widya Bhakti, DS, mengungkapkan bahwa sekolahnya harus berbagi fasilitas komputer dengan sekolah lain. Selain itu, siswa juga perlu dilatih keterampilan dasar teknologi seperti mengetik dan menggunakan perangkat lunak.

“Program ini baik, tetapi perlu persiapan yang matang. Idealnya, pelatihan komputer sudah diberikan sejak awal tahun ajaran,” ujarnya.

Di tingkat sekolah dasar, SDK Cewonikit juga menghadapi tantangan serupa. Kepala sekolah, EJ, menjelaskan bahwa TKA bertujuan untuk memetakan kemampuan dasar siswa, bukan sebagai penentu kelulusan.

“Kami telah melakukan bimbingan intensif selama dua bulan, termasuk latihan soal dan simulasi. Namun, karena ini program baru, efektivitasnya masih belum bisa dievaluasi secara menyeluruh,” katanya.

Guru SDK Cewonikit, RH, menambahkan bahwa rendahnya pemahaman siswa tentang tujuan TKA berdampak pada motivasi belajar. Selain itu, keterbatasan waktu persiapan dan adaptasi terhadap sistem baru menjadi kendala utama.

Secara umum, pelaksanaan TKA di Manggarai menunjukkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, TKA mendorong perbaikan metode pembelajaran, meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, serta membantu guru memetakan kemampuan akademik secara lebih objektif. 

Namun di sisi lain, berbagai tantangan masih mengemuka, mulai dari kesiapan mental siswa, keterbatasan infrastruktur, hingga adaptasi terhadap teknologi dan model evaluasi baru.

Dengan berbagai dinamika tersebut, efektivitas TKA sebagai instrumen evaluasi pendidikan masih menjadi perdebatan. 

Keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan seluruh pihak, termasuk pemerintah, sekolah, guru, dan siswa dalam beradaptasi dengan sistem yang terus berkembang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.