Dosen Farmasi Undana Ciptakan Produk Berbahan Alam Asli NTT
Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dosen Prodi Farmasi Undana, Peneliti dan Produsen Herbal NTT, Dr. Apt. Muhajirin Dean, S.Farm., M.Sc. berhasil menciptakan produk herbal unggulan dari tanaman khas NTT Faloak. Dua produk telah dihasilkan dari tanaman tersebut.
Apa saja produk yang sudah dihasilkan dari riset yang dilakukan dan bagaimana potensi herbal di NTT? Berikut cuplikan wawancara eksklusif Pos Kupang dalam Undana Talk, Rabu, 15/04/2026.
Apa yang melatarbelakangi anda terjun ke dunia herbal?
Yang melatarbelakangi saya membuat produk herbal dan meneliti tentang herbal di NTT yaitu, pertama, karena panasnya Kota Kupang. Dari situ muncul ide, karena Tuhan menciptakan sesuatu itu pasti ada kelebihan dan kekurangan.
Nah kebetulan Kota Kupang ini adalah salah satu kota yang berada di Selatan Indonesia dengan iklim yang cukup ekstrim, panas sekali. Dan kalau kita tinjau pada proses metabolisme tumbuhan, itu sangat berpengaruh terhadap produksi baik yang berhubungan sama hasil metabolit primer seperti protein, lemak dan lain-lain.
Bahkan ke bahan baku yaitu berupa metabolit sekunder yang mempunyai manfaat untuk melindungi dirinya terutama tumbuhan itu akan melindungi dirinya dengan memproduksi zat-zat tertentu. Itu biasanya muncul di daerah yang ekstrim.
Jadi, karena mempunyai kelebihan itu dan saya yakin bahwa tumbuhan di NTT ini punya kelebihan yang sangat luar biasa, itu terbukti bukan di produk saya tapi di beberapa tanaman lain seperti kelor yang menjadi salah satu tanaman terbaik yang ada di dunia dan adanya di pulau Timor.
Oleh karena itu saya bilang, kelor ada pasti yang lain juga ada. Selain itu, tanaman-tanaman yang ada di NTT itu sebagian besar tidak ada di daerah lain. Kalaupun ada, secara morfologi sudah berubah. Kalau morfologi sudah berubah berarti kandungannya juga berubah. Maka saya bilang, kalau morfologi seperti ini pasti punya kekhususan efek terapi.
Sudah sejak kapan ketertarikan itu muncul?
Ketertarikan itu muncul dari saya masih kecil. Dulu, waktu masih kecil di Timor Leste, biasanya mbak jamu itu lewat setiap pagi, kami disuruh untuk minum jamu kunyit asam, beras kencur, dari jamu gendong.
Tetapi kalau skemanya seperti itu kan berarti butuh mbaknya, sedangkan mbaknya tidak selalu ada di sini. Makanya mbaknya itu kita ubah dalam bentuk produk yang bisa lebih tahan lama.
Berapa total produk yang sudah dihasilkan?
Yang dipajang di sini baru enam, totalnya selain produk herbal ada dua belas. Karena saya berkaitan dengan alam, alam itu kan sebenarnya bukan hanya tanaman tapi termasuk biota laut, serangga, hewan, itu masuk.
Oleh karena itu salah satu produk saya itu bergeser ke untuk stunting yaitu abon ikan tuna, tapi tidak dipajang di sini.
Di NTT sendiri apa jenis herbal yang berpotensi untuk semakin berkembang kedepan?
Herbal itu ada dua, diminum sebagai obat atau dimanfaatkan sebagai makanan yang sekarang adalah "super food". Jadi super food itu bukan makan kenyang tapi makan yang memiliki efek sesuatu, contohnya kelor memiliki kandungan asam lemak dimana itu berhubungan sama pembuluh darah dan lain-lain.
Selain itu, tanaman yang khas berikutnya adalah faloak. Faloak ini adalah salah satu tanaman yang hanya ada di NTT. Saya sudah keliling sampai di Sulawesi, di Maluku, mereka ada tapi morfologinya berubah. Makanya kalau morfologinya berubah saya yakin bahwa kandungannya juga akan berubah.
Kebetulan untuk tanaman faloak ini mempunyai kans untuk menjadi endemik dan punya potensi dan menjadi ikon NTT. Itu saya sudah sampai di Sumba ada, Sabu ada, Semau ada, lebih-lebih di Rote, karena kata faloak tadi itu berasal dari bahasa Rote yang di-mix dengan bahasa Helong, artinya sengsara.
Karena menurut cerita orang terdahulu bahwa di Kupang ini tanaman-tanaman yang lain itu kan baru, yang ada itu kesambi, faloak yang tahan di batu karang. Kebetulan ciri khas faloak ketika dikupas itu berwarna merah dan karena merah mereka ambil kesimpulan sama dengan darah, maka dulu diminum sebagai penambah darah awalnya.
Tapi setelah diminum dan beberapa kali orang yang mengalami hepatitis atau penyakit kuning itu minum dan sembuh, terus pasca melahirkan banyak darah keluar dan minum itu merasa sembuh, itu dipercaya sampai sekarang.
Sampai hari ini faloak belum ada yang keluhkan bahwa dia memiliki sesuatu yang kurang.
Fatis Madu Faloak ini produk faloak yang dicampur madu?
Betul. Karena kadar gulanya rendah maka lebih aman untuk pasien diabetic. Sekarang riset juga sudah berkembang bahwa faloak itu akan dikembangkan untuk pasien-pasien diabetes. Nama Fatis itu ada singkatannya yaitu Faloak for Hepatitis.
Tapi tidak hanya untuk pasien hepatitis?
Tidak. Target kami kan penyakit kronik tapi selain penyakit kronik bisa. Kalau kepercayaan masyarakat terutama masyarakat Pulau Rote dan masyarakat Pulau Timor terutama bagian Selatan yang ada beberapa suku Helong dan suku Timor mempercayai juga untuk gangguan kesehatan kewanitaan yang pra menopause.
Itu dibuktikan beberapa orang yang mangalami gangguan menstruasi mengonsumsi itu itu akhirnya bisa untuk memberikan daerah kewanitaan.
Ternyata karena mungkin kandungan antioksidannya tinggi maka semua penyakit atau kondisi tubuh yang berhubungan sama oksidasi atau gangguan yang berhubungan dengan vitalitas itu bisa masuk.
Berarti bisa untuk banyak kondisi?
Betul, dan ini menjawab fenomena yang dimana orang butuh sesuatu, misalnya orang yang suka minum, kena lever, bisa pakai ini (faloak). Dari informasi, beberapa orang menggunakan ini sebagai penawar. Mereka minum tapi ada penawarnya, saya bilang jangan terlalu banyak, jangan sampai penawarnya tidak berfungsi.
Selain itu juga beberapa teman hampir 20-30 orang menggunakan untuk anaknya yang susah makan. Kebetulan ini kan ketika kita minum, ada sesuatu yang membuat kita suka makan. Jadi anak-anak itu minum terus. Semenjak minum itu anak-anak mau makan terus dan tidak ada efek samping. Efek sampingnya cuma satu, mau makan. Makanya saya bilang faloak ini fenomena.
Tapi nilai jualnya karena empiriknya untuk penyakit radang hati atau hepatitis maka kita brandnya pakai itu dulu. Sebenarnya kita bisa formulasi lagi dosis untuk yang lain.
Butuh waktu berapa lama untuk riset dan pengerjaan hingga menghasilkan produk?
Untuk mendapatkan produk ini, yang susah adalah mendapatkan dosisnya karena takaran di masyarakat ini kan satu lempeng, ada yang satu genggam.
Nah kita mengonversi menjadi satu produk itu satu kali takaran kan susah, maka itu waktu yang saya butuhkan cukup lama untuk mendapatkan titik temunya dan syukur sampai hari ini dosis yang sudah saya tentukan dan takaran yang saya buat itu pasiennya misalnya berniat untuk sembuh itu rata-rata sembuh.
Banyak pasien kalau kita lihat itu ngeri, matanya kuning, biasanya karena empedu atau levernya bermasalah itu dua tiga hari membaik. Pasien tuberculosis juga kalau minum obat beberapa hari, kalau tidak cocok maka efek samping matanya kuning, badannya kuning semua.
Nah ternyata terapi dengan faloak ini, obatnya tetap diminum, minum faloak aman-aman saja bahkan salah satu pasien pernah meminum ini sampai 9 bulan, saya tanya apakah ada keluhan dia bilang tidak ada. Sekarang orangnya sudah gemuk dan sudah bebas dari penyakit tersebut. (uzu)