TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Perubahan wajah pesisir yang berada di Kelurahan Kampung Empat, Tarakan, Kalimantan Utara menjadi bukti nyata peran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Kawasan yang dulunya hanya berupa tambak terbengkalai, kini menjelma menjadi hamparan mangrove lebat seluas kurang lebih 30 hektare yang dikenal sebagai Mangrove Edupark Kampung Lestari.
Di balik perubahan itu, ada peran aktif warga melalui Kelompok Mandiri Maju (KMK) yang secara konsisten melakukan rehabilitasi dan penanaman sejak beberapa tahun terakhir.
Pembina Kelompok Mandiri Maju sekaligus Ketua Karang Taruna Kampung Empat, Sugeng Widarno menuturkan, kawasan tersebut mulai diinisiasi pada 2022. Namun, upaya pemulihan ekosistem mangrove sebenarnya sudah berjalan sejak 2019.
“Permulaannya itu kami melihat lokasi ini sangat potensial untuk kegiatan pendidikan ekosistem mangrove. Karena kondisi awalnya memang lebih ke eks tambak, kemudian kami lakukan penanaman dan rehabilitasi,” ungkap Sugeng Widarno.
Baca juga: Rehabilitasi Mangrove Kaltara Lewat M4CR Tunjukkan Hasil Positif, KKMD Didorong Perkuat Publikasi
Ia menjelaskan, setelah kondisi kawasan mulai pulih, konsep pengembangan pun diarahkan tidak hanya untuk rehabilitasi, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan ekowisata berbasis mangrove.
“Makanya kita dorong dengan pendekatan pendidikan mangrove, dan ke depan juga untuk ekowisatanya,” tambahnya.
Perubahan signifikan mulai terlihat dari tahun ke tahun. Bahkan, berdasarkan citra satelit, kawasan yang sebelumnya terbuka kini telah tertutup rapat oleh vegetasi mangrove.
“Dari 2019 sampai sekarang itu perubahannya sangat signifikan. Dari lahan terbuka, sekarang tutupannya sudah rapat kembali,” jelasnya.
Di kawasan ini, terdapat setidaknya empat jenis utama mangrove, yakni bakau (rhizophora), api-api (avicennia), pedada (sonneratia), dan nipah. Masing-masing memiliki fungsi penting bagi ekosistem pesisir.
Menurutnya, mangrove bukan hanya sekadar tanaman pesisir, tetapi memiliki manfaat besar, mulai dari penyerap karbon hingga penopang kehidupan biota laut.
Baca juga: Dorong Blue Economy Lintas Negara, Gubernur Zainal Pimpin Penanaman Mangrove di Sembakung
“Mangrove itu penyimpan karbon terbesar, bahkan bisa lima kali lebih besar dibanding hutan darat. Selain itu juga menjadi filter alami untuk ekosistem sekitar, termasuk ikan dan udang,” paparnya.
Tak hanya vegetasi, kawasan ini juga menjadi habitat berbagai satwa. Mulai dari burung, ikan, hingga hewan seperti berang-berang dan buaya yang memang merupakan bagian dari ekosistem alami setempat.
“Sekarang sudah ada bangau, belibis, dan burung lainnya. Dulu tidak ada, sekarang mulai muncul. Ini menunjukkan ekosistemnya mulai pulih,” ungkapnya lagi.
Keberadaan mangrove juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil laut.
“Kalau mangrovenya sudah ada, kepiting pasti banyak. Udang dan ikan juga kembali. Jadi ini bukan hanya soal keindahan, tapi juga livelihood masyarakat,” katanya.
Pendekatannya tak mudah di awal kata Sugeng. Sehingga ia menggunakan pendekatan primordial, mendekati nelayan dan petambak hingga warga sekitar untuk mau sama-sama terlibat.
"Alhamdulillah hasilnya, misalnya mereka biasanya mancing jauh di laut ini dekat sungai sudah dapat ikan, udang. Keberadaan mangrove ini betul-betul membawa dampak ekonomi juga. Jadinya mereka mau ikut juga membantu menjaga," bebernya.
Selain rehabilitasi, berbagai kegiatan juga dilakukan di kawasan ini, seperti pembibitan mangrove hingga aksi bersih lingkungan. Bahkan, kelompok ini pernah menggelar aksi bersih sungai dengan melibatkan sekitar 60 komunitas di Tarakan sebagai bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Saat ini, seluruh area yang ada telah tertanami. Pengembangan ke depan lebih difokuskan pada penguatan pasca-penanaman dan perlindungan kawasan.
“Sekarang sudah full ditanam, tidak ada lagi program penanaman baru. Tinggal bagaimana penguatan ke depan, terutama dari sisi kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Ia berharap kawasan Mangrove Edupark Kampung Lestari dapat ditetapkan sebagai kawasan konservasi atau skema perlindungan lainnya agar keberadaannya tetap terjaga.
“Harapannya ini bisa jadi kawasan konservasi mangrove, atau skema lain yang sesuai kewenangan pemerintah. Supaya jelas secara regulasi dan tidak mudah diganggu,” tegasnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa perlindungan tersebut tetap harus melibatkan masyarakat yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem.
“Yang penting tidak menghilangkan peran masyarakat. Karena mereka juga memanfaatkan secara langsung, baik untuk mencari ikan maupun aktivitas lainnya,” tambahnya.
Dari sisi potensi, kawasan ini juga memiliki daya tarik wisata susur mangrove. Jalur sungai yang ada bahkan dapat menghubungkan hingga enam kelurahan, yakni Kampung Empat, Pamusian, Gunung Lingkas, Lingkas Ujung, Mamburungan Timur, dan Mamburungan.
“Kalau susur mangrove, kita bisa keliling Sungai Sangkalawa sampai enam kelurahan. Jarak tempuh sekitar satu jam, kurang lebih hampir 10 kilometer,” jelasnya.
Meski demikian, pengunjung tetap diingatkan untuk berhati-hati karena kawasan tersebut juga merupakan habitat alami satwa liar seperti buaya.
Upaya yang dilakukan masyarakat Kampung Empat ini pun mendapat perhatian hingga tingkat nasional. Kawasan tersebut bahkan masuk dalam program kampung iklim (Proklim) dan ditargetkan naik ke kategori lestari dalam beberapa tahun ke depan.
(*)
Penulis: Andi Pausiah