WARTAKOTALIVE.COM -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk mengerahkan lebih dari 10.200 tentara sebagai pasukan tambahan ke kawasan Teluk Persia atau Timur Tengah.
Langkah provokatif ini diambil saat blokade maritim di Selat Hormuz memasuki hari ketiga serta di tengah gencatan senjata yang disepakati dengan Iran.
Keputusan Trump mempertegas niat Washington untuk mengunci total urat nadi ekonomi Iran.
Baca juga: Trump Mulai Blokade Total Iran: Selat Hormuz Memanas, Gerombolan Kapal Cepat Iran Vs Kapal Induk AS
Otot Militer USS George HW Bush dan Marinir
Pengerahan kekuatan besar-besaran ini dilaporkan The Washington Post mencakup kelompok serang kapal induk USS George HW Bush yang membawa sekitar 6.000 personel serta sekitar 4.200 Marinir dari unit infanteri Angkatan Laut.
Sebanyak 10.200 personel itu dijadwalkan mendarat sebelum akhir April 2026 untuk memperkuat kehadiran AS di wilayah konflik.
Pejabat AS menyatakan bahwa kehadiran pasukan ini adalah strategi 'dua kaki'.
Yakni menjaga momentum negosiasi dengan Iran di Pakistan, sekaligus bersiap menghadapi kemungkinan operasi darat atau serangan tambahan jika diplomasi menemui jalan buntu.
Kebocoran Blokade: Klaim CENTCOM vs Fakta Satelit
Hingga Rabu (15/4/2026), Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeklaim telah mencegat kapal kesepuluh milik Iran yang mencoba menembus blokade di Bandar Abbas.
CENTCOM menegaskan belum ada kapal yang berhasil meloloskan diri sejak Senin.
Namun, laporan dari TankerTrackers membantah klaim tersebut secara dramatis.
Citra satelit menunjukkan sejumlah kapal tanker berbendera Iran justru berhasil menyelinap masuk ke perairan Teheran.
Bahkan, kapal-kapal yang menuju Irak dilaporkan mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) mereka untuk bergerak bak 'kapal hantu' guna menghindari deteksi radar Amerika.
Sementara itu, Presiden Donald Trump mengatakan kepada The New York Post pada hari Selasa bahwa putaran pembicaraan atau negosiasi baru dengan Iran bisa berlangsung kembali di Pakistan dan keputusannya bisa dilihat paling lambat dalam dua hari ke depan.
Sebelumnya sesi negosiasi pertama yang panjang berakhir tanpa terobosan.
Pekan lalu, AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang setelah pembicaraan tingkat tinggi di ibu kota Pakistan, Islamabad, tetapi gencatan senjata selama dua minggu yang diumumkan seminggu yang lalu tetap berlaku.
Baca juga: Trump Tolak Usulan Damai 20 Tahun ke Iran, Negosiasi Nuklir Memanas Lagi
Gencatan senjata tersebut akan berakhir pada 22 April.
Menurut para pejabat yang berbicara kepada The Washington Post, pengerahan pasukan baru akan memungkinkan pemerintahan AS untuk terus mengadakan pembicaraan dengan Iran, sementara pada saat yang sama mempersiapkan kemungkinan serangan tambahan atau operasi darat.
Di tengah gemuruh mesin perang, Presiden Donald Trump memberikan kejutan diplomatik dengan mengumumkan bahwa pemimpin Israel dan Lebanon akan berbicara melalui telepon untuk pertama kalinya dalam 34 tahun pada Kamis (16/4/2026) hari ini.
Langkah ini menyusul eskalasi di Lebanon yang pecah sejak Maret lalu, di mana serangan Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa 1,2 juta warga Lebanon mengungsi.
Meski Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan perluasan invasi ke Lebanon Selatan, AS terus berupaya mencari 'ruang bernapas' bagi kedua negara untuk mengakhiri siklus kekerasan yang dipicu oleh konflik regional dengan Iran.
Gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran sendiri dijadwalkan akan berakhir pada 22 April mendatang.
Dengan ribuan pasukan baru yang menuju Timur Tengah, dunia kini menanti apakah ini akhir dari perang atau justru awal dari kehancuran yang lebih besar.