Pada 18 November 1978, terjadi bunuh diri-pembunuhan massal di Jonestown, Guyana, oleh sebuah sekte yang menamakan diri People Temple. Sekitar 900 orang jadi korban.
Artikel ini pertama tayang di Majalah INTISARI edisi Januari 1979 dengan judul "Bunuh Diri Massal di Guyana"
--
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Ketika itu pukul enam lewat sedikit. Matahari hampir terbenam membuat bayang-bayang panjang di tempat pemukiman Jonestown.
Hari yang penuh ketegangan sudah hampir diakhiri oleh malam tenang ketika pemimpin sekte, Jim Jones mengeluarkan pengumuman lewat pengeras suara. Dia meminta para pengikutnya berkumpul di dalam atau di sekitar paviliun tempat altar berdiri.
Orang-orang berkumpul. Beberapa orang yang sudah mempunyai firasat buruk mengulur-ulur waktu, tetapi mereka toh digiring juga oleh "hansip" yang terdiri atas 50 orang. Hanya beberapa berhasil melarikan diri ke hutan belukar.
Salah seorang anggota sekte, Hyacinth Prash yang sedang sakit di gubuknya rupanya tidak menarik perhatian orang dalam aksi pengumpulan. Dia bebas dari maut.
Ketika sudah lebih dari 900 orang berkumpul, Jones mulai angkat bicara: "Tiba waktunya bagi kita untuk bertemu kembali di tempat lain," katanya sambil menengadah ke langit.
Dia berbicara mengenai keindahan kematian dan memberitakan bahwa musuh yang sudah lama disinyalir kini mengepung pemukiman dan bertekad untuk memusnahkannya. "Kini kita akan mati sukarela" teriaknya keras. Lalu dia menambahkan: "Matilah dengan hormat anak-anakku."
Sebelumnya ia sudah minta Lawrence Schacht, dokter dari Jonestown dan beberapa perawat untuk mencampur cyaankali, obat penghilang sakit dan air sari buah. Semua orang dipanggil, disuruh antre dengan membawa alat minum.
Bunuh diri massal dimulai. Peristiwa ini hanya bisa dibandingkan dengan dua peristiwa bunuh diri lain dalam sejarah Yahudi.
Rasa ketakutan akan dimusnahkan telah membuat penghuni Jonestown bunuh diri. Ketakutan ini merupakan hasil cuci otak secara sistematis dilakukan oleh pemimpin mereka, Jim Jones.
Rasa takut pulalah yang mendorong mereka melarikan diri dari dunia paling bebas. Sekte ini sebetulnya berasal dari California, tempat Charles Manson dan kelompok mautnya beraksi. California merupakan bagian A.S. dengan ribuan subkultur.
Jim Jones yang berusia 46 tahun lain dari Charles Manson. Manson dulu hanya terkenal dalam dunia pop dan film. Jim Jones seorang tokoh masyarakat dan sekaligus dihormati oleh yang berwenang dan lawan-lawannya.
Tujuannya adalah mempengaruhi orang yang kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan duit atau pengaruh. James Thurman Jones yang kemudian menjadi Jim Jones dibesarkan di kota kecil Lynn di negara bagian Indiana.
Sejak dia menjadi mahasiswa di universitas Butler di Indianapolis, Jim sudah mendirikan sektenya yang pertama. Ia memang pandai pidato. Sektenya sebentar saja sudah mendapat ratusan anggota. Jones belajar pedagogi dan tidak pernah belajar teologi.
Indianapolis akan musnah
Gerejanya mendirikan dapur untuk orang miskin dan membuka pintu untuk semua ras. Ini akhir tahun 1950-an. Jadi suatu konsep yang berani, apalagi di Indianapolis. Waktu itu juga di sana ada kantor pusat Ku Klux Klan yang anti orang Negro.
Natal 1961 terjadi perubahan yang menentukan, dalam konsep pendiri sekte Jones. Dia mendapat visiun: Indianapolis akan dihancurkan oleh ledakan bom atom. Visiun itu menimbulkan shock hebat pada dirinya.
Setelah membaca artikel dalam majalah Amerika Esquire, dia mengambil keputusan untuk meninggalkan Indianapolis. Dalam artikel itu disebutkan sembilan tempat di Amerika Utara dan Selatan yang pasti akan menjadi incaran serangan bom atom.
Dua tempat yang menurut artikel itu sangat aman: Ukiah di California Utara dan Belo Horizonte di Brasil. Jones langsung pergi ke kota Amerika Selatan itu. Namun beberapa minggu kemudian ia kembali ke Amerika Serikat dan bulan Agustus 1965 ia mendirikan sekte Kenisah Rakyat (Kuil Rakyat) di kota Ukiah.
Bersama dengan istrinya Marceline, dia berhasil membujuk 100 anggota gerejanya di Indianapolis untuk ikut pindah ke California. Pengikutnya dengan cepat berkembang. Tidak lama setelah pendirian sekte anggotanya bertambah 300 orang lagi.
Dalam daerah pemilihan untuk pemerintah daerah anggota sektenya sudah menguasai 16% dari suara. Dengan demikian Jones untuk pertama kalinya menjadi tokoh politik.
Namun baginya pengaruh di satu provinsi belum cukup. Ia ingin mendapat kekuasaan politik di San Francisco. Karena itulah mulai tahun 1970 ia mengadakan upacara-upacara keagamaan di San Francisco.
Pertemuan-pertemuan yang kebanyakan diadakan di getto orang Negro itu selalu penuh sesak. Namun ini antara lain disebabkan karena ia selalu membawa semua pengikut dari Ukiah. Dalam upacara-upacara itu ia selalu menyatakan bahwa Amerika akan hancur. Lama kelamaan negara itu pasti akan dikuasai oleh diktator fasis.
Nanti orang-orang berwarna akan dikejar-kejar dan dibunuh di dalam kamar gas seperti orang Yahudi di Jerman Nazi dulu. Malapetaka ini hanya bisa dihindari dengan sosialisme Ketuhanan di bawah pimpinan Jim Jones. Gambaran mengenai kamar gas itu lebih mengesankan karena pendengarnya umumnya orang Negro.
Tidak lama kemudian ia sudah bisa membuka kuil di Geary Street. Kemudian disusul beberapa di Los Angeles. Beberapa tahun kemudian jumlah anggota sekte sudah mencapai 20 ribu orang, jumlah rekor.
Jones tidak segan-segan untuk menggunakan segala tipu muslihat untuk meyakinkan orang akan "kekuatan Ilahinya". Ia bisa menyembuhkan orang lumpuh, yang sebetulnya orang sehat di antara pengikut tapi pura-pura sakit dan mengendarai kursi beroda.
Anggota sekte lain harus mengempit kantong plastik berisi telur ayam di ketiaknya. Mereka kemudian dipanggil pendeta Jones ke atas pentas untuk membuktikan bahwa ia bisa menyembuhkan penderita kanker. Dan dengan tangan telanjang bisa mengeluarkan tumor ganas. Sebagai bukti ia memperlihatkan telur ayam tadi.
Kalau Jones dengan penyembuhan mukjizat dan retorikanya berhasil untuk menarik seseorang masuk sektenya, ia meneruskan "proses cuci otak" di dalam kelompok tertutup. Beberapa kali seminggu para pengikut harus mengikuti upacara keagamaan yang dilakukan di ruang terkunci dan pintu-pintunya dijaga oleh dinas keamanan.

Terima kasih bapak
Menurut Elmer Mertel, bekas anggota sekte itu, dalam pertemuan seperti itu selalu diadakan teror psikis dan fisik: Orang dihukum untuk apa saja. Selalu ada saja kesalahannya.
Mula-mula hukumannya hanya mental. Misalnya Mertel dihina Jones di depan para umat. Kemudian ia didekati Jones dan malah dirangkul. Jones berkata: "Saya kini insaf bahwa kau telah sangat menderita. Namun sekarang kau lebih kucintai. Saya bisa mempercayaimu, karena kau terbukti sangat disiplin."
Mertel dan istrinya Deanna juga pernah dipukuli dengan sabuk kulit. Sering "orang-orang yang berdosa" itu diikat pada papan kayu untuk dicambuk. Banyak orang dewasa dan anak-anak dihukum 12,25, 50 atau 100 cambukan. Setelah hukuman selesai kerbau harus menghadap Jones dan mengucapkan terima kasih dengan formula yang sama: "Terima kasih bapak."
Pada suatu malam putri Mertel, Linda, yang berusia 12 tahun juga mendapat giliran. Ia pernah merangkul teman wanitanya dan menciumnya pada pipi. Ini dianggap kesalahan seks oleh Jones. Untuk perbuatan itu ia dipukuli 75 kali pada pantatnya.
Pukulannya demikian hebat sehingga pantat lebih mirip hamburger (daging cacah) yang masih menta, kata Elmer Mertel. Linda yang kini berusia 19 tahun masih ingat bahwa ia "satu setengah minggu" tidak bisa duduk.
Kini keluarga Mertel tinggal di Berkeley. Dengan bantuan pengacara mereka mengubah namanya menjadi Al dan Jeanne Mills sebagai tindakan berjaga-jaga, karena Jim Jones telah memaksa mereka untuk menandatangani pernyataan-pernyataan palsu untuk bisa dijadikan bahan pemerasan kemudian.
Selain dihina, dipukuli dan diperas kepala sekte itu juga berusaha supaya penganutnya tergantung pada dia dalam hal keuangan. Setiap anggota paling sedikit harus menyerahkan 30 persen dari penghasilannya kepada Jones.
Pada setiap kolekte (pengumpulan dana) bukan hanya lembaran dolar yang dikumpulkan tetapi juga barang berharga seperti perhiasan dan pakaian dari bulu binatang. Orang yang kaya dipaksa untuk memberi lebih.
Anggota sekte yang miskin paling sedikit harus memberikan cek yang diperoleh dari dinas sosial setiap minggu. Jones yang kemudian mengurus makanan dan tempat tinggalnya.
Sebagian dari penghasilannya masuk dalam proyek-proyek real estate dan dihamburkan untuk membiayai kehidupan mewah golongan pimpinan. Grace Stoen, istri seorang pengacara terkemuka di San Francisco menyatakan bahwa "hanya untuk biaya mobil dan garasi saja setiap bulan dikeluarkan 30 sampai 50 ribu dolar".
Dia bisa menyatakannya dengan tepat karena selama bertahun-tahun ia mengurus buku-buku "kuil" tersebut.
Menurut Grace Stoen, dalam usaha pengembangan gerejanya, Jones berpikir seperti seorang bisnis. Pada suatu hari Jones pernah meminta Grace menghitung, berapa hasilnya kalau ia meluaskan sektenya di Los Angeles.
Pada permulaan ia akan mendapat "Penghasilan tambahan antara 15 ribu sampai 25 ribu setiap pertemuan akhir minggu," katanya. Dari hasil gerejanya Jones total telah mengumpulkan sekitar 10 juta dolar.
Sampai permulaan tahun 1977 tingkah polah pemimpin sekte ini tidak banyak diketahui orang. Soalnya pengikutnya tutup mulut karena takut. Orang luar yang mendengar tentang hal itu tidak berani meneruskannya. Soalnya Jim Jones sudah menjadi tokoh terpandang dalam masyarakat.
Seperti masa di Ukiah, di San Francisco pun dia mengerahkan jamaahnya pada pemilihan. Jadi calon favoritnya pasti bisa mengharapkan suara pengikutnya. Karena selisih suara umumnya tidak banyak, suara-suara dari pengikut Jim Jones menentukan.
Karena itu pengacara yang berhaluan kiri Joe Freitas sama berterima kasihnya pada Jones seperti Sheriff Richard Hengisto yang kontroversial. Walikota George Moscone yang pada pemilihan terakhir hanya menang tipis dengan selisih 4 ribu suara, juga mengucapkan terima kasih beberapa kali pada Jones. Bulan Desember 1976 Jones diangkat sebagai kepala dinas perumahan di San Francisco.
Juga Rosalynn Carter tidak melupakannya. Dia mengucapkan terima kasih tertulis kepada pemimpin "kuil". Pernah Rosalynn pergi ke San Francisco untuk mengadakan kampanye bagi suaminya Jimmy.
Ternyata yang datang pada pertemuan itu hanya 150 orang. Jim Jones menggiring 600 anggotanya ke ruang rapat untuk menyelamatkan muka Ny. Carter.
"Bom" meledak
Pemimpin sekte yang sebetulnya takut publisitas ini juga tidak lupa pers.
"Kenisah Rakyat" pernah menyerahkan tunjangan 4400 dolar kepada 12 harian California sebagai bantuan "memperjuangkan kebebasan pers" Bill Far, seorang wartawan Los Angeles Times yang masuk penjara karena tidak mau menyebut nama informannya, juga tidak dilupakan Jones. Jones pribadi bersedia untuk menjamin Farr selain memberi tunjangan 4.000 dolar.
Sekali dua bulan sekte itu mencetak korannya sendiri. Namanya People's Forum, dan isinya artikel-artikel yang radikal sosialistis. Huey Newton, seorang pemimpin Black Panther dan Angela Davis yang terkenal sebagai komunis, dalam majalah itu dipuji-puji. Setiap kali para penulis mengingatkan tentang diktator fasis yang akan menguasai Amerika Serikat.
People's Forum mendapat sambutan baik di antara pembacanya yang 80 persen terdiri dari orang hitam. Bagi mereka Jim Jones seorang pahlawan dan nabi. Biarpun ia ditakuti ia juga dikagumi sebagai setan dalam pakaian pendeta.
Namun Agustus 1977 tipu muslihatnya sudah ketahuan. Majalah New West yang terutama beredar di pantai Barat menulis artikel panjang lebar "Inside People's Temple" (di Dalam Kenisah rakyat). Di situ terjadi penipuan dan penganiayaan, tulisnya, yang dikuatkan oleh pengakuan saksi yang persis. Di kalangan pemerintah di San Francisco artikel itu disambut seperti bom yang meledak.
Tetapi pengungkapan ini datangnya sudah terlambat. Jim Jones pada saat itu sudah pindah ke Guyana. Dia sudah tahu bahwa bekas anggotanya akan bertindak secara kolektif terhadap dia. Dan secara sistematis ia sudah berusaha untuk menjual milik sekte di San Francisco selama beberapa bulan.
Sejak tahun 1974 ia sudah mulai membangun pemukiman baru "Kenisah Rakyat" di Guyana. Di sana ia kini ingin mewujudkan impian suatu utopia sosialis. Tetapi ia sekarang bukan orang kuat lagi seperti di California.
Psikolog Denmark Peter Elsass beberapa hari sebelum terjadi bunuh diri massal itu telah mengunjungi Jonestown. Ia berbicara, satu setengah jam dengan Jones. "Ia hanya bicara dan bicara. Ia seorang yang pahit dan ketakutan," kesimpulannya.
Kadang-kadang merasa dirinya Lenin
Jones rupanya merasa dirinya terus diburu. "CIA menggunakan semua usaha untuk mengontrol saya," katanya. "Kadang-kadang mereka juga mengontrol pikiran saya sehingga saya tidak bisa berpikir dengan jernih. Mereka mempunyai semua alat. Mereka meracuni makanan saya dan racun mereka juga masuk ke otak saya."
Jim Jones bersumpah bahwa desanya bulan April dan Mei 1978 diserang oleh CIA. Sekelompok CIA terdiri dari 25 sampai 30 orang telah menembaki daerah dekat desa itu selama beberapa minggu.
Ketika Elsass bertanya mengenai rencana sosialnya ia sudah memberi gambaran samar-samar tentang kemungkinan bunuh diri massal itu:
"Kami gerakan sosialis terbesar di Amerika Serikat. Anggotanya 20 ribu orang dan dengan demikian merupakan bahaya terbesar untuk kapitalisme di Amerika Serikat," kata Jones. “Karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk memusnahkan kami, biarpun kami sudah bermukim di hutan yang jauh. Namun usaha itu akan gagal. Andaikata hal itu toh terjadi kami lebih baik bunuh diri daripada dikuasai CIA atas nama kapitalisme"
Setelah mengucapkan pidato panjang itu Jim Jones berhenti sebentar.
"Kadang-kadang saya demikian terkesan pada ide sosialisme sehingga saya merasa saya benar-benar Lenin dan berbicara dengan suaranya," kata Jones. Jim Jones pikirannya sudah kacau. Dalam keadaan itulah ia bertemu dengan wakil California, Leo J. Ryan.
Ryan yang berusia 53 tahun terkenal sebagai orang yang selalu membela minoritas yang dikejar-kejar. Pernah ia menjadi guru di getto Los Angeles untuk mengetahui keadaan orang Negro setempat. Sekali ia sukarela masuk ke sel seseorang di penjara Folsom California,untuk merasakan sendiri keadaan narapidana.
Dia juga ingin melihat apakah tuduhan terhadap Jim Jones itu benar. Karena itulah ia berangkat ke negara Amerika Selatan yang kecil itu bersama pembantu-pembantunya dan sekelompok wartawan.
Dua hari sebelum bunuh diri massal itu Ryan dengan 18 orang berangkat ke Port Kaituma dengan pesawat terbang charter-an. Port Kaituma letaknya sekitar 250 km dari Georgetown dekat perbatasan dengan Venezuela.
Di lapangan terbang kota tersebut Jim Jones menyambut rombongannya. Biarpun Port Kaituma dan tempat pemukiman itu jaraknya hanya delapan kilometer, rombongan anggota kongres itu memerlukan waktu satu setengah jam untuk naik kendaraan sebelum sampai di sana. Dengan susah payah kendaraan mereka bisa maju karena jalan berlumpur dan lebatnya hutan.
Akhirnya mereka sampai di Jonestown. Sekitar 1.000 orang terdiri atas segala bangsa tinggal di dalam 17 gubuk dan rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Mereka hidup dari kebun-kebun yang penuh dengan pisang, jeruk, kentang, tomat, jagung, okra dan ketela, makanan asli daerah itu.
Tanamannya bagus karena tanahnya subur. Koloni tersebut luasnya sekitar 11 ribu ha dan di hutan belukar sekelilingnya hidup binatang beruang pemakan semut, kijang, burung betet dan kolibri. Sepanjang tahun suhu antara 25 dan 30 derajat.
Bantu kami keluar dari Jonestown
Dalam koloni tersebut mula-mula rombongan ini tidak bisa berhubungan dengan para anggota sekte. Mereka tidak diberi tahu mengenai maksud kedatangan Ryan, malah menyingkiri rombongan itu.
Rombongan diajak keliling ke ladang-ladang. Kemudian kelompok Ryan diajak makan dengan anggota sekte tertentu. Mereka dihibur oleh sebuah kelompok soul. Pemimpin sekte dan pembantu-pembantunya yang terdekat tahu cara untuk memberi kesan bahwa suasana di sana aman tenteram.
Taktik ini ternyata berhasil. Sudah beberapa kali wakil dari kementerian luar negeri Amerika muncul di Jonestown untuk menyelidiki tuduhan-tuduhan. Setiap kali rombongan peninjau pulang dengan hati lega.
Kali ini rupanya tidak akan berlangsung demikian. Biarpun setiap anggota delegasi Ryan dalam pemukiman itu dikawal terus oleh seseorang dari pihak Jones, ada seorang anak muda yang berhasil menyerahkan secarik kertas kepada wartawan Javers.
Empat pemukim yang putus asa menandatangani cetusan hatinya yang ditulis dalam satu kalimat: "Bantu kami keluar dari Jonestown."
Sejak itu dinding tutup mulut jebol. Ryan bicara dengan empat penandatangan itu dan mendengar bahwa semua pemukim dari Jonestown sudan diberitahu bahwa Ryan dan rombongannya agen CIA yang berbahaya. Anggota kongres itu menginap semalam di Jonestown dan berbicara dengan 15 anggota sekte lain yang semua ingin ikut kembali ke California.
Mereka keberatan setiap hari bekerja berat 11 jam. Mereka juga mengeluh mengenai makanan vegetarian yang sedikit. Padahal Jim Jones dan rekan-rekannya makan bestik yang lezat. Mereka juga takut dihajar secara fisik karena memberi keterangan ini. Pokoknya mereka merasa hidupnya terancam.
Jim Jones mula-mula tidak menunjukkan emosi sama sekali melihat perkembangan ini. Keesokan hari ia menyediakan dua mobil pengangkut untuk membawa tamu ke lapangan terbang Port Kaituma. Pada saat mau berangkat terjadi kegaduhan di antara pemukim.
Mereka berkelompok dan berdiskusi sekeliling delegasi. Tiba-tiba ada seorang pria yang muncul di belakang Ryan. Ia membawa pisau di tangan dan ingin menggorok anggota kongres itu. Pengacara sekte, Mark Lane dan Charles Garry, segera memisahkan mereka.
Calon pembunuh itu tangannya tergores dalam pergumulan itu. Darah menciprati baju Ryan. Dengan tergesa-gesa dia dan rombongannya meninggalkan Jonestown.
Pukul 16 mereka sampai di lapangan terbang. Pesawat kedua yang di-charter kemudian siap di sebelah pesawat charter-an yang membawa Ryan sebelumnya. Mereka siap untuk berangkat.
Pemukim-pemukim yang dibebaskan masuk dulu. Baru kemudian disusul oleh Ryan dan rombongan yang masuk seenaknya. Para wartawan juga termasuk dalam rombongan ini. Waktu itu pukul empat lewat 10 menit.
Tiba-tiba muncul sebuah traktor dari hutan belukar ke pinggir lapangan terbang. Wartawan Charles Krause melihat bahwa traktor itu menuju ke pesawat. Tiga pria turun dari gandengannya, menyingkirkan orang Guyana yang berdiri di sekitarnya dan langsung menembak Ryan dan pengawalnya.
Pertumpahan darah dimulai, peristiwa yang sampai sekarang membuat wartawan Charles Krause bergidik.
"Saya segera mencari tempat di belakang roda pesawat. Cipratan kotoran simpang siur di samping dan di atas kepala saya. Tidak ada orang yang berteriak. Saya hanya mendengar dar der dor, peluru. Tiba-tiba kaki kiri saya terbakar. Saya terkena. Saya membuka mata saya yang kututup karena panik. Saya melihat traktor itu pergi, saya meloncat dan menuju ke pintu pesawat di sisi lain. Dengan kekuatan terakhir saya masuk ke pesawat. Namun pesawat ini rusak hebat sehingga tidak bisa berangkat. Krause keluar dan melihat ke sekitarnya. Kurang semeter dari tempat saya merebahkan diri saya melihat sesosok tubuh, Ryan. Dia terkena beberapa butir peluru. Di sebelahnya tergeletak wartawan perusahaan TV Amerika NBC Don Harris. Di sebelah lain ia masih menemukan mayat wartawan Greg Robinson dan bekas anggota sekte Patricia Parks."
Yang paling hebat digarap adalah juru kamera NBC Bob Brown. Ia ditembak dekat ekor pesawat dan sampai matinya membuat film tembak menembak itu. Kepalanya ditembak dan kameranya penuh darah dan otak.
Mereka yang masih hidup, di antaranya sepuluh orang yang cedera, masuk hutan belukar karena takut diserang lagi. Namun para pembunuh tidak kembali. Mereka pergi ke Jonestown untuk melaporkan kepada pemimpinnya, bahwa mereka tidak berhasil melaksanakan tugas pembunuhan secara tuntas.
Demikian menurut salah seorang yang lolos dari pembunuhan diri massal kemudian. Ketika kepala sekte itu mendengar bahwa tidak semua massa rombongan meninggal, ia memerintahkan untuk melakukan bunuh diri massal.
Jones berteriak sebelum meninggal
Odell Rhodes, salah seorang anggota sekte yang berhasil lolos, menceritakan kejadian sebagai berikut: Hanya seorang wanita yang protes. Yang lain berusaha untuk melarikan diri tetapi mereka segera diseret kembali ke paviliun tempat altar.
Mereka mulai menangani bayi-bayi. Minuman maut itu disuapkan dengan sendok plastik. Yang dewasa meneguk minuman itu dengan gelas karton atau dengan irus besar. Semua merebahkan diri di lantai sambil merangkul dan menunggu saat racun bekerja.
Beberapa menit kemudian mereka mulai kejang, matanya melotot, mukanya menjadi biru. Banyak yang nafasnya tersengal-sengal. Mereka meninggal sambil merintih kesakitan.
Jones meninggal juga. Ia merupakan salah seorang dari beberapa orang yang meninggal karena peluru. "Ibu-ibu, ibu," ia konon berteriak sebelum meninggal. Ini kata-kata terakhir seorang pria yang berhasil mengajak 900 orang ke dunia lain. Jeritan sentimentil pada akhir hidup seorang kejam yang berdarah dingin.
Bunuh diri massal itu sudah lama dipikirkan oleh Jones. Bukan hanya diumumkan saja tetapi sudah dilatih. Dua kali dalam bulan-bulan terakhir ini penghuni Jonestown dibangunkan di malam hari. Mereka diberitahu bahwa bunuh diri massal akan dilaksanakan.
Dia kemudian membagikan minuman yang katanya beracun, yang harus diminum. Dan ia menikmati kalau melihat anggota sektenya menderita sambil menunggu maut. Dengan demikian ia juga bisa mendemonstrasikan kekuasaannya.
Anak laki-laki pendiri sekte ini tidak ikut mati, karena pada hari itu ke luar desa. Menurut Stephen Jones, ayahnya orang sakit.
"Ia menelan pil dan ibu saya berusaha untuk mencegahnya mengambil keputusan. Saya kira ia tidak bisa membedakan yang baik dari yang jahat. Tetapi ia kemudian gila kekuasaannya. Ia sampai pada persimpangan jalan antara sosialisme dan fasisme dan asal pilih saja. Menurut dia itu jalan ke sosialisme, tetapi menurut pendapat saya itu fasisme."
Anak itu menambahkan dengan pahit: "Saya benci kepada orang ini karena perbuatannya. Dia telah merusak segala sesuatu yang kuperjuangkan selama hidup."
Namun bagi mereka yang berhasil lolos dari pembunuhan massal itu cerita belum selesai. Mereka akan mengajukan pertanyaan kepada komisi penyelidik dan anggota parlemen, betapa mungkin orang seperti Jim Jones, yang sakit jiwa, haus duit dan haus kekuasaan, bisa membentuk organisasi fasis dalam sebuah negara demokrasi. Sampai di sini laporan Lionel van der Meulen.
Konon ritus maut direkam
Demikian menurut Joseph B. Treaster dalam International Herald Tribune 10 Desember yang lalu. Tape recorder yang merekam sebagian dari malam terakhir di Jonestown itu telah ditemukan di antara reruntuhan pemukiman tersebut kata sumber-sumber pemerintah Amerika serikat.
Pada saat yang sama pemerintah Guyana juga mengatakan bahwa uang tunai senilai 2,5 juta dolar ditemukan di tempat yang sama.
Dalam rekaman itu terdengar jerit tangis anak-anak. Suara letupan senjata jelas terdengar di latar belakang. Konon suara bariton James Jones mendominasi rekaman itu. Beberapa saat ia mendesak ibu-ibu untuk menenangkan anak-anaknya. Ia berulang-ulang berkata: "Ibu-ibu, Anda harus menguasai anak-anak Anda. Mereka harus mati dengan hormat."
Menurut sumber tersebut rekaman dimulai tidak lama setelah Jones memerintahkan untuk melakukan bunuh diri revolusioner. Ibu-ibu serta anak-anak yang harus mati duluan, sudah mulai minum-minuman lembut beracun.
Rekaman upacara kematian itu merupakan satu dari ratusan gulungan tape dan cassettes yang ditemukan pemerintah dan agen FBI di dalam pemukiman itu di antara dos-dos berisi memorandum, rekening, komentar, kontrak, akte-akte dan surat-surat.
Jones memang gemar mencatat segala sesuatu yang dilakukannya. Semua dicatat di atas kertas atau direkam. Rekaman dari malam maut 18 November itu konon ditemukan oleh tentara Guyana dalam sebuah alat di panggung paviliun pemukiman, dekat kursi kayu berat tempat Jones biasa berkhotbah. Konon rekaman itu atau kopinya sudah diserahkan pihak Guyana kepada pihak Amerika Serikat.
Rekaman itu memperkuat sebagian besar pernyataan yang dikemukakan oleh orang-orang yang lolos. Namun sampai di mana arsip tersebut lengkap, tidak jelas, karena tempat itu sudah digerayangi oleh orang Guyana yang tinggal di sekitar tempat itu dan tangan jahil lain.
Lebih dari 40 wartawan asing pergi ke Jonestown seminggu setelah malam 18 November. Mereka menemukan gubuk-gubuk beratap seng itu dikelilingi kertas, pakaian dan mebel yang berserakan. Rupanya barang itu dilemparkan keluar jendela untuk mempercepat proses penyortiran.
Tetapi rupanya masih ada cukup banyak barang yang menarik dan para wartawan mengambil saja apa yang mereka anggap menarik.
Dalam suatu wawancara di markas besar polisi, komisaris Lloyd Barker mengatakan bahwa uang senilai 2,5 juta dalam dolar dan uang Guyana telah ditemukan di sebuah kandang ayam, dan beberapa tempat lain dalam pemukiman. Ini termasuk uang setengah juta dolar yang dibawa tiga anggota dalam koper ketika mereka melarikan diri pada saat rekan-rekannya dalam sakaratul-maut.
Komisaris polisi Barker tidak tahu berapa lagi milik uang milik Kenisah rakyat yang mungkin masih ada di bank di ibu kota Guyana Georgetown. Dia menyatakan bahwa orang-orangnya telah menyita 19 bedil dan 13 senjata api lain. Menurut sumber itu ditemukan banyak amunisi di sekitar tempat itu.
Empat agen FBI pergi ke Jonestown tanggal 6 Desember yang lalu. Mereka berhenti di lapangan terbang Port Kaituma tempat Republikken Leo Ryan dari California dan empat warga negara Amerika ditembak mati. Pesawat bermesin dua yang seharusnya membawa rombongan anggota kongres kembali, masih ada di sana. Anggota FBI itu telah memeriksa badan pesawat yang bopeng.
Bersama dengan awak helikopter Amerika Serikat yang membawa mereka dari Georgetown, agen-agen FBI itu membentuk barisan dan memeriksa seluruh lapangan terbang. Hasil "sweeping" itu konon 2x selongsong peluru kaliber 22, selongsong logam dua peluru berkekuatan tinggi, pecahan-pecahan selongsong peluru besar, sepasang kacamata rusak dan beberapa potong pecahan kepala manusia.
Di Jonestown mereka mengharapkan akan menemukan peluru yang menembus kepala Jones. Namun ternyata tidak mungkin.
Seorang detektif Guyana konon berdiri di atas pentas paviliun di mana Jones diperkirakan berdiri waktu ia menembak diri atau ditembak. Peluru tersebut rupanya ditembakkan dari belakang telinga kanan ke arah atas. Peluru itu keluar dari sisi kiri, dan terbang terus karena tidak ada yang menahan.
Album-album kenang-kenangan
Di rumah Jones yang berkamar tiga telah ditemukan 12 sosok mayat, termasuk perawat pribadinya. Para agen FBI di sana menemukan lemari kecil yang pintunya dipaku. Di dalamnya ternyata isinya album foto dan beberapa tumpuk surat dengan analisa pribadi anggota sekte. Kepalanya semua "Dear Dad".
Permulaan Desember, menteri kesehatan, perumahan dan buruh Guyana Hamilton Green pergi ke Jonestown beberapa jam. Sebagian waktu mereka dihabiskan di dalam apotik pemukiman. Konon mereka kembali dengan map-map dan paling sedikit dua karton obat-obatan.
Kemudian menteri mengirimkan orang-orang untuk membersihkan komune itu. Tanah sudah mulai berlumpur karena musim hujan sudah tiba. Tetapi bau maut masih tetap tercium.