SURYA.co.id, SURABAYA - Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (PERDOSRI) cabang Jawa Timur mengadakan PIR (Pertemuan Ilmiah Regional) SMART JATIM ke-17.
Meningkatnya prevalensi penyakit dan kondisi yang menyebabkan gangguan fungsi dan disabilitas, dinilai semakin meningkat juga kebutuhan akan layanan rehabillitasi.
Keberhasilan program rehabilitasi terapi tidak hanya ditentukan intervensi di fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga sangat dipengaruhi dukungan dan keberlanjutan latihan di lingkungan rumah.
Ketua pelaksana, dr. Nur Khozin, Sp.KFR, FIPM (USG), AIFO-K menyampaikan ajang tahunan ini diikuti sebanyak 365 peserta.
Sebanyak 190 dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (Sp.KFR) serta 175 dokter umum.
Baca juga: Kebutuhan Layanan Kesehatan bagi Penyandang dan Keluarga Down Syndrome di Surabaya
Pihaknya juga menjelaskan pentingnya pendekatan perawatan berbasis rumah (home-based care) dan kolaborasi multidisiplin dalam mendukung program rehabilitasi.
“Dalam kondisi tertentu, dimana kunjungan ke fasilitas kesehatan terbatas, kemandirian pasien dan keluarga dalam menjalankan program rehabilitasi menjadi faktor yang sangat penting,” ujarnya kepada SURYA.co.id, Kamis (16/4/2026).
“Di sinilah peran strategis dokter dalam memberikan edukasi dan pelatihan kepada keluarga agar mampu melanjutkan program rehabilitasi di rumah secara mandiri,” ucapnya.
Lebih lanjut, dr. Nur Khozin menjelaskan Bidang Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR) merupakan bidang kedokteran yang berfokus pada pengembalian fungsi pasien yang terganggu agar dapat kembali beraktivitas secara optimal dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Layanan bidang kedokteran ini disebut sangat luas.
Meliputi berbagai kondisi yang menyebabkan gangguan fungsi dan disabilitas, dari mulai gangguan saraf, tulang, sendi, otot, paru, hingga jantung dan pembuluh darah.
“Ruang lingkup usia yang ditangani juga sangat luas, sejak bayi hingga lansia,” ujarnya
Upaya rehabilitasi dilakukan melalui berbagai intervensi diantaranya terapi, pemberian obat, maupun pemberian alat bantu.
Saat ini, jumlah Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia yang menjadi anggota PERDOSRI Jawa Timur mencapai 190 orang, dan telah tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
Kehadiran para Dokter Spesialis ini diharapkan mampu memperluas akses serta pemerataan layanan rehabilitasi medik bagi masyarakat di seluruh wilayah Jawa Timur.
“Prinsip kami adalah 'nguwongke' orang; bagaimana manusia tersebut dapat kembali berfungsi. Jika tidak bisa berjalan, kita bantu dengan alat atau latihan hingga mereka bisa beraktivitas kembali dengan kemampuan maksimalnya,” tuturnya.