BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pengaturan pola tanam dan penggunaan varietas padi tahan kekeringan menjadi kunci utama yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung dalam menghadapi ancaman kemarau tahun 2026.
Langkah ini dinilai penting agar tanaman tidak memasuki fase kritis saat puncak kekeringan terjadi. Selain itu, pemilihan bibit yang tepat diharapkan mampu menjaga produktivitas meski ketersediaan air terbatas. Upaya ini menjadi strategi utama untuk menekan risiko penurunan hasil panen di tengah ancaman kekeringan.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Johanes Sihombing, berujar petani perlu segera menyusun jadwal tanam sejak awal musim tanam pertama dan kedua.
Perencanaan ini telah mempertimbangkan kondisi musim serta ketersediaan alat panen agar tidak terjadi keterlambatan. Dengan jadwal yang tepat, tanaman padi diharapkan dapat tumbuh optimal sebelum memasuki puncak kemarau.
“Ketika memasuki awal MT pertama dan MT kedua, petani harus segera mengatur dan menjadwalkan pola tanam,” ujar dia kepada Bangkapos.com, Kamis (16/4/2026).
Selain pengaturan jadwal kata Johanes Sihombing, pemerintah meminta petani untuk menggunakan varietas padi yang tahan terhadap kekeringan.
Beberapa varietas yang direkomendasikan antara lain Inpari 32, Inpari 42 Agritan GSR, serta varietas tadah hujan seperti Inpari 38, Inpari 39, dan Cakrabuana. Varietas tersebut dinilai memiliki keunggulan dalam toleransi terhadap kekeringan, khususnya pada fase generatif tanaman.
Menurutnya kedisiplinan petani dalam mengikuti jadwal tanam menjadi faktor penentu keberhasilan strategi ini. Kesepakatan jadwal yang telah disusun bersama harus dijalankan secara konsisten oleh seluruh petani.
Jika terjadi keterlambatan, maka tanaman berisiko memasuki fase kritis saat kemarau sedang berlangsung. Apabila ada yang terlambat panen dan memasuki musim kemarau, itu akan menjadi tantangan besar.
“Kami meminta petani menggunakan varietas padi tahan kekeringan agar tetap produktif meski air terbatas,” ucap Johanes Sihombing.
Untuk itu, petani yang telah memasuki musim tanam kedua diminta segera melakukan percepatan penanaman sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Langkah ini penting agar tanaman memiliki waktu tumbuh yang cukup sebelum kondisi kekeringan semakin parah. Dengan percepatan tanam, risiko kerugian dapat ditekan seminimal mungkin.
Di sisi lain, efisiensi penggunaan air juga menjadi perhatian utama dalam menghadapi keterbatasan sumber daya. Petani diminta untuk lebih bijak dalam memanfaatkan air, terutama saat debit air mulai menurun. Pengelolaan air yang tepat dinilai dapat membantu menjaga keberlangsungan tanaman hingga masa panen.
“Petani harus bisa mengatur penggunaan air secara efisien karena tantangan kekeringan ini harus kita hadapi bersama,” sebutnya.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)