Mengintip Keseruan Bocah-bocah Manasik Haji di Sleman, Lengkap dengan Replika Unta
Muhammad Fatoni April 16, 2026 07:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Di tengah hamparan rumput hijau yang asri, belasan anak kecil tampak menggemaskan dalam balutan kain ihram putih.

Sebagian dari mereka duduk bersila, sementara yang lain berjalan beriringan melintasi replika unta dan pohon kurma menuju sebuah bangunan kubus hitam yang menyerupai Ka'bah.

Pemandangan ini bukanlah di Tanah Suci, melainkan potret keseruan edukasi keislaman yang digelar di Agroeduwisata Nara Kupu Jogja, Kabupaten Sleman.

Edukasi agama kini tak lagi sekadar hafalan di dalam ruang kelas.

Menjawab kebutuhan akan metode pembelajaran yang lebih membumi, Agroeduwisata Nara Kupu Jogja menghadirkan program manasik haji dengan kemasan yang sangat interaktif.

Tujuannya satu, yakni menarik antusiasme generasi muda, mulai dari anak usia dini hingga pelajar sekolah menengah.

Lebih dari sekadar simulasi biasa, program ini dirancang agar setiap peserta dapat merasakan langsung atmosfer ibadah haji seperti di kondisi aslinya.

Tahapan demi tahapan dilalui dengan saksama, dimulai dari mengenakan pakaian ihram sebagai simbol kesucian diri, kemudian melakukan Tawaf mengelilingi replika Ka’bah.

Pengalaman tersebut berlanjut dengan prosesi Sa’i atau berlari-lari kecil di antara replika bukit Shafa dan Marwah, hingga akhirnya ditutup dengan pelaksanaan Wukuf yang menyimulasikan suasana khidmat di Padang Arafah.

Baca juga: UNY Siap Layani 15.783 Peserta UTBK-SNBT 2026

Dengan pendekatan praktik langsung di ruang terbuka hijau ini, anak-anak tidak hanya sekadar menghafal tata cara beribadah.

Mereka dibimbing untuk meresapi makna spiritual di balik setiap rangkaian ibadah yang mereka jalankan dengan penuh antusias dan kepolosan.

Pengalaman Belajar

Pemilik Agroeduwisata Nara Kupu Jogja, Rayhan Christian Siego, menjelaskan bahwa kegiatan ini memang dirancang khusus untuk membangun pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memiliki makna yang mendalam bagi tumbuh kembang anak.

"Anak-anak belajar kesabaran, kebersamaan, dan kedisiplinan. Ini bukan hanya edukasi, tapi juga pembentukan karakter," ungkap Rayhan, Kamis (16/4/2026).

Suasana simulasi yang dibuat menyerupai kondisi di Tanah Suci menjadi daya tarik tersendiri yang membuat anak-anak tampak larut dalam pengalaman tersebut.

Dukungan penuh dari orang tua dan para pendidik turut menjadi pilar keberhasilan program ini sebagai model pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).

Menariknya, fasilitas dan program edukasi ini tidak eksklusif untuk anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Taman Kanak-Kanak (TK) saja.

Pelajar hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat turut serta. Lebih jauh lagi, fasilitas manasik haji di Nara Kupu Jogja ini juga sering dimanfaatkan sebagai lokasi gladi bersih bagi para calon jamaah haji dan umrah dewasa, guna mematangkan kesiapan mental dan fisik sebelum benar-benar bertolak ke Makkah.

Melihat tingginya antusiasme masyarakat, pengelola berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi, baik dari segi penyempurnaan konsep acara maupun kelengkapan fasilitas.

Marketing & Event Manager Nara Kupu Jogja, Tomy Tri Ivananto, atau yang akrab disapa Joyobadik, melihat prospek yang sangat besar dari program wisata religi ini untuk dikembangkan menjadi destinasi edukasi unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Kami ingin menjadikannya agenda rutin yang tidak hanya edukatif, tetapi juga menyenangkan dan membekas. Dengan konsep belajar sambil bermain, manasik haji di Nara Kupu Jogja ingin menjadi ruang unjuk bahwa pendidikan agama bisa dikemas lebih hidup, menarik dan dekat dengan generasi muda," pungkas Tomy. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.