Kepala SPPG Bunaken–Molas di Manado Buka Suara Terkait Keluhan Orang Tua Murid
Isvara Savitri April 16, 2026 08:22 PM

 

TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bunaken–Molas, Vorianus BT, angkat bicara terkait keluhan orang tua/wali murid mengenai penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG) Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Vorianus menjelaskan, pada awal pelaksanaan program, SPPG Bunaken–Molas melayani hingga 4.000 siswa sesuai petunjuk teknis (juknis) awal. 

Namun, terjadi perubahan kebijakan pada akhir 2025 yang membatasi jumlah penerima manfaat maksimal hanya 3.000 siswa.

“Awalnya memang jalan di 4.000 siswa, karena juknis awal begitu. Tapi kemudian berubah, maksimal hanya 3.000 siswa dan sistemnya juga ikut berubah,” ujarnya ketika ditemui, Kamis (16/4/2026).

Meski demikian, hingga saat ini pihaknya masih melayani sekitar 3.800 siswa dari 42 sekolah, sehingga terjadi kelebihan beban layanan di luar kapasitas anggaran yang tersedia.

“Saya sadar anggaran hanya untuk 3.000 orang, tapi harus berjalan di 3.800. Itu yang menjadi kendala utama,” katanya.

Keterbatasan anggaran membuat pihaknya harus melakukan berbagai penyesuaian, termasuk memangkas biaya operasional lain untuk dialihkan ke kebutuhan makanan.

“Anggaran untuk pengecekan harga pasar, seperti uang bensin, kami pangkas dan dialihkan ke makanan. Karena yang utama adalah penerima manfaat,” jelas Vorianus.

Selain itu, perubahan juknis juga mengatur waktu produksi makanan yang kini dimulai sejak dini hari untuk menghindari makanan basi.

“Sekarang masak dimulai lewat dari pukul 00.00 Wita. Itu untuk mengantisipasi makanan basi, jadi prosesnya dimajukan,” ungkapnya.

MBG - Menu MBG yang disalurkan di salah satu sekolah di Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, Kamis (16/4/2026). Orang tua murid mengeluhkan kinerja SPPG Bunaken-Molas.
MBG - Menu MBG yang disalurkan di salah satu sekolah di Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, Kamis (16/4/2026). Orang tua murid mengeluhkan kinerja SPPG Bunaken-Molas. (Tribun Manado/Isvara Savitri)

Terkait keterlambatan distribusi yang sempat dikeluhkan, Vorianus mengakui hal tersebut terjadi terutama pada masa awal operasional dapur yang mulai berjalan sejak September 2025.

“Namanya dapur baru, kami masih mencari sistem terbaik supaya penyaluran tepat waktu. Sekarang sudah jauh lebih baik, kalau pun terlambat hanya sekitar setengah jam,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa faktor jarak distribusi turut memengaruhi ketepatan waktu penyaluran. 

Beberapa lokasi sekolah berada di luar radius ideal pengantaran.

“Jarak yang ditentukan itu sekitar 6 kilometer, tapi kami juga melayani wilayah Pandu yang jaraknya sampai 9–10 kilometer. Jadi memang memengaruhi distribusi,” ujarnya.

Kendala teknis lain seperti kerusakan kendaraan juga pernah terjadi dan menyebabkan keterlambatan hingga siang hari.

“Pernah juga terlambat sampai lewat pukul 12.00 Wita karena ban kendaraan pecah,” tambahnya.

Terkait sistem pendataan penerima manfaat, Vorianus menjelaskan bahwa setiap penambahan siswa harus melalui pengajuan proposal berbasis data melalui aplikasi Dialur yang terintegrasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).

“Semua data harus jelas, mulai dari jumlah siswa laki-laki dan perempuan, jenjang pendidikan, hingga kelas. Karena itu berpengaruh pada anggaran,” jelasnya.

Ia juga mengimbau pihak sekolah untuk tidak meminta distribusi lebih awal secara bersamaan, karena dapat mengganggu sistem penyaluran yang sudah diatur.

Baca juga: Orang Tua Murid Keluhkan Kualitas Menu MBG dari SPPG Bunaken-Molas, Tak Bergizi hingga Pernah Basi

Baca juga: Orang Tua Murid Keluhkan Kinerja SPPG Bunaken-Molas di Manado, Kerap Tak Tepat Waktu

“Saya minta ke sekolah jangan semua minta duluan. Kalau semua mau lebih cepat, penyaluran tidak akan berjalan baik,” tegasnya.

Meski terdapat berbagai kendala, Vorianus memastikan bahwa secara umum pelaksanaan program MBG di wilayah Bunaken–Molas tetap berjalan dan mendapat dukungan dari sekolah maupun masyarakat.

“Untuk wilayah Molas, guru-guru dan masyarakat sangat mendukung. Tidak ada sekolah yang menolak program ini,” katanya.

Ia berharap ke depan adanya penyesuaian anggaran dan sistem yang lebih optimal agar pelaksanaan program MBG dapat berjalan sesuai tujuan tanpa menimbulkan keluhan di masyarakat.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.