TRIBUNJAMBI.COM - Tanda-tanda perundingan damai Iran dan Amerika Serikat mulai terlihat. Namun, kemungkinan ancaman perang berlanjut masih muncul dari Israel.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan negaranya siap melanjutkan perang dengan Iran.
Padahal, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump telah memberikan isyarat perundingan damai dengan Iran bakal terjadi.
Baik AS maupun Iran telah berupaya menjembatani kesenjangan yang tersisa dan mencapai kesepakatan sebelum gencatan senjata berakhir pada 21 April 2026.
Bahkan, delegasi Pakistan yang dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir Ahmed Shah tiba di Teheran pada Rabu (15/4/2026) untuk melakukan pembicaraan langsung dengan para pejabat Teheran.
Netanyahu mengatakan dalam sebuah pernyataan video, AS terus memberikan informasi terbaru kepada Israel mengenai kontaknya dengan Iran.
"Kami ingin melihat material uranium yang diperkaya milik Iran disingkirkan, dan kami ingin melihat penghapusan kemampuan pengayaan uranium di dalam Iran."
"Dan tentu saja, kami ingin melihat pembukaan kembali selat tersebut," ucap Netanyahu, mengutip The Times of Israel.
Ia menekankan, pihaknya siap menghadapi segala skenario, termasuk kemungkinan pecahnya kembali perang jika kesepakatan tidak tercapai.
"Terlalu dini untuk memprediksi hasil akhirnya."
"Namun, melihat dinamika yang ada, kami bersiap untuk skenario apa pun, termasuk melanjutkan pertempuran," tegas Netanyahu dalam sebuah video singkat.
Persiapan Perundingan
Upaya damai antara AS dan Iran dilaporkan menunjukkan titik terang.
Pakistan, yang mengambil peran sebagai mediator, disebut-sebut berhasil membawa kedua negara ke arah terobosan diplomatis yang selama ini dinanti dunia.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, optimisme ini mencuat setelah adanya laporan "kemajuan besar" terkait program nuklir Iran.
Langkah ini menjadi krusial mengingat masa gencatan senjata antara Washington dan Teheran akan segera kedaluwarsa pada 21 April 2026 mendatang.
Untuk merealisasikan perundingan itu, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir Ahmed Shah telah mendarat di Teheran.
Misi utamanya adalah membawa pesan khusus dari AS sekaligus memastikan perundingan putaran kedua bisa segera digelar.
Sementara menurut laporan Axios, seorang pejabat AS mengatakan tim negosiasi Trump terus melakukan panggilan dan bertukar draf proposal dengan pihak Iran pada hari Selasa.
"Mereka saling menghubungi melalui telepon dan jalur komunikasi rahasia dengan semua negara, dan mereka semakin mendekat," kata pejabat AS tersebut.
Seorang pejabat AS kedua mengkonfirmasi, kemajuan telah dicapai pada Selasa (14/4/2026).
"Kami ingin membuat kesepakatan. Dan sebagian dari pemerintah mereka juga ingin membuat kesepakatan."
"Sekarang tantangannya adalah bagaimana membuat seluruh pemerintah di sana menyetujui kesepakatan tersebut," kata seorang pejabat AS ketiga.
Babak baru pembicaraan langsung tatap muka kemungkinan akan berlangsung dalam beberapa hari mendatang sebelum gencatan senjata berakhir.
Meski begitu, tanggal pasti untuk pertemuan antara AS dengan Iran belum ditetapkan.
Wapres AS, JD Vance merasa optimis kesepakatan damai dengan Iran akan segera tercapai.
"Saya pikir orang-orang yang duduk di hadapan kita ingin membuat kesepakatan. Saya merasa sangat optimis dengan posisi kita saat ini," tegasnya.
Komentar Vance sangat penting karena wakil presiden tersebut tidak bernegosiasi langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Pertemuan Pemimpin Israel dan Lebanon
Sementara itu, pemimpin Israel dan Lebanon dijadwalkan untuk berbicara langsung pada Kamis (16/4/2026) waktu setempat.
Pertemuan yang akan terjadi setelah hampir 34 tahun itu diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Sementara itu, sebuah sumber resmi mengatakan kepada AFP pada hari Kamis bahwa Lebanon "tidak mengetahui" adanya kontak yang akan datang dengan Israel.
Lebanon terseret ke dalam perang regional melawan Iran pada 2 Maret 2026 setelah Hizbullah menyerang Israel.
Sejak itu, serangan Israel – termasuk serangan yang sangat hebat di Beirut pada 8 April 2026 – telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
Israel dan Lebanon tidak memiliki hubungan diplomatik formal dan secara teknis berada dalam keadaan perang sejak berdirinya Israel pada tahun 1948.
Israel memiliki sejarah panjang melakukan serangan dan invasi militer di Lebanon, termasuk pendudukan selama 18 tahun di wilayah selatan dari tahun 1982-2000.
Israel dan Lebanon mengadakan pembicaraan yang dimediasi oleh AS pada tahun 2022 yang menghasilkan perjanjian bilateral yang menetapkan batas maritim antara kedua negara.
Dilansir Al Jazeera, pengumuman Trump disampaikan sehari setelah duta besar Israel dan Lebanon mengadakan pembicaraan diplomatik langsung pertama mereka dalam lebih dari tiga dekade di Washington, DC, di mana Lebanon berupaya mengakhiri serangan dahsyat Israel terhadap negara tersebut.
Presiden AS tidak menyebutkan pemimpin mana yang akan terlibat dalam pembicaraan itu.
Pernyataan Israel dan Lebanon
Gila Gamliel, anggota kabinet keamanan Israel, mengatakan kepada Radio Angkatan Darat Israel pada hari Kamis bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Sebelumnya pada Rabu (15/4/2026), Netanyahu mengatakan bahwa ia telah memerintahkan militer untuk memperluas invasi di Lebanon selatan, ke arah timur.
Dia mengatakan Israel sedang mengupayakan negosiasi dengan pemerintah Lebanon bersamaan dengan kampanye militernya melawan Hizbullah dengan harapan melucuti senjata kelompok tersebut dan mencapai "perdamaian berkelanjutan" dengan negara tetangganya di utara.
Di sisi lain, Pemerintah Lebanon, yang bukan pihak dalam konflik tersebut, mengatakan bahwa mereka berupaya mencapai gencatan senjata dan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan.
Sementara itu, terlepas dari upaya diplomatik, Israel terus melancarkan serangan mematikan terhadap warga sipil Lebanon.
Pada hari Rabu, militer Israel melancarkan tiga serangan beruntun di desa Mayfadoun, menewaskan empat paramedis Lebanon dan melukai enam lainnya.
Menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, pasukan Israel telah menewaskan 91 pekerja medis Lebanon sejak 2 Maret 2026 dan menyerang beberapa fasilitas medis.
Militer Israel mengatakan pasukannya telah mengepung kota strategis di puncak bukit itu, tetapi Hizbullah mengatakan para pejuangnya di dalam kota terus melakukan perlawanan. (Tribunnews.com/Whiesa/Nuryanti)
Sumber: Tribunnews
Baca juga: Ancaman Iran Blokade Laut Merah vs AS Blokade Selat Hormuz, Tekanan di Balik Tekanan
Baca juga: Jebakan Ranjau Laut Iran di Selat Hormuz vs Teknologi Canggih Amerika Bersihkan Tapi Mahal