TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Kabupaten Tana Toraja tercatat sebagai daerah dengan cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) terendah di Sulawesi Selatan, yakni hanya 43,06 persen pada tahun 2024.
Rendahnya capaian imunisasi tersebut menjadi sorotan, terutama karena masih banyak anak yang belum mendapatkan perlindungan kesehatan dasar.
Data terbaru juga menunjukkan bahwa pada kuartal pertama tahun 2026, capaian imunisasi di Tana Toraja masih berada di angka 15 persen.
Kondisi ini disebut tidak hanya dipengaruhi faktor logistik, tetapi juga persoalan komunikasi antara petugas kesehatan dan masyarakat.
Sejumlah orang tua masih ragu memberikan imunisasi kepada anak, akibat kurangnya pemahaman terkait manfaat imunisasi serta kekhawatiran terhadap efek samping.
Menjawab tantangan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Toraja menggelar pelatihan Komunikasi Antarpribadi (KAP) bagi petugas imunisasi di seluruh puskesmas.
Pelatihan ini bekerja sama dengan peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Mohammad Alief Iqra, dan didukung Portal Kepemudaan Masyarakat Sehat (Portkesmas).
Dalam penelitian tersebut Alief mengatakan metode yang ia gunakan adalah Greet-Invite-Discuss (GID) Guideline, yakni pendekatan komunikasi yang menekankan hubungan humanis, empatik, serta sensitif budaya.
Adapun kegiatan perdana ini, dilaksanakan pada Sabtu, 11 April 2026 di Aula Dinas Kesehatan, Kecamatam Makale, Kabupaten Tana Toraja.
Kepala Dinas Kesehatan Tana Toraja, Yosefina Rombetasik, menyebut capaian imunisasi saat ini masih jauh dari target.
“Angka cakupan imunisasi pada kuartal 1 di tahun 2026 masih 15 persen. Tantangan cakupan imunisasi di Tana Toraja tidak cukup diselesaikan hanya dengan pendekatan logistik semata,” ujarnya saat menghadiri pelatihan.
Ia menegaskan pentingnya peningkatan kemampuan komunikasi petugas kesehatan.
“Petugas imunisasi kami perlu dibekali keterampilan berkomunikasi secara empatik dan partisipatif,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tana Toraja, Aldin, menyebut petugas di lapangan sering menghadapi keraguan masyarakat.
“Petugas imunisasi kami bekerja di garis terdepan, menghadapi langsung pertanyaan, keraguan, bahkan penolakan dari masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, dr. Mohammad Alief Iqra menilai angka rendah tersebut mencerminkan masih banyak anak yang belum terlindungi.
“Angka 43,06 persen cakupan IDL Tana Toraja bukan sekadar statistik, itu adalah anak-anak yang belum terlindungi,” ungkapnya, Kamis (16/4/2026).
Ia menambahkan, pendekatan komunikasi yang tepat dapat membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
Selanjutnya Alief berharap melalui pelatihan ini, diharapkan terjadi peningkatan kualitas komunikasi petugas kesehatan yang berdampak pada naiknya cakupan imunisasi di Tana Toraja.(*)