Khofifah Guyur Bonus Rp 1,84 Miliar Atlet Paralimpik Jatim, 35 Medali di ASEAN Para Games 2025
Cak Sur April 16, 2026 09:05 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, memberikan penghargaan berupa bonus apresiasi senilai total Rp 1,845 miliar kepada 15 atlet paralimpik dan dua pelatih Jawa Timur yang berprestasi pada ajang ASEAN Para Games 2025.

Penyerahan bonus dilakukan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (16/4/2026), didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono serta Ketua National Paralympic Committee Indonesia Jawa Timur, Imam Kuncoro.

Raih 35 Medali dari 6 Cabang Olahraga

Pada ajang tersebut, kontingen atlet paralimpik Jawa Timur berhasil menyumbangkan total 35 medali, terdiri dari 10 emas, 19 perak, dan 6 perunggu.

Sebanyak 15 atlet berlaga pada enam cabang olahraga, yakni:

  • Para atletik
  • Para renang
  • Para panahan
  • Para bulu tangkis
  • Para tenis meja
  • Voli duduk

Apresiasi Khofifah: Kombinasi Fisik dan Mental Jadi Kunci

Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan semangat juang para atlet dan pelatih.

“Alhamdulillah kawan-kawan atlet paralimpik Jatim sudah memberikan dedikasi yang terbaik dan terus mencapai prestasi terbaiknya. Terakhir ini ASEAN Para Games,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti pembinaan olahraga paralimpik di Jawa Timur berjalan konsisten dan terarah.

“Terima kasih karena pelatihnya luar biasa, atletnya juga sangat luar biasa. Bagaimana pentingnya membangun kedisiplinan, ada sisi pelatihan fisik, ada pengasahan mental. Dua-duanya dibutuhkan karena setiap kompetisi biasanya tantangannya dinamik, berbeda-beda,” ungkapnya.

“Saya yakin bahwa ketahanan fisik yang terlahir dengan disiplin dan ketahanan mental yang terasah akan terus mengantarkan prestasi gemilang berikutnya,” tambah Khofifah.

Penguatan Sport Science dan Pusat Pelatihan Terintegrasi

Khofifah menilai dukungan berbasis sport science, termasuk peran Universitas Negeri Surabaya, penting dalam meningkatkan performa atlet.

“Tadi yang dijelaskan Bapak Imam Kuncoro bagaimana sebetulnya terkait pusat pelatihan terintegrasi akan dibahas ulang dengan Kadispora dan Pak Sekda, tentu kalau menyiapkan pusat pelatihan integrasi formatnya seperti apa yang bisa lebih efektif bagi atlet paralimpik ini,” katanya.

Ia juga mendorong pemetaan kekuatan atlet di tingkat nasional dan internasional.

“Penting juga terkait pemetaan kompetitor atlet lainnya, pasti semua dalam pemetaan NPCI. Jadi secara nasional punya peta kekuatan atlet dari negara lain, jadi NPCI Jatim juga harus punya pemetaan itu,” lanjutnya.

Bonus Jadi Motivasi dan Simbol Kehadiran Negara

Khofifah menegaskan, bonus tersebut merupakan bentuk nyata penghargaan pemerintah, bukan sekadar seremoni.

“Para atlet ini adalah inspirasi bagi kita semua. Ini adalah buah dari semua kerja keras, pengorbanan, latihan panjang, serta mental juara yang ditempa dari waktu ke waktu,” tegasnya.

“Oleh karena itu, saudara semua telah membuktikan bahwa atlet paralimpik Jawa Timur mampu bersaing, berprestasi, dan menjadi kebanggaan di tingkat regional maupun internasional,” tutur Khofifah. 

“Semoga ini bisa memotivasi semua atlet paralimpik untuk terus berlatih dan berkompetisi secara maksimal. Harapannya ini bisa menjadi energi baru untuk berjuang menghadapi kompetisi berikutnya,” pesannya menambahkan.

NPCI: Prestasi Tidak Instan, Hasil Pembinaan Berjenjang

Ketua NPCI Jawa Timur, Imam Kuncoro, menegaskan bahwa prestasi tersebut merupakan hasil pembinaan jangka panjang.

“15 atlet Jatim berprestasi di Asean Para Games Thailand membuktikan hasil investasi pembinaan yang terukur. Prestasi tidak lahir instan tetapi berjenjang dan penuh kesabaran,” katanya.

Ia mengungkapkan pihaknya telah melakukan pencarian bibit atlet sejak dini.

“Oktober 2025 kami melaksanakan pencarian bibit atlet di kabupaten kota se Jatim. Hasilnya menjaring sekitar 350 calon atlet muda yang bersiap menjadi generasi penerus di masing-masing cabang olahraga,” Imam Kuncoro menuturkan. 

“Selain itu membangun semangat kesetaraan sehingga olahraga disabilitas mendapat ruang yang luas di tengah masyarakat. Jangan hitung yang hilang ditubuh tapi hitung berapa prestasi yang sudah dan akan kalian berikan bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.

Suara Atlet: Perjuangan Melampaui Batas

Salah satu atlet para renang, Mutiara Cantik, menyampaikan bahwa medali yang diraih merupakan hasil perjuangan panjang.

“Medali yang saya bawa pulang dari ASEAN Para Games ini hasil dari proses panjang yang tidak mudah. Bagi atlet disabilitas, setiap detik pemusatan latihan adalah perjuangan untuk melampaui batas fisik dan mental. Satu hal yang menguatkan saya dia rena pertandingan, saya membawa nama besar Jawa Timur,” kata Mutiara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.