Rahmat Taqwa Kritik PDAM Makassar, Wahidin Beberkan Penyebab Air Tak Mengalir
Sukmawati Ibrahim April 16, 2026 09:21 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Makassar memberikan penjelasan terkait kritik Anggota DPRD Makassar, Rahmat Taqwa Quraisy, mengenai krisis air bersih di wilayah utara kota.

Kritik tersebut mencuat setelah Rahmat menilai persoalan kekeringan merupakan masalah tahunan yang belum tertangani optimal.

“Iya, tentunya kekeringan ini menjadi kendala dari tahun ke tahun,” ujar Rahmat dalam Rapat Paripurna di Balaikota Makassar Jl Jenderal Ahmad Yani, Rabu (15/4/2026). 

Ia juga menyoroti kebijakan pergantian pipa yang dinilai belum berdampak signifikan terhadap distribusi air.

“Pipa PDAM diganti terus, air tetap tidak ada,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Plt Kabag Distribusi dan Kehilangan Air (DKA) PDAM, Wahidin menjelaskan, distribusi air ke wilayah utara memang memiliki tantangan teknis tersendiri.

“Untuk wilayah utara kota, sistem pengalirannya dilakukan secara gravitasi,” kata Wahidin di Kantor PDAM Makassar Jl Ratulangi, Kamis (16/4/2026). 

Menurutnya, sistem ini hanya mengandalkan perbedaan ketinggian sehingga tekanan air relatif rendah.

“Tekanan air yang dihasilkan hanya sekitar 1,3 bar karena elevasi sumber air di Panaikang sekitar 13 meter,” jelasnya.

Kondisi ini berbeda dengan wilayah timur yang menggunakan sistem pompa bertekanan tinggi.

Disebutkan, wilayah timur bisa sampai 4,5 hingga 4,7 bar karena menggunakan pompa. 

Akibat tekanan rendah, distribusi air ke wilayah pesisir utara kerap tidak maksimal.

Selain faktor jaringan, PDAM juga menghadapi penurunan drastis pada sumber air baku, yakni du Bendung Lekopancing Kabupaten Maros. 

Dalam kondisi normal, suplai air mencapai 1.300 liter per detik.

Namun saat unu hanya sekitar 360 liter per detik. 

Penurunan ini, lanjutnya, dipengaruhi pemanfaatan air di sepanjang saluran oleh warga di wilayah Kabupaten Maros.

“Air di saluran terbuka banyak dimanfaatkan untuk kolam ikan, sehingga suplai ke Panaikang berkurang,” beberny.

PDAM pun melakukan berbagai langkah darurat untuk menjaga layanan tetap berjalan.

Seperti mengambil tambahan air dari Sungai Moncongloe dengan pompa suplai. 

Tambahan tersebut berkisar antara 600 hingga 900 liter per detik.

Selain itu, distribusi air bersih dilakukan melalui mobil tangki.

14 armada mobil tangki untuk distribusi gratis disiagakan. 

Saat ini, distribusi mencapai 20 hingga 30 rit per hari.

“Bisa sampai 100 rit saat kondisi ekstrem seperti El Nino,” tambahnya.

Menanggapi keluhan warga yang tetap membayar meski air tidak mengalir, PDAM tidak menampik adanya beban biaya dasar.

Namun, pihaknya menegaskan, persoalan utama tetap pada keterbatasan suplai dan tekanan.

“Masalah utamanya bukan hanya jaringan, tapi juga ketersediaan air baku,” ujarnya.

Terkait pergantian pipa yang disorot DPRD, PDAM menegaskan hal itu dilakukan berdasarkan kebutuhan teknis.

“Pipa, khususnya galvanis, ada umur pakainya, apalagi di wilayah utara kadar garamnya tinggi,” katanya.

Ia menjelaskan, korosi pada pipa dapat menyebabkan penyumbatan aliran air.

Kondisi ini bahkan dapat menyebabkan perbedaan distribusi antar rumah.

“Sering terjadi satu rumah tidak dapat air, tapi tetangganya dapat karena di meterannya tersumbat karat,” ungkapnya.

Selain faktor usia, penggantian pipa juga dilakukan untuk menyesuaikan kapasitas layanan.

“Kalau pipa dua inci awalnya untuk 100 pelanggan, sekarang sudah 200, tentu harus diperbesar,” katanya.

PDAM menyebut perencanaan jaringan didasarkan pada potensi kebutuhan kawasan, bukan hanya pelanggan aktif.

Meski demikian, PDAM mengakui perlunya solusi jangka panjang seperti yang juga disoroti DPRD.

“Kami mendorong alternatif sumber air seperti Sungai Tallo atau Sungai Jeneberang,” katanya.

Langkah ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada Bendung Lekopancing yang kerap bermasalah saat kemarau. (*) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.