TRIBUNMADURA.COM – Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Pulau Madura yang memiliki sejarah panjang dan sarat nilai spiritual, Kamis (16/4/2026).
Berlokasi di Desa Potoan Dajah, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, pesantren ini telah menjadi pusat pendidikan Islam sejak akhir abad ke-18.
Pondok Pesantren Banyuanyar didirikan oleh Raden KH Itsbat sekitar tahun 1787 M atau 1204 H.
Awal mula berdirinya pesantren ini dimulai dari sebuah langgar kecil yang dibangun di atas lahan tegalan yang sempit dan gersang.
Dilansir dari banyuanyar.net, nama “Banyuanyar” memiliki makna filosofis yang kuat.
Kata “banyu” berarti "air," sedangkan “anyar” berarti "baru."
Penamaan tersebut merujuk pada penemuan sumber mata air besar oleh Kiai Itsbat melalui pandangan batinnya.
Sumber air tersebut hingga kini diyakini tidak pernah surut dan menjadi simbol keberkahan bagi lingkungan pesantren.
Baca juga: Sejarah Pondok Tremas Pacitan, Jejak KH Abdul Manan sejak Tahun 1820 M
Dalam perjalanan sejarahnya, Kiai Itsbat tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai seorang tuan tanah dan sosok alim yang memiliki pengaruh besar di masyarakat.
Ia membagikan tanah miliknya kepada para putranya, yang kemudian menjadi cikal bakal perkembangan berbagai wilayah dan pesantren di sekitarnya.
Salah satu penerus utama pesantren ini adalah Raden KH Abd Hamid Itsbat, putra bungsu Kiai Itsbat.
Dalam wasiatnya sebelum wafat, ia membagi wilayah pesantren menjadi dua bagian utama, yakni Dhalem Barat dan Dhalem Timur.
Pembagian ini menjadi tonggak penting dalam pengelolaan dan perkembangan pesantren ke depan.
Dikutip dari TribunMadura.com, Dhalem Barat kemudian diwariskan kepada Kiai Abd Majid, yang selanjutnya dirintis menjadi Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar.
Sementara itu, Dhalem Timur diteruskan oleh Kiai Baidhowi dan berkembang menjadi Pondok Pesantren Al-Hamidy Banyuanyar.
Seiring berjalannya waktu, Pesantren Banyuanyar terus mengalami perkembangan pesat.
Pada era berikutnya, pesantren ini dikenal sebagai pusat pembelajaran kitab kuning dan pendidikan Islam di wilayah Madura.
Baca juga: Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan, Dari Tradisional hingga Adaptif Modernisasi
Memasuki tahun 1980-an, nama “Darul Ulum” mulai digunakan secara formal untuk menaungi berbagai lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal di bawah naungan pesantren.
Kini, Pesantren Banyuanyar telah menjelma menjadi salah satu pesantren besar yang tidak hanya mempertahankan tradisi salaf, tetapi juga mengintegrasikan sistem pendidikan modern.
Modernisasi dan digitalisasi menjadi bagian dari upaya pesantren dalam menjawab tantangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang telah diwariskan oleh para pendirinya.
Dengan sejarah panjang yang dimilikinya, Pesantren Banyuanyar tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga simbol keberlanjutan tradisi keilmuan Islam di Madura.
Keberadaan sumber air “banyuanyar” yang menjadi asal-usul namanya pun seolah menjadi metafora keberkahan ilmu yang terus mengalir hingga kini.