Konsistensi Fitrah
tarso romli April 16, 2026 10:27 PM


Oleh: Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag
Dirda LPK Sakinah Kota Palembang
Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang

PERKEMBANGAN teknologi digital, urbanisasi, dan kapitalisme global telah mengubah lanskap kehidupan manusia secara radikal. Namun, berbagai riset mutakhir menunjukkan paradoks: kemajuan material tidak selalu diikuti dengan kesejahteraan psikologis.

Laporan World Happiness Report (2024) dan meta-analisis psikologi klinis menunjukkan peningkatan kecemasan, depresi, dan rasa kesepian, terutama pada generasi muda.

Studi Cacioppo (loneliness research) dan Twenge (iGen) menguatkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi dengan penurunan well-being. 

Dalam perspektif Islam, krisis ini dapat dibaca sebagai keterputusan manusia dari fitrah. Al-Qur’an menegaskan: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (QS. al-Rum: 30).

Ayat ini menunjukkan bahwa fitrah adalah struktur eksistensial manusia yang bersifat tetap orientasi kepada tauhid dan kebenaran.

Ketika manusia menjauh dari orientasi ini, muncul disorientasi hidup. Hadis Rasulullah saw memperkuat konsep tersebut bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah (HR. al-Bukhari no. 1385; Muslim no. 2658).

Hadis ini diriwayatkan melalui jalur Abu Hurairah dan termasuk hadis muttafaq ‘alaih (disepakati oleh Bukhari-Muslim), sehingga berstatus sahih tanpa keraguan.

Lafal fitrah dalam hadis bersifat umum yang menunjukkan keluasan makna tentang potensi tauhid, kesiapan menerima kebenaran, dan kecenderungan moral.

Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa fitrah adalah kesiapan menerima agama yang benar (isti‘dad li qabūl al-ḥaqq). Imam al-Nawawi menegaskan bahwa fitrah bermakna Islam itu sendiri dalam bentuk potensial.

Hadis lain memberikan dimensi teologis yang lebih dalam: (Allah berfirman) Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (HR. Muslim no. 2865).

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya dari ‘Iyadh bin Himar. Sanadnya bersambung (muttasil) dengan perawi tsiqah, sehingga berstatus sahih. Kata hunafā menunjukkan makna orientasi lurus kepada tauhid sebelum adanya distorsi sosial.

Era digital mempercepat proses konstruksi identitas secara artifisial. Menurut riset Turkle (MIT), manusia modern mengalami alone together terhubung secara digital namun terisolasi secara emosional.

 Dalam sosiologi, Giddens menyebut kondisi ini sebagai reflexive modernity, di mana identitas menjadi proyek yang terus-menerus dinegosiasikan. Namun tanpa fondasi nilai yang kuat, proses ini menghasilkan kecemasan eksistensial.

Al-Qur’an mengingatkan: dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri (QS. al-Hashr: 19). Ayat ini relevan dengan fenomena modern: kehilangan hubungan dengan Tuhan berujung pada kehilangan jati diri.

Dalam hadis Rasulullah saw juga mengingatkan tentang bahaya pengaruh eksternal. Sabda Rasul: kemudian setan datang kepada mereka dan memalingkan mereka…” (HR. Muslim no. 2865).

Secara kontekstual, setan dapat dimaknai tidak hanya sebagai entitas metafisik, tetapi juga sistem yang menjauhkan manusia dari nilai kebenaran.

Hadis Nabi memberikan metode praktis untuk menjaga dan memulihkan fitrah. Salah satunya dengan informasi bahwa sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati (HR. Bukhari no. 52; Muslim no. 1599).

Hadis sahih diriwayatkan dari al-Nu‘man bin Basyir dijelaskan bahwa hati  sebagai pusat kesadaran moral dan spiritual. Dalam psikologi modern, ini sejalan dengan konsep emotional regulation dan inner awareness.

Riset neuroscience menunjukkan bahwa praktik spiritual seperti dzikir dan meditasi dapat meningkatkan aktivitas prefrontal cortex yang berkaitan dengan kontrol diri dan ketenangan.

Hadis juga menegaskan pentingnya konsistensi. Sabda Rasul amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit (HR. Bukhari no. 6464; Muslim no. 783).

Menjaga stabilitas dan kesinambungan kebaikan jauh lebih baik daripada kuantitas yang bersifat musiman

Krisis global lingkungan, sosial, dan moral menunjukkan kegagalan paradigma materialistik. Fitrah menawarkan pendekatan alternatif berbasis keseimbangan.  

Firmaan Allah swt: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia (QS. al-Qasas: 77).

Dalam kerangka ini, fitrah bukan sekadar konsep teologis, tetapi paradigma peradaban. Integrasi hadis dan ilmu modern membuka ruang: etika teknologi berbasis nilai tauhid, pendidikan karakter berbasis fitrah serta psikologi Islam sebagai alternatif terapi modern. Kembali ke fitrah adalah proses rekonstruksi manusia secara utuh spiritual, moral, dan sosial.

Hadis Rasul saw memberikan fondasi normatif yang kuat, sementara riset modern memberikan validasi empiris.

Di tengah dunia yang terfragmentasi, fitrah menjadi titik pulang: bukan nostalgia masa lalu, tetapi fondasi masa depan yang lebih manusiawi dan berkeadaban Kita hidup di zaman yang serba cepat, tetapi sering kali kehilangan arah.

Kita tahu banyak hal, tetapi tidak selalu mengenal diri sendiri. Kita terhubung dengan banyak orang, tetapi hati terasa kosong.

Di titik inilah, ajakan untuk kembali ke fitrah bukan sekadar wacana agama, melainkan kebutuhan yang mendesak. Kembali ke fitrah tidak menuntut kita menjadi manusia yang sempurna.

Ia hanya meminta satu hal: kejujuran untuk kembali. Kembali mengakui bahwa hati ini pernah jernih. Kembali menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang makna.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Bahkan langkah kecil seperti memperbaiki shalat, menahan amarah, berkata jujur, atau menyapa dengan tulus adalah bagian dari perjalanan pulang itu.

Rasulullah SAW bersabda bahwa Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. al-Tirmidzi no. 2499, hasan).

Pesan ini sederhana, tetapi dalam: manusia tidak dituntut tanpa salah, tetapi dituntut untuk tidak terus-menerus menjauh. Maka, jangan tunggu hidup menjadi sempurna untuk kembali.

 Jangan tunggu tenang untuk mendekat. Justru dalam kegelisahan itulah jalan pulang dibuka. Fitrah tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya tertutup. Dan setiap kebaikan yang kita lakukan sekecil apa pun adalah upaya menyingkapnya kembali. Jika dunia terasa bising, mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak suara, tetapi lebih banyak keheningan.

Jika hidup terasa berat, mungkin yang kita perlukan bukan pelarian, tetapi arah. Kembali ke fitrah adalah tentang pulang bukan ke masa lalu, tetapi ke diri yang paling jujur di hadapan Tuhan.

Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah tahunan, tetapi ruang pembentukan ulang kesadaran manusia. Ia dapat dibaca sebagai laboratorium spiritual di mana fitrah tidak hanya diingat, tetapi dilatih secara sistematis.

Puasa, misalnya, tidak hanya menahan lapar dan dahaga. Al-Qur’an menegaskan tujuannya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183).

Takwa di sini bukan sekadar kesalehan ritual, tetapi kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Dalam perspektif psikologi, ini sejalan dengan konsep selfregulation kemampuan mengendalikan dorongan dan menunda kepuasan.

Riset modern menunjukkan bahwa praktik seperti puasa dan pengendalian diri dapat meningkatkan fungsi eksekutif otak serta memperkuat disiplin mental. Dengan demikian, puasa adalah latihan konkret untuk mengembalikan manusia pada kontrol diri yang merupakan bagian dari fitrah.

Selain puasa, Ramadhan juga menghadirkan intensitas ibadah lain seperti shalat malam, tilawah al-Qur’an, dan sedekah.

Semua ini membentuk pola hidup yang lebih selaras dengan nilai-nilai fitrah kesederhanaan, kepedulian, dan kedekatan dengan Tuhan. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga spirit Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang mengalami lonjakan spiritual selama Ramadhan, tetapi kembali pada pola lama setelahnya.

Hadis Rasul saw memberikan peringatan implisit bahwa bagi siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. al-Bukhari no. 38; Muslim no. 760).

Pengampunan ini seharusnya menjadi titik awal, bukan akhir. Ia membuka lembaran baru yang menuntut konsistensi. Dalam kajian perilaku (behavioral science), perubahan yang bertahan lama membutuhkan habit formation.

Ramadhan sebenarnya menyediakan kerangka 30 hari untuk membangun kebiasaan baru: disiplin waktu, kontrol emosi, dan kepedulian sosial.

 Jika selama Ramadhan kita mampu menahan diri dari yang halal, mengapa setelahnya sulit menjauhi yang haram? Jika kita mampu bangun malam untuk ibadah, mengapa setelahnya kehilangan waktu untuk refleksi? Jika kita merasakan empati kepada yang miskin, mengapa setelahnya kembali acuh? Di sinilah makna kembali ke fitrah menjadi konkret: menjaga nilai, bukan hanya pada momentum.

Al-Qur’an mengingatkan dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali (QS. al-Nahl: 92).

Ayat ini menjadi metafora kuat: jangan merusak apa yang sudah dibangun. Pada akhirnya, Ramadhan bukan tujuan, tetapi sarana. Ia melatih manusia untuk kembali ke fitrah, dan kehidupan setelahnya adalah ujian apakah latihan itu benar-benar membekas.

Fitrah tidak membutuhkan momen besar untuk hidup ia hanya membutuhkan konsistensi kecil yang dijaga.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.