POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Ruang Kepala Sekolah SMPN 1 Manggar tenang saat jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, Kamis (16/4/2026).
Di dalam ruangan yang sejuk itu, aroma kue ringan menemani obrolan singkat antara Posbelitung.co dan Kepala Sekolah, sembari menunggu kehadiran narasumber yang akan berbagi cerita sisi lain pengumuman SMA Unggul Garuda Baru.
Tak lama, Henny (52) seorang guru yang juga bertugas di sekolah tersebut melangkah masuk. Namun, Henny kali ini hadir sebagai sebagai seorang ibu.
Tak lama setelah Henny duduk, seorang remaja laki-laki menyusul masuk. Ia adalah Sandiaga Virsa (15), putra Henny yang menerima kabar beberapa hari lalu bahwa langkahnya terhenti di tahap seleksi administrasi rapor.
Ibu dan anak itu duduk bersebelahan di sofa ruang kepala sekolah. Virsa pun mulai bercerita.
Virsa mengaku perasaannya biasa saja saat melihat namanya tidak tercantum dalam daftar peserta yang lolos. Ia sudah memahami realita sejak awal.
"Sebenarnya biasa saja, karena dari awal kan sudah diberi tahu kalau persyaratannya nilai minimal harus 85. Jadi waktu lihat tidak lolos, ya sudah biasa saja," ujar Virsa.
Akan tetapi, Virsa tidak menampik ada keinginan untuk mengulang waktu jika bisa, terutama untuk memperbaiki nilai-nilai yang belum mencukupi standar sekolah unggulan tersebut.
Selama lima semester terakhir, Virsa mengaku sudah berupaya menjaga kualitas belajarnya. Ia bukanlah tipe siswa yang hanya mengandalkan buku, melainkan eksplorasi materi melalui video pelajaran juga.
Bagi Virsa, nilai rapor yang ia dapatkan sekarang sudah cukup menggambarkan kemampuannya.
"Saya sudah belajar seperti biasa, baca-baca, nonton video pelajaran, dan mencatat ulang. Nilai saya memang banyak yang tinggi juga, tapi ya memang ada yang belum mencukupi standar masuk ke Garuda," ucapnya.
Di sampingnya, sang ibu, Henny menyimak penjelasan putranya disertai tatapan bangga. Sebagai seorang ibu, Henny mengakui ada sedikit rasa kecewa yang terbersit di hatinya.
Harapan agar sang anak bisa menembus sekolah unggulan memang ada, namun Henny lebih memilih untuk bersikap realistis.
"Ada sedikit rasa kecewa, meskipun dari awal saya tahu ada satu mata pelajaran yang nilainya di bawah 85. Rasanya memang tidak mungkin lolos administrasi, walaupun di dalam hati tetap berharap," ungkap Henny.
Sejak hasil diumumkan, Henny terus menyemangati putranya. Ia mengatakan pendidikan bukan soal di mana tempatnya, melainkan bagaimana kemauan sang anak untuk berusaha memberikan yang terbaik di mana pun ia berada.
"Saya sampaikan ke anak, mungkin bukan rezeki kita. Tapi sekolah di mana saja itu sama saja, semua tergantung pada diri kita masing-masing," ujarnya.
Kini, Virsa dan ibunya sudah menetapkan tujuan baru. Tanpa perlu berlama-lama meratapi hasil, mereka sepakat SMA Negeri 1 Manggar menjadi pemberhentian berikutnya bagi Virsa untuk melanjutkan pendidikan.
"Untuk saat ini pilihannya ke SMA Negeri 1 Manggar. Karena menurut saya, saat ini itu jalan terbaik untuk melanjutkan ke SMA," ucap Virsa.
Bagi teman-temannya yang juga belum beruntung, Virsa menitipkan pesan. Ia percaya ilmu bisa didapatkan di mana saja, tidak terbatas pada tempat tertentu.
"Pokoknya semangat saja, jangan hilang harapan karena ilmu bisa didapat di mana saja," ungkapnya.
Obrolan diakhiri oleh doa dari sang ibu. Henny berharap kegagalan kecil ini justru menjadi pemantik semangat baru bagi Virsa agar lebih giat dan semangat dalam mencapai cita-citanya di masa depan.
"Harapannya semoga di tingkat SMA nanti, Virsa lebih giat lagi untuk mencapai cita-citanya. Amin ya rabbal alamin," tutup Henny.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)